Kepala BPS Jelaskan Desil Kesejahteraan dengan Analogi Ranking Siswa

- BPS menjelaskan desil kesejahteraan dihitung dari berbagai variabel, bukan hanya satu indikator.
- Amalia mengibaratkan desil seperti ranking siswa yang menilai prestasi dari sejumlah aspek.
- Polemik DTSEN mencuat setelah Eva Stevany Rataba disebut berubah dari desil 4 ke desil 10 usai pemutakhiran data.
Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan pengelompokan masyarakat berdasarkan desil kesejahteraan tidak ditentukan hanya dari satu indikator. Penilaian dilakukan menggunakan berbagai variabel atau indikator yang bersifat multidimensi dan datanya diperbarui melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
"Di-ranking dari urutan ranking 1 sampai 100. Berarti yang di-ranking 100 itu adalah dengan prestasi belajar yang paling rendah, ranking 1 yang paling tinggi," kata Amalia dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Sosial (Kemensos), Selasa (8/9/2026).
1. Desil dianalogikan seperti ranking siswa

Sambutan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, dalam malam penganugerahan Indeks Keinsinyuran Daerah (IKD) Tahun 2026 di Jakarta, Sabtu (30/8/2026). (IDN Times/Umi Jari Widayah) Amalia menggunakan sistem peringkat prestasi siswa untuk menjelaskan konsep desil kepada masyarakat. Menurut dia, penilaian siswa juga tidak hanya menggunakan satu ukuran, melainkan mempertimbangkan sejumlah aspek dalam melihat prestasinya.
"Segala macam itu adalah bagaimana guru menilai prestasi dari seorang anak," tambah dia.
2. Penilaian kesejahteraan bersifat multidimensi

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti. (Dok/Istimewa) Menurut Amalia, pemeringkatan tingkat kesejahteraan masyarakat dilakukan dengan pendekatan multidimensi. Artinya, posisi seseorang dalam desil dihitung berdasarkan berbagai variabel yang tersedia dalam DTSEN, bukan berdasarkan satu indikator tertentu.
"Makanya variabel-variabel yang dibutuhkan itu ada di dalam kanal DTSN meng-update semuanya," kata dia.
3. Data digunakan untuk menentukan posisi desil

Ilustrasi Pemutahiran DTSEN dan Desil (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Setelah berbagai variabel tersedia dan diperbarui, BPS melakukan pemeringkatan untuk menentukan posisi masyarakat dalam kelompok desil. Proses tersebut menggunakan data dari berbagai dimensi sebagai dasar pengelompokan tingkat kesejahteraan.
"Nanti kemudian dengan variabel multidimensi ini kita bisa peringkatkan dengan apa dengan cara adalah kita memperingkatkan tingkat kesejahteraan dari masyarakat itu berdasarkan variabel yang multidimensi," katanya.
Pembahasan mengenai desil kembali mencuat setelah muncul polemik terkait ketidaksesuaian kelompok kesejahteraan dalam DTSEN. Salah satunya menyangkut anggota DPR Fraksi NasDem Eva Stevany Rataba yang sebelumnya tercatat dalam desil 4, lalu setelah pemutakhiran data disebut masuk desil 10. Kemensos menyatakan perubahan tersebut merupakan bagian dari proses konsolidasi dan pemutakhiran data.





















