Menkes: Kusta Bukan Kutukan, Bisa Sembuh!

- Stigma membuat penderita takut melapor, informasi kunci untuk memutus stigma
- Indonesia akan mampu mengeliminasi kusta dengan komitmen yang kuat
- Kusta adalah penyakit menakutkan, penyebaran informasi sederhana penting untuk menghapus stigma
- Stigma membuat penderita takut melapor, pengobatan sering terlambat
- Indonesia akan mampu mengeliminasi kusta dengan komitmen yang kuat
- Penyebaran informasi penting untuk menghapus stigma bahwa kusta adalah penyakit menakutkan
Jakarta, IDN Times - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan kusta masih distigmatisasi akibat kurangnya informasi yang benar di masyarakat. Padahal, kusta bukan penyakit kutukan, melainkan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, sulit menular, memiliki tingkat fatalitas hampir nol, serta dapat disembuhkan.
“Kusta bukan kutukan. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, penularannya sangat sulit dan membutuhkan waktu lama. Yang terpenting, kusta sudah ada obatnya dan bisa sembuh,” ujar Menkes Budi dalam keterangan, Jumat (16/1/2026).
1. Stigma membuat penderita takut melapor

Ia menekankan stigma membuat penderita takut dan malu melapor sehingga pengobatan sering terlambat.
Menurutnya, pemberian informasi yang benar menjadi kunci untuk memutus stigma dan mempercepat penanganan kusta di masyarakat.
"Jumlah kasus yang terdeteksi setelah berbagai program dijalankan justru merupakan tanda positif. Hal tersebut menunjukkan semakin banyak penderita yang berani melapor dan mendapatkan pengobatan" ucapnya.
2. Indonesia akan mampu mengeliminasi kusta

Dalam kesempatan yang sama, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, menyampaikan optimismenya terhadap upaya Indonesia dalam menghapus kusta.
“Dengan komitmen yang sangat kuat ini, saya yakin Indonesia akan mampu mengeliminasi kusta,” ujar Sasakawa.
3. Penyebaran informasi pentung menyuarakan kusta adalah penyakit yang menakutkan

Sementara itu, Samsul, penyintas kusta sejak 1999, menceritakan pengalamannya menghadapi diskriminasi akibat kurangnya pengetahuan. Ia menilai penyebaran informasi yang sederhana dan mudah dipahami, khususnya kepada guru dan masyarakat umum, sangat penting untuk menghapus stigma bahwa kusta adalah penyakit yang menakutkan.
“Awalnya teman-teman menjauhi saya karena mereka tidak tahu. Tapi setelah saya jelaskan dan mereka melihat saya baik-baik saja, lama-kelamaan mereka bisa menerima dan berteman kembali, bahkan sampai saya kuliah,” ujar Syamsul.
Ia menilai penyebaran informasi yang sederhana dan mudah dipahami, khususnya kepada guru dan masyarakat umum, sangat penting untuk menghapus stigma bahwa kusta adalah penyakit yang menakutkan dan tidak dapat disembuhkan.

















