Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menko Djamari: Pemerintah Tak Larang Demo Asal Tidak Bersikap Anarkis

Menko Djamari: Pemerintah Tak Larang Demo Asal Tidak Bersikap Anarkis
Solidaritas mahasiswa lintas kampus yang menggelar Solidarity Campaign CFD pada Minggu, 28 Juni 2026. (Dokumentasi BEM UI)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Menko Polkam Djamari Chaniago menegaskan pemerintah tidak melarang demonstrasi dan menerima kritik publik, selama aksi berlangsung tertib tanpa perusakan fasilitas umum atau tindakan anarkis.
  • Djamari menyebut narasi demo besar yang akan ricuh pada Agustus sebagai hoaks; video beredar diduga rekaman lama, sementara Jakarta dan kota-kota besar diklaim aman serta kondusif.
  • Analisis Monash University Indonesia atas 34.935 unggahan X menemukan 99,46 persen berupa retweet, dengan pola sangat cepat yang mengindikasikan penggunaan otomatisasi untuk menaikkan percakapan narasi demo ricuh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago menegaskan, pemerintah tak melarang aksi demonstrasi digelar. Justru yang dilarang adalah aksi unjuk rasa yang berujung tindakan anarkis seperti perusakan fasilitas umum.

Ia mengklaim, pemerintahan Prabowo Subianto bersedia menerima kritik dari publik. Bahkan, Djamari mengutip kalimat Prabowo yang menyebut kritik dibutuhkan agar pemerintahan bisa berjalan lebih baik.

"Tidak ada larangannya aksi unjuk rasa. Unjuk rasa itu kan penyampaian aspirasi yang dilakukan oleh masyarakat. Tidak ada satu pun yang melarang untuk itu," ungkap Djamari ketika memberikan keterangan di kantor Kemenko Polkam, Jakarta Pusat, Rabu (5/8/2026).

"Yang dilarang atau tidak diharapkan adalah tindakan-tindakan anarkis. Kalau berunjuk rasa dengan tertib ketika menyampaikan kritik, (unjuk rasa boleh-boleh saja)," imbuhnya.

Pernyataan itu untuk merespons narasi di media sosial bahwa akan terjadi unjuk rasa besar-besaran pada Agustus yang diprediksi berujung ricuh. Tetapi, Djamari menegaskan narasi tersebut hoaks. Video-video yang diunggah untuk menguatkan narasi sudah terjadi unjuk rasa besar-besaran tidak menggambarkan realita yang sesungguhnya di lapangan.

1. Kondisi Jakarta dan kota-kota besar lainnya dalam keadaan kondusif

Djamari Chaniago, Menko Polkam
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago (kemeja putih, ketiga dari kiri) ketika memberikan keterangan pers. (IDN Times/Santi Dewi)

Lebih lanjut Purnawirawan Jenderal TNI Angkatan Darat (AD) ini mengklaim, kondisi Jakarta dan sejumlah kota besar di Tanah Air dalam keadaan kondusif di bulan Agustus 2026. Sebagai bukti, kata Djamari, ia dan sang istri merasa aman saat berbelanja di pusat perbelanjaan dan pasar tradisional. Dalam pandangannya, mobilitas warga Jakarta tergolong masih tinggi di tengah-tengah isu demonstrasi besar yang bakal ricuh.

"Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di daerah yang kami kunjungi dalam keadaan aman serta tenang. Semoga keadaan semacam ini bisa kita jaga bersama-sama. Bahkan, kadang saya juga berjalan bersama istri melihat ke pasar tradisional dan mal, aman-aman saja," kata Djamari.

Ia menambahkan, ketika berkunjung ke mal, Djamari kesulitan untuk mencari tempat parkir. "Artinya, mobilitas penduduk di Jakarta masih berjalan. Masyarakat kita masih berupaya untuk menghidupi dirinya dan saya bangga melihat kita semua," imbuhnya.

Djamari turut mendorong agar warga tetap menjaga komitmen dan tidak ikut menyebarluaskan konten yang membuat masyarakat semakin khawatir.

"Kami berharap semuanya mari kita jaga. Jangan memasukan konten-konten tertentu yang menyebabkan kekhawatiran masyarakat semakin tinggi," tutur dia.

2. Video demo besar di media sosial merupakan rekaman lama

disinformasi, demo
Salah satu unggahan yang memuat disinformasi mengenai aksi demo. (Tangkapan layar akun @dieddfish)

Djamari juga mengatakan, konten-konten yang beredar di media sosial yang menggambarkan aksi demonstrasi di sejumlah kota merupakan video lama. Saat ini belum ada aksi unjuk rasa skala besar yang berujung kericuhan. Purnawirawan jenderal di TNI Angkatan Darat (AD) itu menyebut, menyebar luasnya konten-konten tersebut di media sosial sudah menimbulkan kekhawatiran dan mengganggu masyarakat.

"Video (yang sekarang beredar) saya nyatakan tidak benar. Tidak ada di wilayah Indonesia, di Tanah Air kita hoaks semacam itu. Mungkin itu video lama, diambil pada masa lalu. Pada saat sekarang ini dan ke depan, tidak ada," katanya.

Ia pun memastikan aparat keamanan bekerja untuk memastikan situasi kondusif secara bersungguh-sungguh. Baik kepolisian, tentara hingga intelijen sudah memastikan informasi mengenai aksi demo berujung ricuh tidak ada.

"Sama sekali tidak kami temukan (adanya ancaman keamanan). Tapi, kami akan menjaga dan memastikan masyarakat kita dalam keadaan tenang, aman dan kondisi yang kondusif," tutur dia.

3. Riset Universitas Monash di Indonesia temukan narasi demo berujung ricuh dilakukan terorganisir

BEM UI, demo mahasiswa
Mahasiswa UI diadang TNI untuk bisa berunjuk rasa di Bunderan Hotel Indonesia (HI). (IDN Times/Santi Dewi)

Sementara, berdasarkan hasil analisa Monash University di Indonesia, akun-akun dengan unggahan narasi demo besar pada Agustus yang bakal berujung ricuh, bukan suatu kebetulan. Berdasarkan hasil analisis dari 34.935 unggahan di platform X, 99,46 persen merupakan retweet.

"Beberapa akun menunjukkan pola yang hampir mustahil dilakukan secara manual," kata akademisi di Monash University Indonesia, Ika Idris, ketika dihubungi IDN Times, Selasa (5/8/2026).

Ika menduga, ada penggunaan teknologi tambahan untuk mengunggah konten-konten dengan narasi serupa itu diperkuat dari pola sejumlah akun menampilkan postingan.

"Sebuah akun misalnya, melakukan sembilan retweet berbeda dalam waktu sekitar 105 milidetik. Sejumlah akun lainnya juga melakukan beberapa retweet dengan jeda kurang dari satu detik. Pola ini mengindikasikan penggunaan skrip, aplikasi otomatis atau mekanisme bulk retweet yang tujuannya memang untuk menaikan engagement percakapan," kata dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More