Pramono Siapkan 14 Bus Transjabodetabek Blok M Soetta Hadapi Lebaran

- Pemerintah DKI Jakarta menyiapkan 14 armada Transjabodetabek rute Blok M–Bandara Soetta dengan waktu tunggu 10–20 menit untuk menghadapi lonjakan penumpang saat Lebaran.
- Layanan baru Transjabodetabek Blok M–Soetta resmi diluncurkan pada Kamis, 12 Maret 2026, dengan tarif tetap sebesar Rp3.500 per perjalanan.
- Pramono berharap layanan ini dapat mengurangi kemacetan karena mayoritas pengguna Bandara Soetta masih memakai kendaraan pribadi untuk bepergian.
Jakarta, IDN Times - Gubernur DKI Jakarta menyiapkan 14 armada untuk menghadapi lonjakan arus mudik di rute Transjabodetabek terbaru yang menghubungkan Blok M dengan Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) pada Kamis (12/3/2026).
"Untuk armada yang kita persiapkan ada 14 armada dengan waktu tunggu antara 10 sampai 20 menit," ucap Pramono di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
1. Tarif rute masih Rp3.500

Dia menjelaskan, tarif layanan Transjabodetabek pada rute tersebut dipatok sebesar Rp3.500. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga akan terus melakukan evaluasi apabila permintaan penumpang meningkat.
"Tarifnya seperti yang saya sampaikan adalah Rp3.500. Tentunya kami akan mengevaluasi kalau kemudian ada permintaan yang cukup tinggi seperti yang terjadi di PIK 2, kemudian ke Bogor dan sebagainya. Mudah-mudahan armadanya ini sanggup dan siap," katanya
2. Rute Transjabodetabek Blok M- Soetta diluncurkan hari ini

Rute baru layanan Transjabodetabek yang menghubungkan Blok M dengan Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) sudah diluncurkan pada Kamis (12/3/2026).
"Hari ini, kita memulai sesuatu yang baru, yang ditunggu oleh masyarakat yaitu untuk meresmikan layanan Transjabodetabek SH2 Blok M-Bandara Soekarno-Hatta," kata Pramono saat meresmikan di Terminal Blok M, Jakarta Selatan.
3. Diharapkan bisa kurangi kemacetan

Pramono menjelaskan, selama ini 70-80 persen masyarakat yang berpergian melalui Bandara Soetta menggunakan kendaraan pribadi. Kehadiran Transjabodetabek Blok M-Bandara Soekarno-Hatta ini diharapkan bisa menekan tingkat kemacetan.
"Berdasarkan data di lapangan, yang menggunakan bandara kurang lebih 54,9 juta setiap tahunnya. Sehingga jika 70-80 persen dari 54,9 juta orang menggunakan kendaraan pribadi pasti menambah beban traffic jam," ujar Pramono.













