Sustainabilitas Luncurkan TLFF, Platform Pembiayaan Ekonomi Hijau-Iklim

Sustainabilitas meluncurkan kembali Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF) untuk mendukung target iklim dan pembangunan berkelanjutan melalui pembiayaan serta edukasi ekonomi hijau di Indonesia.
TLFF beroperasi di bawah pusat kajian Sustainabilitas di Dukuh Atas, Jakarta, sebagai pusat kolaborasi kebijakan, kemitraan bisnis, dan pemberdayaan komunitas menuju gaya hidup urban berkelanjutan.
Reaktivasi TLFF diarahkan untuk mempercepat pencapaian target Net Zero Emission Indonesia dengan memanfaatkan potensi karbon nasional dan memperkuat kerja sama lintas sektor demi pertumbuhan ekonomi hijau yang inklusif.
Jakarta, IDN Times - Pusat kajian Sustainabilitas di bawah Universitas Harkat Negeri resmi meluncurkan kembali Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF) di Jakarta pada Selasa, 7 April 2026. Langkah ini bertujuan untuk mendukung target iklim dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia, melalui platform pembiayaan serta edukasi ekonomi hijau.
Reaktivasi lembaga ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepakatan antara Direktur Sustainabilitas, William Sabandar, dan Sekjen Global Alliance for a Sustainable Planet, Satya Tripathi.
"Saya percaya pada kolaborasi dan institusi. Ide hanya akan memiliki dampak nyata bila diwadahi oleh institusi. Institusi akan melahirkan leadership, policy, dan actions. Institusilah yang akan sustain-lestari, bahkan ketika para penggagasnya sudah tidak ada lagi," ujar Rektor Universitas Harkat Negeri yang juga mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, dalam keterangan pers, Kamis (9/4/2026).
1. Sejarah dan rekam jejak TLFF dalam ekonomi hijau

TLFF pertama kali dibentuk pada 2016 sebagai sebuah platform pembiayaan campuran (blended finance). Lembaga ini merupakan hasil kolaborasi dari berbagai organisasi internasional seperti UN Environment Program (UNEP) dan World Agroforestry (ICRAF), bersama para pelaku industri keuangan.
Fokus utama TLFF adalah menyalurkan pendanaan swasta jangka panjang dalam bentuk pinjaman, dana hibah, maupun bantuan teknis untuk proyek yang mendukung pertanian berkelanjutan dan energi terbarukan di Indonesia.
Pendirian badan ini pada masa lalu turut dibidani tokoh nasional, almarhum Kuntoro Mangkusubroto, yang pernah menjabat sebagai Menteri ESDM serta Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4).
Kehadiran TLFF bertujuan untuk menekan angka deforestasi sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi hijau di wilayah pedesaan. Melalui skema pendanaan ini, diharapkan kualitas hidup masyarakat di sekitar lanskap tropis dapat mengalami peningkatan, seiring dengan pelestarian ekosistem.
2. Operasional dan fungsi strategis pusat kajian Sustainabilitas

Lebih lanjut, operasional TLFF kini berada di bawah payung pusat kerja dan kajian Sustainabilitas yang berlokasi di Transport Hub Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Pemilihan lokasi di pusat integrasi transportasi umum ini disebut sebagai upaya mendorong pergeseran gaya hidup urban yang lebih berkelanjutan.
Dengan berkantor di hub transportasi, terdapat pesan mengenai reduksi pemakaian kendaraan pribadi, demi mendukung keberlanjutan lingkungan.
Direktur Sustainabilitas, William Sabandar, menjelaskan kantor tersebut berfungsi sebagai pusat perumusan rekomendasi kebijakan dan pemetaan potensi penanganan masalah lingkungan. Di lokasi ini, dilakukan berbagai kegiatan, mulai dari pengembangan kemitraan dengan investor, pelaku bisnis, hingga inisiator proyek lingkungan.
Selain di Jakarta, kegiatan pemberdayaan komunitas dan masyarakat juga direncanakan akan mencakup wilayah lain seperti di Tegal, Jawa Tengah.
3. Target dan kontribusi terhadap pencapaian net zero emission

Sementara, reaktivasi platform ini dinilai memiliki relevansi kuat dengan target Net Zero Emission Indonesia pada 2030 dan 2060. Sekjen Global Alliance for a Sustainable Planet, Satya Tripathi, menyampaikan kondisi kebijakan dan strategi nasional saat ini jauh lebih siap dibandingkan satu dekade lalu.
Indonesia, kata dia, dipandang memiliki modal besar berupa cadangan karbon yang mencapai 600 juta ton, yang menjadi peluang strategis bagi platform pembiayaan seperti TLFF.
"Jika ini dilakukan mulai sekarang, keadilan bagi semua tidak hanya pada masyarakat Indonesia, tapi juga bagi kehidupan ekologinya,” kata Satya.
Kemudian, hasil diskusi yang dihadiri sekitar 50 penggerak isu lingkungan ini akan menjadi landasan bagi langkah nyata dalam memulihkan ekologi dan ekosistem secara langsung. Penataan kerja sama lintas sektor ditekankan untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi hijau memberikan manfaat yang adil bagi seluruh rakyat.
Fokus utama dari sinergi ini adalah mencapai target iklim global, sembari tetap mendorong kemakmuran ekonomi yang berbasis pada prinsip keberlanjutan lingkungan.

















