"Kami tetap mengingat prinsip 'solus populi suorema esto' yang bermakna keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Prinsip itu menjadi pedoman dan keutamaan bagi kami bila menghadapi situasi genting di Tanah Air," kata Lucky.
TNI Ungkap OPM Botak Wanimbo Dalang Penembakan Pekerja di Tolikara

- TNI menyebut OPM pimpinan Botak Wanimbo dalang penembakan kamp pekerja proyek jalan di Distrik Kanggime, Tolikara, yang menewaskan lima pekerja PT Sutan Harauli Jaya.
- Saat evakuasi, TNI menemukan tujuh pekerja selamat dan mengejar dua anggota OPM bersenjata SS1; satu lade senapan SS1 ditinggalkan pelaku saat melarikan diri.
- Pangkogabwilhan III menegaskan TNI akan bertindak tegas dan terukur sesuai hukum serta HAM, sambil mengultimatum anggota OPM untuk menyerahkan diri dan senjata.
Jakarta, IDN Times - Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto mengungkap OPM yang menjadi dalang pembunuhan lima pekerja pembangunan jalan di Tolikara adalah OPM pimpinan Botak Wanimbo. TNI pun sudah melakukan pengejaran sejak Senin, 3 Agustus 2026 ketika mengevakuasi jenazah korban penembakan. TNI, kata Lucky mengerahkan 20 personel satgas TNI Habema untuk mengevakuasi korban tewas.
"Personel TNI sempat melihat dan langsung mengejar dua anggota OPM pimpinan Botak Wanimbo yang menenteng senapan serbu otomatis jenis SS1 di sekitar lokasi. Karena ketakutan dan buru-buru, mereka melarikan diri ke dalam rimba. Salah seorang anggota OPM meninggalkan satu lade senapan serbu SS1 miliknya," ungkap Lucky di dalam keterangan yang dikutip pada Selasa (4/8/2026).
Jenderal bintang tiga itu menambahkan satgas TNI berhasil menemukan tujuh pekerja yang selamat. Sedangkan, lima korban tewas berhasil dievakuasi ke RSUD Mulia Kabupaten Puncak Jaya.
Korban tewas dan selamat bekerja di PT Sutan Harauli Jaya. Ketika mereka ditembaki oleh OPM pada Minggu, 2 Agustus 2026 lalu, mereka sedang beristirahat di dalam kamp milik perusahaan.
"Mereka sedang mengerjakan pekerjaan jalan dari Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Wamena unit pelaksana teknis di bawah direktorat jenderal bina marga kementerian di Distrik Kanggime, Kabupaten Tolikara," tutur dia.
1. OPM menyerang kamp pekerja di saat mereka beristirahat

Lebih lanjut, Lucky menjelaskan insiden pembunuhan itu berawal ketika dua kelompok OPM tiba-tiba muncul pada Minggu, 2 Agustus 2026 dan menyerang kamp pekerja pada malam hari. Mereka langsung menyerang dan menghujani kamp dengan peluru tajam.
"Tiga orang tewas di tempat dan satu lagi tewas tak jauh dari lokasi camp," ungkap Lucky.
Belakangan jumlah korban tewas yang ditemukan mencapai lima orang. Mereka diketahui memiliki identitas Barengga, Alfods, Arman Sibarani dan Erlin Aritonang. Dua identitas pertama berasal dari suku Papua. Dua lainnya berasal dari Sumatra Utara. Sedangkan, korban kelima masih ditelusuri identitasnya.
"Mereka dibunuh ketika tengah mencari nafkah di PT Sutan Harauli Jaya bagi keluarganya. Mereka dibunuh secara sadis," katanya.
Ketika satgas TNI Habema melakukan pengejaran terhadap pelaku, terdengar enam kali suara tembakan yang diletuskan oleh OPM. Jaraknya 1,5 kilometer dari lokasi pembunuhan.
"Pasukan TNI kemudian mempercepat pergerakannya untuk memburu para pelaku agar mereka dapat mempertanggung jawabkan kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan ini," tutur dia.
2. TNI tidak akan ragu untuk ambil tindakan tegas terhadap OPM

Panglima Kogabwilhan III, Letjen TNI Lucky Avianto mengatakan tidak akan ragu sedikit pun untuk bertindak tegas terhadap OPM. Meskipun, ia menggarisbawahi tindakan tegas itu tetap terukur ketika berhadapan dalam situasi mendesak.
Ia menambahkan TNI dalam bertugas juga mematuhi Rules of Engagement untuk memastikan seluruh tindakan personel TNI tetap menjunjung tinggi hukum dan HAM.
3. TNI ultimatum OPM agar menyerah dan kembali ke Indonesia

Ia juga mengultimatum agar semua anggota OPM menghentikan seluruh aksi teror dan kejahatan kemanusiaan di Papua. "Segera menyerahkan diri dan senjata ke pos keamanan TNI terdekat dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi sebelum TNI mengambil tindakan tegas," kata Lucky.
Ia menambahkan bagi TNI hanya masalah waktu untuk menangkap semua anggota OPM. Apalagi masyarakat diklaim mendukung TNI. Sinergitas antara militer dan masyarakat, kata Lucky, sangat erat.
"You can run, but you can't hide. OPM pasti akan kami tangkap," tutur dia.
Jatuhnya korban akibat tindak kekerasan menambah panjang individu yang meninggal di Papua. Sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mencatat, sebanyak 59 orang tewas akibat eskalasi konflik dan kekerasan bersenjata di Papua sepanjang Januari hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 43 korban di antaranya merupakan warga sipil.




















