“Sudah mulai berangkat ke Ibu Kota, merapat untuk maju, tegakkan keadilan, semangat rakyat Indonesia. Tunggu kami di Jakarta, gebrak pengkhianat bangsa ini,” tulis akun tersebut.
Video Viral Rombongan Bus ke Jakarta Jelang 27 Agustus, Polri: Video Lama

- Video bus yang disebut bergerak ke Jakarta menjelang 27 Agustus viral melalui unggahan di Threads.
- Polri menyatakan cuplikan bus tersebut merupakan video lama dengan narasi yang tidak benar.
- Polri mengimbau masyarakat memeriksa sumber, waktu, lokasi, dan konteks sebelum menyebarkan informasi digital.
Jakarta, IDN Times - Video iring-iringan bus dengan narasi bergerak ke Jakarta menjelang 27 Agustus viral di media sosial. Salah satunya diunggah akun @official007news di media sosial Threads.
Akun tersebut mengunggah video memperlihatkan beberapa bus yang melintas dengan narasi di antaranya terdapat 50 bus dari Pati, 50 bus dari Semarang dan 25 bus dari Demak.
Lalu apakah video itu benar adanya?
1. Polri pastikan video rombongan bus video lama

Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menggelar aksi damai di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Kepala Induk Patroli Jalan Raya (PJR) Cikampek Korlantas Polri Kompol Sandy Titah Nugraha mengatakan, pihaknya telah memonitor informasi yang viral di media sosial. Ia melihat adanya konten-konten yang menyebut ratusan bus telah bergerak dari berbagai daerah menuju Jakarta untuk aksi pada 27 Agustus 2026.
“Padahal cuplikan video yang beredar adalah video-video lama yang di bumbui narasi tidak benar, karena kami memantau secara langsung arus lalulintas di ruas tol dan tidak terlihat rangkaian-rangkaian bus tersebut,” ujar Sandy dalam keterangan tertulisnya, Rabu (26/8/2026).
2. Polri pastikan tak ada pergerakan massa menuju Jakarta untuk aksi demo besok

Massa BEM UI dihadang aparat kepolisian saat hendak menggelar demo ke Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Sandy menjelaskan, video lama itu merupakan rombongan bus patiwisata dengan kegiatan lain. Kemudian rombongan bus lainnya dalam aksi buruh nasional pada 2025.
“Tidak relate dengan aksi masa besok,” ujarnya.
Ia memastikan, hingga saat ini arus lalu lintas menuju Jakarta masih kondusif dan cenderung ramai lancar. Setta tidak ada tidak ada aktivitas pergerakan massa seperti yang beredar di media sosial.
“Cenderung aktivitas masyarakat menuju kantor normal. Kalau kemarin masyarakat yang libur wisata liburan nasional, kalau hari ini lalu lintas normal saja, aktivitas seperti biasa, tidak ada yang menonjol,” ujarnya.
3. Polri imbau masyarakat cermat bermedia sosial

Personel Polisi-Marinir Siaga Jelang Demo BEM UI di Bundaran HI. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir mengajak masyarakat untuk semakin cermat dalam menerima dan menyebarkan informasi di ruang digital. Masyarakat diimbau tidak hanya melihat isi atau banyaknya unggahan, tetapi juga memastikan sumber, waktu, lokasi, serta konteks informasi sebelum mempercayainya.
Ajakan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran dan literasi digital masyarakat di tengah cepatnya arus informasi di media sosial. Berbagai konten lama dapat kembali beredar dan digunakan dalam konteks yang berbeda, sehingga berpotensi menimbulkan pemahaman yang tidak sesuai dengan fakta.
Isir mengatakan, masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga ruang digital agar tetap sehat dengan tidak terburu-buru membagikan informasi yang belum terverifikasi.
“Di tengah derasnya arus informasi saat ini, kita perlu membiasakan diri untuk tidak langsung percaya atau menyebarkan sebuah konten. Lihat sumbernya, cek waktunya, cek konteksnya, dan lakukan cross-check dengan informasi dari sumber yang dapat dipercaya,” ujar Isir dalam keterangan tertulisnya.
Isir menuturkan, salah satu pola yang perlu menjadi perhatian adalah beredarnya kembali konten atau video lama yang kemudian disertai narasi baru. Dalam sejumlah penelusuran, terdapat video yang sebelumnya telah beredar pada 2025 dan kembali muncul dalam unggahan dengan konteks yang berbeda pada 2026.
Menurutnya, kemunculan kembali konten lama tidak serta-merta berarti seluruh informasi yang menyertainya tidak benar. Namun, perubahan konteks dan keterangan pada sebuah konten perlu dicermati agar masyarakat tidak mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Konten lama bisa saja kembali muncul dalam situasi yang berbeda. Karena itu, yang perlu kita pastikan bukan hanya apakah videonya nyata, tetapi juga apakah waktu, lokasi dan narasi yang menyertainya sesuai dengan kondisi sebenarnya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan banyaknya akun yang mengunggah informasi serupa tidak selalu menjadi ukuran bahwa informasi tersebut telah terkonfirmasi. Replikasi sebuah konten dapat membuat informasi terlihat semakin luas, meskipun sumber dan kebenarannya belum jelas.
“Jangan menjadikan jumlah repost sebagai ukuran kebenaran. Semakin banyak informasi yang kita terima, justru semakin penting bagi kita untuk melakukan cek dan cross-check,” kata Isir.
Polri mendorong masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas serta memberikan ruang bagi proses verifikasi sebelum mengambil kesimpulan maupun menyebarkannya kepada orang lain.
“Ruang digital adalah ruang kita bersama. Mari kita jaga dengan menjadi pengguna media sosial yang cerdas, kritis dan bertanggung jawab. Saring sebelum sharing, karena satu informasi yang kita bagikan dapat diteruskan kepada banyak orang,” kata dia.





















