Waspada Influenza Bukan Selesma, Bisa Picu Komplikasi Serius

- Para pakar menegaskan influenza bukan sekadar selesma karena dapat memicu demam tinggi, sakit kepala, dan komplikasi berat seperti pneumonia serta gangguan kardiovaskular pada dewasa dan lansia.
- Vaksinasi influenza tahunan disebut sebagai langkah pencegahan utama, dengan penyesuaian dari vaksin quadrivalent ke trivalent mengikuti perkembangan epidemiologi global sesuai rekomendasi WHO.
- Banyak masyarakat masih menganggap influenza tidak serius, padahal vaksinasi rutin penting terutama bagi kelompok berisiko dan sebelum bepergian ke wilayah dengan potensi paparan virus tinggi.
Jakarta, IDN Times - Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI) Iris Rengganis mengungkapkan, influenza berkontribusi terhadap tingginya angka rawat inap dan penurunan produktivitas pada usia dewasa.
Selain itu, Iris mengungkapkan, influenza juga bisa meningkatkan risiko penyakit berat lainnya (komplikasi) pada individu lansia serta mereka yang memiliki komorbid.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa influenza perlu dipandang sebagai ancaman kesehatan serius, apalagi influenza merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang menular," ucap Iris di Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).
1. Influenza bukan selesma

Dia menerangkan, influenza bukan selesma (common cold). Pada pasien common cold, jarang terjadi deman dan sakit kepala. Sedangkan pada pasien influenza, sering kali demam tinggi secara tiba-tiba yang biasanya berakhir dalam 3 sampai 4 hari dan sering kali pasien mengalami sakit kepala.
"Kemudian, pada kelompok dewasa dan lansia, influenza dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, perburukan penyakit kronis, bahkan kejadian kardiovaskular akut,” katanya.
2. vaksinasi influenza tahunan merupakan tindakan pencegahan

Dia menegaskan, vaksinasi influenza tahunan merupakan tindakan pencegahan utama untuk mengurangi kasus kematian dan rawat inap yang disebabkan virus influenza.
Sisi lain, para ahli kesehatan global, termasuk WHO, tidak lagi mendeteksi sirkulasi virus B/Yamagata sejak tahun 2020, sehingga mendorong penyesuaian komposisi vaksin. Dalam hal ini, influenza quadrivalent (QIV) menjadi vaksin influenza trivalent (TIV).
“Transisi dari vaksin quadrivalent ke trivalent merupakan bentuk penyesuaian ilmiah terhadap perkembangan epidemiologi virus influenza global. Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap perubahan komposisi vaksin. Hal yang terpenting adalah cakupan vaksinasi terus meningkat,” jelas Iris.
3. Masyarakat anggap influenza bukan penyakit serius

Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI, Sukamto menyampaikan, peningkatan cakupan vaksinasi influenza perlu didukung oleh pemahaman masyarakat yang lebih baik.
Faktanya, banyak masyarakat yang menunda vaksinasi karena menganggap influenza bukan penyakit serius. Padahal, bagi kelompok berisiko, vaksinasi dapat membantu mencegah komplikasi yang serius.
"Selain rutin dilakukan setiap tahun, vaksin influenza juga sebaiknya dilakukan dua minggu sebelum seseorang bepergian atau traveling ke wilayah yang berisiko seperti negara empat musim. Sebab, aktivitas traveling meningkatkan risiko paparan virus akibat interaksi di area publik," katanya.
Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, Vidi Agiorno menilai, influenza dapat berdampak serius, khususnya pada dewasa dengan penyakit penyerta dan kelompok lansia.
"Vaksinasi adalah langkah perlindungan yang penting untuk mencegah komplikasi serta menekan risiko rawat inap. Kami berkomitmen untuk memberikan edukasi kesehatan yang relevan bagi masyarakat dan menghadirkan vaksin influenza trivalent yang selaras dengan rekomendasi WHO,” ujarnya.

















