Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Fakta Teror Pengepungan Pemukim Israel di West Bank Dikecam US

4 Fakta Teror Pengepungan Pemukim Israel di West Bank Dikecam US
ilustrasi bendera Palestina (pexels.com/Hosny salah)
  • Pemukim ekstremis Israel mengepung tiga rumah warga Palestina di Desa Qusra sejak 9 Agustus 2026, melempari batu, merusak dinding, serta memutus listrik dan air.
  • Ambulans sempat dihalangi saat balita dua tahun mengalami demam tinggi dan muntah; anak-anak serta ibu dievakuasi 11 Agustus, sementara anggota keluarga lain tetap menjaga rumah.
  • Duta Besar AS Mike Huckabee mengecam intimidasi tersebut, sementara militer Israel membongkar kemah penyerang dan memanggil batalion cadangan infanteri untuk mengamankan West Bank.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Aksi anarki pemukim ilegal Israel kembali menyulut gejolak di kawasan West Bank sejak Minggu (9/8/2026). Sejumlah pemukim ekstremis mengepung rumah-rumah warga Palestina di Desa Qusra dan memutus pasokan kebutuhan dasar. Tindakan brutal ini memaksa keluarga setempat terisolasi di dalam rumah tanpa aliran listrik dan air bersih.

Eskalasi kekerasan tersebut mendapat kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, pada Kamis (13/8/2026). Pihak militer Israel juga mulai mengerahkan batalion tambahan untuk meredam konflik yang mengancam keselamatan warga sipil. Peristiwa ini memicu keprihatinan internasional atas situasi kemanusiaan yang kian memburuk.

  1. 1. Pengepungan berlangsung beberapa hari di Desa Qusra

    West Bank
    West Bank (Travel 2 Palestine, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

    Aksi intimidasi tersebut menyasar tiga rumah warga lokal di Desa Qusra yang terletak di wilayah West Bank. Salah satu hunian yang menjadi sasaran aksi merupakan milik warga Palestina berstatus warga negara Amerika Serikat, Loui Ridi. Kelompok pemukim berkumpul di sekitar pemukiman sejak Minggu (9/8/2026) untuk menghalangi penghuni keluar rumah.

    Dilansir AP News, para pelaku melemparkan batu dan merusak dinding batu di sekitar pemukiman warga. Mereka dengan sengaja memutus aliran listrik serta jalur pasokan air bersih agar penghuni kelaparan. Situasi mencekam ini membuat stok makanan dan minuman keluarga terperangkap kian menipis setiap hari.

  2. 2. Akses bantuan medis dan ambulans sempat terhalang

    ilustrasi kotak pertolongan pertama
    ilustrasi kotak pertolongan pertama (pexels.com/Roger Brown)

    Kondisi di dalam rumah yang terkepung kian kritis saat seorang balita berusia dua tahun mengalami demam tinggi dan muntah-muntah pada Senin (10/8/2026). Anak dari warga bernama Yousef Hassan tersebut membutuhkan pertolongan medis darurat dengan segera. Namun, rombongan pemukim ekstremis justru menghadang ambulans yang hendak mendekati lokasi kejadian.

    Anak-anak dan ibu mereka akhirnya baru bisa dievakuasi dari area konflik pada Selasa (11/8/2026) setelah situasi memanas. Petugas medis memasok sedikit air minum dan makanan kemasan untuk keluarga yang masih bertahan di dalam bangunan. Namun, para pria dewasa serta anggota keluarga lainnya tetap berada di dalam rumah untuk menjaga aset mereka.

  3. 3. Duta Besar AS mengecam aksi teror para pemukim

    Mike Huckabee
    Mike Huckabee (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

    Meningkatnya aksi kekerasan ini memicu reaksi keras dari diplomat tingkat tinggi Amerika Serikat di kawasan tersebut. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, melayangkan kritik tajam melalui media sosial atas aksi main hakim sendiri itu pada Kamis (13/8/2026). Sikap tegas ini terbilang langka mengingat sikap politiknya yang selama ini dikenal mendukung pemukiman.

    Dilansir Al Arabiya, pimpinan diplomatik itu menilai tindakan pengisolasian tersebut tidak memiliki alasan yang sah. "Tindakan dari mereka yang melakukan aksi teror mengerikan ini untuk mengintimidasi dan mengganggu keluarga ini sangat menjijikkan," tegas Mike Huckabee. Pernyataan tersebut menandai desakan kuat pemerintah Amerika Serikat agar otoritas keamanan setempat bertindak tegas.

  4. 4. Militer Israel panggil pasukan cadangan untuk siaga

    ilustrasi tentara
    ilustrasi tentara (pexels.com/Pixabay)

    Komandan pasukan militer Israel di kawasan West Bank, Jenderal Avi Bluth, sempat mendatangi lokasi pengepungan pada Rabu (12/8/2026). Kedatangan pejabat militer tersebut bertujuan menenangkan warga dan berjanji akan membubarkan kerumunan massa pemukim. Petugas sempat membongkar kemah penyerang, tetapi kelompok ekstremis masih bertahan di luar halaman rumah.

    Pimpinan Staf Umum militer Israel, Eyal Zamir, kemudian menggelar rapat darurat bersama jajaran pimpinan keamanan pada Rabu (12/8/2026) malam. Pihaknya memutuskan untuk memanggil batalion cadangan infanteri guna mengamankan stabilitas wilayah yang bergolak tersebut. Pasukan tambahan diarahkan untuk mencegah gesekan susulan serta menindak pihak yang memicu kerusuhan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More