Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

AS Kembali Tawarkan Bantuan ke Kuba dengan Syarat Reformasi

AS Kembali Tawarkan Bantuan ke Kuba dengan Syarat Reformasi
ilustrasi unjuk rasa di Kuba. (unsplash.com/Ricardo IV Tamayo)
Intinya Sih
  • Amerika Serikat menawarkan bantuan kemanusiaan senilai 100 juta dolar AS kepada Kuba dengan syarat reformasi politik, di tengah krisis energi yang melanda negara tersebut.
  • Pemerintah Kuba membantah adanya tawaran bantuan dari AS dan menuduh Washington menyebarkan kebohongan serta memperburuk situasi melalui blokade energi.
  • Krisis energi parah membuat Havana lumpuh, dengan pemadaman listrik panjang hingga 22 jam per hari dan gangguan besar pada layanan publik seperti rumah sakit serta sekolah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS), pada Rabu (13/5/2026), kembali menawarkan bantuan kemanusiaan sebesar 100 juta dolar AS (sekitar Rp1,7 triliun) kepada Kuba di tengah krisis energi. Tawaran ini mensyaratkan pemerintah komunis Kuba untuk melakukan reformasi yang bermakna.

Bantuan rencananya akan disalurkan melalui organisasi independen seperti Gereja Katolik. Departemen Luar Negeri AS menyatakan keputusan akhir kini berada di tangan rezim Kuba.

1. AS desak reformasi sistem komunis Kuba

sudut Kota Havana, Kuba
sudut Kota Havana, Kuba (unsplash.com/JF Martin)

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menyatakan pihaknya terus mengupayakan perubahan sistem di Kuba. Pemerintah AS menilai sistem komunis tersebut hanya menguntungkan kelompok elite dan memiskinkan rakyat.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya telah mengajukan sejumlah tawaran tertutup kepada pemerintah Kuba. Tawaran tersebut mencakup akses internet satelit gratis dan bantuan kemanusiaan langsung.

"Keputusan ada di tangan rezim Kuba untuk menerima tawaran bantuan kami atau menolak bantuan penyelamat nyawa yang kritis. Mereka pada akhirnya harus bertanggung jawab kepada rakyat Kuba karena menghalangi bantuan penting," kata Tommy, dilansir Anadolu Agency.

2. Kuba bantah ada tawaran bantuan dari AS

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel (Kremlin.ru, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons)

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez Parrilla membantah adanya tawaran bantuan dari AS. Melalui media sosial X, ia menyebut klaim tersebut sebagai sebuah kebohongan atau dongeng belaka.

"Apakah ini akan menjadi sumbangan, tipuan, atau kesepakatan kotor untuk membatasi kemerdekaan kita? Bukankah lebih mudah untuk mencabut blokade bahan bakar?" ujar Rodriguez, dilansir The Straits Times.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel turut mengecam kebijakan AS yang memperburuk kondisi negaranya. Ia menuding blokade energi AS sengaja dirancang untuk membuat seluruh penduduk Kuba menderita.

3. Krisis energi parah lumpuhkan Havana

ilustrasi kapal tanker
ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Marcus Dall Col)

Kuba saat ini tengah menghadapi krisis energi terburuk akibat blokade pasokan minyak oleh AS. Pemadaman listrik berkepanjangan melanda berbagai wilayah hingga memicu aksi protes sporadis di Havana.

Negara kepulauan tersebut mengandalkan impor karena hanya memproduksi 40 persen kebutuhan minyaknya secara domestik. Pasokan bahan bakar dari sekutu seperti Venezuela terhenti setelah AS memblokir akses pengiriman.

Layanan publik esensial seperti rumah sakit dan sekolah tidak dapat beroperasi normal akibat krisis ini. Penduduk di beberapa bagian ibu kota bahkan harus hidup tanpa listrik selama 20 hingga 22 jam sehari.

"Kami sudah kehabisan stok minyak mentah dan diesel. Satu-satunya yang kami miliki hanyalah gas dari sumur kami," tutur Menteri Energi Kuba Vicente de la O Levy, dilansir BBC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Related Articles

See More