AS Tangkap Seorang Wanita di New York, Diduga Hendak Bom Gedung Capitol

- FBI menangkap Jessica Bowie, warga Albany berusia 35 tahun, atas tuduhan terorisme federal setelah diduga merencanakan pengeboman Gedung Capitol Negara Bagian New York dan membunuh legislator.
- Bowie diduga menyatakan kesetiaan kepada ISIS, membeli bahan peledak melalui operasi penyamaran, serta beberapa kali mensurvei Capitol sambil mempertimbangkan penembakan terhadap aparat keamanan.
- Dokumen perkara menyebut Bowie berencana kabur ke Suriah dan terbuka melakukan serangan lanjutan; penggunaan informan dalam kasus terorisme juga dikritik kelompok HAM sebagai praktik jebakan.
Jakarta, IDN Times – Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat (AS) mengatakan telah menggagalkan rencana serangan yang bertujuan membunuh para anggota legislatif di Gedung Capitol Negara Bagian New York. Pada Kamis (20/8/2026), Departemen Kehakiman mengumumkan penangkapan seorang wanita bernama Jessica Bowie atas tuduhan terorisme tingkat federal.
Asisten Jaksa Agung untuk Keamanan Nasional, John A. Eisenberg, mengatakan bahwa para penyelidik telah menghentikan Bowie sebelum melancarkan rencananya untuk menebar teror di ibu kota. Dia menambahkan bahwa penyelidik meyakini Bowie berencana menghancurkan sebagian besar Gedung Capitol negara bagian tersebut sebelum melarikan diri ke Suriah.
Dilansir Al Jazeera, Bowie dituduh memperoleh bahan peledak setelah menyatakan kesetiaan kepada ISIS. Wanita berusia 35 tahun itu didakwa memberikan dukungan materiil kepada kelompok tersebut. Sejak 2004, AS telah menetapkan ISIS sebagai organisasi teroris asing.
Seorang agen khusus FBI menjelaskan bahwa Bowie, yang merupakan warga Albany, adalah pengguna aktif media sosial yang membuat belasan akun untuk menyuarakan dukungan terhadap terorisme. Menurut dokumen dakwaan, salah satu unggahannya memuat pesan rasa syukur atas peristiwa 11 September yang merujuk pada serangan mematikan tahun 2001 di AS.
1. FBI lakukan operasi penyamaran untuk mengawasi Bowie
.jpg)
ilustrasi bendera AS (pexels.com/Brett Sayles) Menurut dokumen perkara, Bowie telah berada dalam pengawasan selama lebih dari sebulan saat berkomunikasi dengan setidaknya satu informan rahasia yang menyamar sebagai fasilitator ISIS. Bowie diduga mengirim pesan kepada informan tersebut untuk meminta bantuan merakit bom. Dia menyebut Gedung Capitol negara bagian sebagai target sasarannya.
Salah satu informan yang berkomunikasi dengan Bowie memberikan uang kepada wanita itu untuk membeli bahan-bahan pembuat bom di toko perlengkapan bangunan Home Depot. Informan rahasia itu juga mengajari Bowie cara menggunakan senjata, mengutip laporan ABC News.
Otoritas setempat mengatakan Bowie setidaknya lima kali mendatangi kompleks Gedung Capitol untuk merencanakan lokasi yang paling efektif untuk meledakkan bom. Wanita itu juga memantau langkah-langkah pengamanan, seraya berkomunikasi dengan sejumlah informan. Bowie berencana menembaki polisi atau petugas keamanan jika diperlukan.
2. Bowie berencana lanjutkan serangan ke Gedung Putih dan Times Square

Gedung Putih di Washington, Amerika Serikat (unsplash.com/Saul Rodriguez) Agen khusus yang memimpin Kantor Lapangan FBI di Albany, Craig Tremaroli, mengatakan bahwa Bowie berencana melarikan diri ke luar negeri setelah serangan tersebut. Namun, wanita itu juga menyatakan kesediaannya untuk kembali guna melancarkan serangan lanjutan terhadap Gedung Putih atau Times Square pada malam Tahun Baru.
Dokumen perkara tersebut mencatat bahwa Bowie sempat mempertimbangkan untuk menjadikan Balai Kota Albany sebagai target. Namun, wanita itu akhirnya memilih Gedung Capitol dan secara khusus menargetkan para senator negara bagian menyusul pengesahan undang-undang yang dianggap menyinggung Islam.
Kantor Gubernur Kathy Hochul menyebutkan bahwa pemerintah negara bagian telah mengambil sejumlah langkah untuk memperketat keamanan di seluruh instansi pemerintah negara bagian, termasuk di Gedung Capitol. Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya kekerasan politik dan ancaman terhadap pejabat publik secara nasional, dilansir CNN.
3. Operasi penyamaran yang libatkan informan menuai kritik

Biro Investigasi Federal (FBI). (Photo by Jamal Wilson, Public domain, via Wikimedia Commons) Pemerintah AS sering mengandalkan sumber rahasia dan informan yang menyusup ke dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mengajukan tuntutan pidana terkait terorisme. Sejumlah kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) mengkritik operasi jebakan tersebut karena melibatkan agen yang menyamar untuk membujuk tersangka agar merencanakan serangan.
Salah satu kasus yang melibatkan empat pria, yang dikenal sebagai "Newburgh Four", menjadi contoh nyata dari risiko metode tersebut. Demi memastikan keterlibatan mereka, seorang informan FBI mendekati para tersangka dengan tawaran rencana untuk menyerang sinagoge dan pesawat militer. Para kritikus menuding informan itu memanfaatkan kondisi kemiskinan keempat pria tersebut.
Keempat pria itu ditangkap pada 2009 dan dinyatakan bersalah setahun setelahnya atas tuduhan yang terkait dengan terorisme. Kuasa hukum mereka mengaku bahwa keempat pria itu tidak banyak berperan dalam menjalankan rencana serangan tersebut, dan bahkan sempat berupaya menghindari sang informan.



















