CENTCOM Umumkan Tiga Prajurit AS Gugur dalam Operasi Militer terhadap Iran

- CENTCOM mengonfirmasi tiga prajurit AS gugur dan lima luka berat dalam operasi militer melawan Iran, menjadikannya korban pertama sejak serangan dimulai.
- Operasi gabungan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, memicu serangan balasan besar dari Iran terhadap aset dan sekutu AS di Timur Tengah.
- Presiden Donald Trump menyebut operasi berjalan lancar, sementara Iran menegaskan hak bela diri tanpa batas dan Kongres AS mulai mempertanyakan arah serta durasi operasi tersebut.
Jakarta, IDN Times – Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan pada Minggu (1/3/2026) bahwa tiga prajurit Amerika Serikat (AS) tewas dan lima lainnya mengalami luka berat dalam operasi militer yang masih berlangsung melawan Iran. Insiden ini menjadi korban pertama dari pihak AS sejak serangan tersebut dimulai.
Selain korban tewas dan luka berat, beberapa personel dilaporkan menderita luka ringan akibat serpihan ledakan serta gegar otak. Mereka kini menjalani perawatan medis dan diperkirakan segera kembali bertugas. Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menyampaikan perkembangan operasi yang sedang berjalan.
“Operasi tempur utama terus berlangsung dan upaya respons kami masih berjalan. Situasi masih cair, jadi demi menghormati keluarga, kami akan menahan informasi tambahan, termasuk identitas prajurit kami yang gugur, sampai 24 jam setelah kerabat terdekat diberitahu,” kata CENTCOM.
1. Serangan gabungan AS Israel tewaskan Khamenei

Serangan bersama AS dan Israel dimulai pada Sabtu (28/2/2026). Operasi tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bersama sejumlah pejabat politik dan militer.
Menanggapi hal itu, Iran melancarkan serangan balasan terhadap berbagai aset dan sekutu AS di kawasan Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menembakkan empat rudal balistik ke kapal induk USS Abraham Lincoln, tetapi seorang pejabat AS mengatakan kepada Al Jazeera bahwa rudal tersebut tidak menyebabkan kerusakan pada kapal.
Melalui platform X, CENTCOM menyatakan kapal induk tersebut tetap menerbangkan pesawat tempur. Disebutkan pula bahwa langkah itu merupakan bagian dari kampanye berkelanjutan untuk membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman dari rezim Iran.
2. Trump sampaikan operasi berjalan lancar

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa jalannya operasi dinilai cepat dan lancar. Ia juga menyebut dirinya tidak merasa khawatir dan menilai situasi terkendali.
“Iran akan memiliki senjata nuklir dalam waktu dua minggu jika bukan karena serangan kami terhadap fasilitas nuklirnya, dan serangan semacam ini tidak akan mungkin terjadi,” katanya.
Kemudian, melalui platform Truth Social, Trump kembali menyampaikan pesannya.
“Iran baru saja menyatakan bahwa mereka akan menyerang sangat keras hari ini, lebih keras daripada yang pernah mereka lakukan sebelumnya. NAMUN MEREKA LEBIH BAIK JANGAN MELAKUKAN ITU, KARENA JIKA MEREKA MELAKUKANNYA, KAMI AKAN MEMUKUL MEREKA DENGAN KEKUATAN YANG BELUM PERNAH TERLIHAT SEBELUMNYA! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!” tulisnya, dikutip dari The Hill.
3. Iran tegaskan hak bela diri tanpa batas

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Iran tidak memiliki batas dalam membela diri sebagai respons atas pembunuhan Khamenei dan serangan berkelanjutan dari AS serta Israel.
Sementara itu, koresponden Al Jazeera, Alan Fisher, yang melaporkan dari Washington menyampaikan bahwa kematian prajurit AS tersebut akan sangat mengubah situasi bagi AS. Ia juga menyebut banyak anggota Partai Demokrat kini mendesak adanya perdebatan darurat di Kongres guna mempertanyakan rencana pemerintah, durasi operasi, serta jumlah prajurit yang berpotensi menghadapi risiko. Di sisi lain, Israel kembali melancarkan serangan tambahan ke wilayah Iran ketika operasi tempur utama masih berlangsung.


















