Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Diplomasi RI Era Menlu Tata: Bebas Aktif dan Berprinsip!

4 min read
Diplomasi RI Era Menlu Tata: Bebas Aktif dan Berprinsip!
Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha ‘Tata’ Nasir. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Arrmanatha Tata Nasir memastikan pergantian kepemimpinan di Kemlu tidak mengubah arah politik luar negeri Indonesia.

  • Prinsip bebas aktif tetap dijalankan dengan berpegang pada konstitusi dan kepentingan nasional.

  • Konsistensi diplomasi dinilai penting untuk menjaga kepercayaan dan memperkuat kontribusi Indonesia di dunia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu), Arrmanatha Christiawan Nasir atau Tata, menegaskan, pergantian kepemimpinan di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) tidak akan mengubah arah politik luar negeri Indonesia. Dia memastikan, prinsip bebas aktif tetap menjadi landasan diplomasi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

Penegasan tersebut disampaikan Tata dalam briefing perdananya sebagai Menlu. Dia mengatakan, diplomasi Indonesia akan tetap berpegang pada konstitusi dan kepentingan nasional, bukan preferensi pribadi seorang menteri.

Tata juga menyampaikan apresiasi kepada Sugiono yang sebelumnya menjabat sebagai Menlu dan kini menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Dia menilai, dua tahun terakhir bukan periode yang mudah karena dunia menghadapi berbagai krisis dan ketidakpastian geopolitik.

“Ini bukan halaman baru. Ini adalah bab berikutnya di buku yang sama,” ujar Tata, menegaskan kesinambungan arah diplomasi Indonesia di bawah kepemimpinannya dalam press statement perdananya sebagai Menlu RI, Senin (12/110/2026).

  1. 1. Konstitusi jadi kompas diplomasi Indonesia

    Diplomasi RI Era Menlu Tata: Bebas Aktif dan Berprinsip!
    Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

    Tata mengatakan, arah politik luar negeri Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang sedang menjabat sebagai menteri. Menurut dia, konstitusi telah memberikan pedoman yang jelas mengenai tujuan negara, termasuk dalam menjalankan hubungan internasional.

    Dia merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945 yang mengamanatkan perlindungan terhadap seluruh bangsa Indonesia, peningkatan kesejahteraan umum, pencerdasan kehidupan bangsa, serta partisipasi dalam mewujudkan ketertiban dunia.

    “Empat tujuan itu tidak pernah berubah sejak tahun 1945 dan tidak akan berubah besok pagi,” kata Tata.

    Menurut dia, prinsip diplomasi justru semakin penting ketika dunia bergerak dari satu krisis ke krisis berikutnya. Indonesia perlu menunjukkan konsistensi agar dapat dipercaya oleh negara-negara mitranya.

    “Di dunia yang semakin tidak menentu seperti saat ini, prinsip justru semakin penting, bukan semakin kurang,” ujar dia.

    Tata menambahkan, konsistensi bukan berarti menolak perubahan, melainkan memastikan Indonesia dapat diandalkan dalam menjalankan komitmen. Dia menilai, kepercayaan merupakan salah satu modal diplomasi paling berharga yang dibangun selama bertahun-tahun.

    “Konsisten itu bukan takut. Konsisten itu berarti bisa dipegang kata-katanya,” kata Tata.

  2. 2. Bebas aktif bukan berarti Indonesia tidak akan tegas

    Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha ‘Tata’ Nasir. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
    Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha ‘Tata’ Nasir. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

    Tata menjelaskan, prinsip bebas aktif berarti Indonesia tidak terikat pada aliansi mana pun dan tidak memilih blok tertentu. Sebaliknya, Indonesia berupaya menjalin hubungan baik dengan berbagai negara sambil tetap mempertahankan prinsip dan kepentingan nasionalnya.

    “Kita tidak memilih blok. Kita memilih prinsip,” ujar Tata.

    Dia juga mengutip pesan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya memperluas persahabatan dengan negara lain.

    “Sejuta kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” kata dia.

    Meski demikian, Tata mengingatkan bahwa sikap terbuka terhadap semua negara tidak boleh diartikan sebagai ketidaktegasan. Indonesia tetap akan mengambil sikap tegas apabila kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terganggu.

    Dia menggambarkan pendekatan Indonesia dengan kalimat, “Bebas, tapi tidak diam. Aktif, tapi tidak ikut-ikutan.”

    Menurut Tata, Indonesia akan berupaya menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan internasional. Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan reputasi Indonesia sebagai bridge builder atau penghubung, sekaligus peacemaker atau pendamai.

  3. 3. Konsistensi jadi modal diplomasi RI

    Diplomasi RI Era Menlu Tata: Bebas Aktif dan Berprinsip!
    Menko PMK Sugiono dan istri, didampangi Menlu Arrmanatha ‘Tata’ Nasir dan istri berpamitan ke awak media di kantor Kementerian Luar Negeri RI. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

    Tata menilai, konsistensi dalam menjalankan politik luar negeri menjadi penting karena dapat membangun kepercayaan negara lain terhadap Indonesia. Kepercayaan tersebut tidak terbentuk dalam waktu singkat, melainkan melalui hubungan dan komitmen yang dijaga selama bertahun-tahun.

    Dia mengatakan, pergantian kepemimpinan di Kemlu tidak berarti seluruh arah kebijakan harus dimulai kembali. Pemerintah akan melanjutkan prinsip diplomasi yang telah dibangun sekaligus menerjemahkannya menjadi hasil nyata bagi masyarakat.

    Menurut Tata, diplomasi Indonesia harus tetap berorientasi pada kepentingan nasional. Hubungan internasional perlu mendukung ketahanan nasional, stabilitas kawasan, dan kontribusi Indonesia dalam menyelesaikan persoalan global.

    Di akhir pemaparannya, Tata mengajak media untuk terus mengikuti dan mengawal kerja diplomasi Indonesia. Ia berharap komunikasi Kemlu dengan media semakin terbuka dan dekat.

    “Peran kita mungkin berbeda, tapi tujuan kita sama,” ujar Tata, seraya menekankan pentingnya memastikan suara Indonesia diperhitungkan di dunia dan manfaat diplomasi dirasakan oleh rakyat.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More