Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

DK PBB Gagal Sepakati Resolusi Selat Hormuz Setelah Diveto Rusia dan China

DK PBB Gagal Sepakati Resolusi Selat Hormuz Setelah Diveto Rusia dan China
ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)
Intinya Sih
  • Rusia dan China memveto rancangan resolusi DK PBB yang diajukan Bahrain untuk membuka kembali Selat Hormuz dari blokade Iran, meski 11 anggota mendukung dan dua negara abstain.
  • Teks akhir resolusi menekankan koordinasi defensif antarnegara pengguna jalur komersial guna menjaga keamanan pelayaran serta mendesak Iran menghentikan serangan terhadap kapal dan infrastruktur sipil.
  • Iran melancarkan serangan ke berbagai fasilitas sipil di lebih dari 10 negara Teluk, memicu kekhawatiran regional, sementara AS, Rusia, dan China saling menyalahkan atas eskalasi konflik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Rusia dan China memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada Selasa (7/4/2026) yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dari blokade Iran. Sebanyak 11 anggota Dewan mendukung usulan tersebut, sementara Pakistan dan Kolombia memilih abstain.

Selat Hormuz sendiri menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia karena sekitar seperlima pasokan global melintas di kawasan itu, dan penutupan oleh Iran membuat harga energi meningkat di berbagai wilayah.

1. Bahrain menyesuaikan isi resolusi agar mendapat dukungan

Bendera Bahrain
Bendera Bahrain (pexels.com/Fadhel Madan)

Rancangan resolusi yang diinisiasi Bahrain mengalami beberapa revisi dengan tujuan melunakkan redaksi agar lebih banyak negara menyetujuinya.

Dilansir Euro News, pada versi awal, terdapat frasa all necessary means (semua cara yang diperlukan) yang dalam praktik PBB dapat mencakup opsi militer untuk menjaga kelancaran jalur pelayaran dan mencegah penutupan. Namun Rusia, China, dan Prancis menolak penggunaan kekuatan sehingga seluruh unsur ofensif dihapus dari naskah akhir.

Perubahan tersebut menghasilkan teks yang hanya memuat frasa all defensive means necessary (semua cara defensif yang diperlukan). Selain itu, penyebutan otorisasi Dewan Keamanan sebagai mandat resmi dihilangkan dan cakupannya dibatasi hanya pada Selat Hormuz tanpa melibatkan perairan sekitarnya.

2. Resolusi mendorong koordinasi keamanan pelayaran di selat

Penampakan Selat Hormuz dari satelit
Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Dalam bentuk final, resolusi itu mengimbau negara-negara pengguna jalur komersial di Selat Hormuz untuk menyelaraskan langkah defensif sesuai kondisi. Fokusnya adalah memastikan keamanan dan keselamatan pelayaran di kawasan tersebut.

Langkah koordinasi itu mencakup pengawalan kapal dagang serta kapal komersial. Selain itu, upaya juga diarahkan untuk mencegah tindakan yang menutup, menghambat, atau mengganggu navigasi internasional.

Resolusi turut mendesak Iran menghentikan serangan terhadap kapal dagang dan komersial. Tuntutan lain mencakup penghentian gangguan terhadap kebebasan navigasi serta serangan pada infrastruktur sipil.

3. Serangan Iran picu kekhawatiran negara kawasan Teluk

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran
ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Iran melancarkan serangan ke hotel, bandara, bangunan hunian, dan fasilitas sipil lain di lebih dari 10 negara, termasuk negara tetangga di Teluk yang dikenal sebagai eksportir utama minyak dan gas alam. Aksi tersebut terjadi setelah operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026.

Negara-negara Teluk memandang langkah Iran menutup Selat Hormuz sebagai ancaman besar terhadap keberlangsungan mereka. Bahrain yang menjadi tuan rumah Armada Kelima AS serta menjabat perwakilan Arab di DK PBB dan presiden Dewan bulan ini aktif mendorong respons PBB atas situasi tersebut.

4. Pernyataan negara terkait usai pemungutan suara

ilustrasi anggota PBB (pexels.com/Hugo Megalhaes)
ilustrasi anggota PBB (pexels.com/Hugo Megalhaes)

Setelah voting, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menilai tindakan mengarahkan senjata ke ekonomi global tak dapat diterima. Ia juga menyebut Rusia dan China berpihak pada rezim yang menekan kawasan Teluk dan rakyatnya sendiri.

Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al Zayani menyampaikan kegagalan adopsi resolusi memberi pesan keliru kepada dunia. Ia menilai kondisi itu menunjukkan ancaman terhadap jalur perairan internasional bisa terjadi tanpa respons tegas dari lembaga penjaga perdamaian global.

Di sisi lain, Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia dan Duta Besar China untuk PBB Fu Cong menyebut AS dan Israel sebagai pemicu konflik yang memperluas krisis global. Keduanya menegaskan penghentian operasi militer menjadi langkah paling mendesak.

Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menanggapi bahwa isi resolusi justru akan memperkuat tindakan AS dan Israel.

“Biarkan saya jelas — teks ini hanya akan memberanikan AS dan rezim Israel untuk melanjutkan tindakan-tindakan tidak sah dan kejahatan mengerikan mereka, sambil melindungi dari pertanggungjawaban,” ujarnya, dikutip Fox News.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan kepada Fox News bahwa Iran memiliki batas waktu hingga pukul 8 malam Waktu Timur untuk mengambil keputusan.

“Hanya Presiden yang tahu di mana posisi saat ini dan apa yang akan dia lakukan,” ujarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More