Kala Warga Iran Bentuk Rantai Manusia untuk Lindungi Fasilitas Energi

- Jutaan warga Iran membentuk rantai manusia di berbagai kota untuk melindungi fasilitas energi dan jembatan penting dari ancaman serangan Amerika Serikat.
- Serangan udara AS dan Israel menghantam sejumlah infrastruktur Iran, termasuk bandara, kompleks petrokimia, serta situs rudal balistik yang menewaskan puluhan warga.
- Iran dan AS menyepakati gencatan senjata dua pekan setelah Teheran setuju membuka Selat Hormuz, dengan perundingan lanjutan dijadwalkan di Islamabad membahas proposal sepuluh poin Iran.
Jakarta, IDN Times - Warga Iran membentuk pagar betis atau rantai manusia pada Selasa (7/4/2026) demi melindungi berbagai fasilitas energi dari ancaman serangan Amerika Serikat (AS). Aksi ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan peradaban Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Pemerintah Iran mengklaim lebih dari 14 juta orang telah mendaftar melalui kampanye daring dan pesan singkat untuk berpartisipasi. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa dirinya juga tergabung dalam daftar relawan yang siap mengorbankan nyawa demi negara.
"Lebih dari 14 juta warga Iran yang bangga telah mendaftar untuk mengorbankan nyawa mereka demi membela Iran. Saya pun telah, sedang, dan akan tetap mengabdikan diri untuk memberikan hidup saya bagi Iran," tulis Pezeshkian dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, dikutip dari The Hill.
1. Warga Iran lindungi fasilitas energi dan jembatan penting

Massa berkumpul membentuk rantai manusia di luar stasiun pembangkit listrik utama di kota Tabriz dan Mashhad. Gerakan serupa juga terlihat di wilayah selatan Bushehr yang merupakan lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir milik Iran.
Sekretaris Dewan Tertinggi Pemuda dan Remaja Iran, Alireza Rahimi, mengundang generasi muda untuk turun ke jalan. Para pemuda dan mahasiswa diminta berkumpul pada pukul dua siang di sekitar aset nasional tersebut.
"Saya mengundang semua generasi muda, atlet, seniman, siswa, serta mahasiswa. Silakan berkumpul di sekitar pembangkit listrik terlepas dari pandangan politik Anda," tutur Alireza Rahimi, dilansir The Guardian.
Selain pembangkit listrik, masyarakat setempat juga memadati jembatan bersejarah berusia 1.700 tahun di kota Dezful. Langkah ini diambil guna mengantisipasi serangan udara yang turut menyasar berbagai infrastruktur jembatan penting di wilayah barat.
2. AS-Israel masih gempur fasilitas Iran

Sebelumnya, Trump memberikan tenggat waktu hingga Selasa pukul 8 malam agar otoritas Iran menghentikan blokade kapal di Selat Hormuz. Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur listrik dan jembatan jika tuntutan ditolak.
Serangan udara AS dan Israel kemudian menghantam sejumlah permukiman warga serta bandara internasional Khorramabad. Militer Israel juga mengonfirmasi serangan terhadap kompleks petrokimia di Shiraz dan situs rudal balistik Iran.
Gempuran rudal pada sebuah target tak teridentifikasi di provinsi Alborz tercatat menewaskan 18 orang. Sementara itu, serangan di kota Shahriar dan Pardis masing-masing menewaskan sembilan dan enam orang.
3. AS-Iran sepakati gencatan senjata selama dua pekan

Pada Rabu (8/4/2026), Washington dan Teheran akhirnya menyepakati gencatan senjata yang akan berlaku selama dua pekan. Kesepakatan tercapai setelah Iran bersedia menjamin pembukaan Selat Hormuz secara aman bagi lalu lintas pelayaran.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa perundingan lanjutan akan diselenggarakan di Islamabad pada hari Jumat. Pertemuan akan mengacu pada proposal sepuluh poin yang diajukan oleh Dewan Keamanan Nasional Iran.
Melalui proposal tersebut, Iran menuntut wewenang untuk mengawasi Selat Hormuz dan penarikan seluruh pasukan tempur AS dari Timur Tengah. Teheran juga mendesak pencabutan segala bentuk sanksi ekonomi dan pembayaran kompensasi penuh atas kerusakan akibat perang.
"Jika serangan terhadap Iran dihentikan, angkatan bersenjata kami yang kuat akan menghentikan operasi pertahanan mereka. Jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan dalam koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran," ungkap Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dilansir Al Jazeera.


















