Israel Hari Ini Gelar Pemilu Perdana usai Serang Gaza Oktober 2023

Israel menggelar pemilu pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, dengan keamanan dan pertanggungjawaban pemerintah menjadi sorotan.
Benjamin Netanyahu menghadapi persaingan ketat dari Gadi Eisenkot, yang menjanjikan penyelidikan independen atas kegagalan keamanan.
Hasil pemilu belum tentu langsung menentukan perdana menteri karena pembentukan koalisi bergantung pada negosiasi antarpihak.
Jakarta, IDN Times - Israel menggelar pemilihan umum (pemilu) pada Selasa (27/10/2026), untuk pertama kalinya sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Pemilu ini menjadi ujian bagi Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu yang telah memimpin Israel selama lebih dari 19 tahun secara bergantian.
Pemungutan suara berlangsung di tengah perpecahan masyarakat Israel setelah hampir tiga tahun menghadapi perang di berbagai front regional. Isu keamanan, pertanggungjawaban pemerintah atas serangan Hamas, hingga arah politik Israel menjadi sorotan dalam kampanye kali ini.
Netanyahu menghadapi persaingan ketat dari Gadi Eisenkot, mantan kepala staf militer Israel yang kini memimpin Partai Yashar. Jajak pendapat terakhir yang dipublikasikan sebelum pemungutan suara menunjukkan keduanya bersaing ketat.
Pemilu ini juga berlangsung ketika Israel menghadapi tekanan internasional akibat operasi militernya di Gaza, perluasan permukiman di wilayah pendudukan Tepi Barat, serta menguatnya nasionalisme keagamaan sayap kanan. Hasil pemungutan suara akan menentukan bukan hanya pemimpin berikutnya, tetapi juga arah politik Israel.
1. Netanyahu andalkan pengalaman dan hubungan dengan Trump

Poster kampanye pemilu di Israel. (AFP/Jack Guez) Netanyahu, 77 tahun, merupakan perdana menteri dengan masa jabatan terpanjang dalam sejarah Israel. Ia telah memimpin negara tersebut selama lebih dari 19 tahun, meski tidak secara terus-menerus.
Dalam kampanye kali ini, Netanyahu banyak menonjolkan rekam jejaknya di bidang keamanan. Ia juga mengandalkan hubungannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menyatakan bahwa dirinya merupakan sosok yang paling mampu menjaga keselamatan warga Israel.
Sejak serangan Hamas pada Oktober 2023, pemerintahan Netanyahu memimpin perang di sejumlah wilayah. Pasukan Israel melancarkan operasi militer yang menghancurkan sebagian besar Gaza, menduduki wilayah Lebanon selatan, serta menyerang Iran dengan bantuan Amerika Serikat.
Di dalam negeri, masyarakat Israel juga menghadapi serangan dari Iran, Hamas, kelompok Hezbollah di Lebanon, serta kelompok Houthi dari Yaman.
Sejumlah pemilih menilai pengalaman Netanyahu menjadi alasan untuk kembali mendukungnya. Zipporah Bennett, pensiunan berusia 85 tahun, mengatakan kepada AFP bahwa ia memilih Netanyahu karena pengalamannya menghadapi berbagai situasi sulit.
“Dia mendapat dukungan penuh dari pemerintah Amerika Serikat. Saya percaya dia adalah sosok yang tidak takut mengambil tindakan,” kata Bennett.
2. Eisenkot janji usut kegagalan keamanan 7 Oktober

Gadi Eisenkot, kandidat kuat pengganti Netanyahu di Pemilu Israel. (AFP/Jack Guez) Gadi Eisenkot, 66 tahun, menjadi salah satu penantang utama Netanyahu. Mantan kepala staf militer Israel itu dikenal memiliki pembawaan lebih tenang dibandingkan Netanyahu, yang selama puluhan tahun menjadi tokoh dominan dalam politik Israel.
Eisenkot memimpin Partai Yashar dan menjadi bagian dari blok oposisi yang berupaya menggulingkan Netanyahu. Kelompok tersebut mencakup partai-partai dari spektrum kanan hingga kiri-tengah.
Salah satu kritik terbesar terhadap Netanyahu adalah kegagalannya mengambil tanggung jawab atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menjadi hari paling mematikan dalam sejarah Israel.
Eisenkot berjanji membentuk komisi penyelidikan negara yang independen untuk mengusut kegagalan keamanan menjelang serangan tersebut. Pemerintahan Netanyahu selama ini menolak pembentukan komisi dengan mekanisme yang diinginkan para pengkritiknya.
Namun, Eisenkot tidak menawarkan perubahan mendasar dalam seluruh kebijakan Israel terhadap Palestina. Ia menolak pembentukan negara Palestina dan menyatakan dukungan terhadap permukiman Israel, meski berjanji menindak pemukim yang melakukan kekerasan.
3. Koalisi pemerintahan baru masih sulit diprediksi

ilustrasi bendera Israel (pexels.com/Leon Natan) Sekitar 7,3 juta warga Israel memiliki hak pilih dalam pemilu kali ini. Lebih dari 500 ribu pemilih muda diperkirakan memberikan suara untuk pertama kalinya. Survei menunjukkan bahwa kelompok pemilih muda tersebut secara umum mengidentifikasi diri sebagai kelompok kanan-tengah atau sayap kanan.
Puluhan ribu warga Israel juga diperkirakan pulang dari luar negeri untuk menggunakan hak pilihnya. Bagi sebagian pemilih, pemilu ini dipandang sebagai momen penting untuk menentukan masa depan negara.
“ Saya pikir ini adalah salah satu hari pemilihan paling penting dalam sejarah negara Israel,” kata Uriel Brandler, agen properti berusia 58 tahun, kepada AFP di Yerusalem sehari sebelum pemungutan suara.
Brandler berharap pemilu kali ini membawa perubahan. “Negara ini benar-benar membutuhkan perubahan ke arah yang lebih baik dalam setiap aspek,” ujarnya.
Meski persaingan Netanyahu dan Eisenkot berlangsung ketat, hasil pemilu belum tentu langsung menentukan siapa yang akan menjadi perdana menteri. Tidak ada satu partai pun yang diperkirakan mampu mendekati ambang mayoritas 61 kursi dari total 120 kursi parlemen atau Knesset.
Pembentukan pemerintahan karena itu akan bergantung pada negosiasi ant partai setelah hasil pemilu keluar. Proses tersebut dapat berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Jika negosiasi gagal, Israel bahkan berpotensi kembali menghadapi pemilu baru.
Salah satu persoalan yang dapat mempersulit pembentukan koalisi adalah posisi partai-partai Arab, yang mewakili sekitar 21 persen populasi Israel. Baik Netanyahu maupun Eisenkot belum secara terbuka menyatakan kesediaan untuk bekerja sama dengan daftar partai yang didominasi warga Arab tersebut.
Dengan persaingan yang ketat dan belum jelasnya komposisi koalisi, hasil pemilu kali ini akan menjadi penentu penting bagi masa depan politik Israel.























