Gen Z Lebih Toleran Dibanding Milenial dan Baby Boomers, tapi...

Gen Z dinilai lebih toleran dan lebih akomodatif terhadap perubahan dibandingkan Milenial serta Baby Boomers.
Tingkat ketaatan Gen Z menjadi pekerjaan rumah karena edukasi keagamaan lebih sering diperoleh melalui media sosial.
Survei 2025 mencatat capaian Gen Z dalam literasi Al-Qur’an dan toleransi beragama, berdasarkan 1.208 responden di 34 provinsi.
Jakarta, IDN Times - Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama (Kemenag), Thobib Al Asyhar, mengatakan Generasi Z (Gen Z) lebih toleran dibanding Milenial dan Baby Boomers. Menurutnya, hal itu juga terungkap dari hasil penelitian Kemenag bersama Alvara Strategic Research.
"Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, yaitu Milenial dan Baby Boomers, Gen Z ini memiliki corak keberagaman yang lebih toleran, lebih akomodatif terhadap perubahan," ujar Thobib di kantor Kemenag, Jakarta, dikutip Selasa (27/10/2026).
1. Dari sisi ketaatan, Gen Z belum tentu

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama (Kemenag), Thobib Al Asyhar (IDN Times/Ilman Nafi'an) Meski demikian, kata Thobib, dari sisi ketaatan, Gen Z lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Hal itu diduga karena pemberian edukasi keagamaan lebih sering didapat Gen Z dari media sosial.
"Meskipun dari sisi ketaatan mungkin tidak sebaik dari generasi sebelumnya, nah ini, barangkali soal pola pembelajaran keagamaan yang mereka dapatkan dari media sosial, sehingga corak pendalamanan keagamanan yang mungkin tidak sedalam generasi sebelumnyam sehingga mereka memiliki cara pandang yang lebih inklusif," kata dia.
2. Jadi PR

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama (Kemenag), Thobib Al Asyhar (IDN Times/Ilman Nafi'an) Menurutnya, tingkat ketaatan Gen Z yang masih kurang masih menjadi pekerjaan rumah (PR). Oleh karena itu, Kemenag mengajak semua pihak untuk bekerja sama agar pemahaman keagamaan ini bisa diturunkan ke semua generasi, termasuk Gen Z.
"Jadi hasil yang disampaikan oleh Alvara, saya kira ini ini kita mengiyakan ini menjadi PR kita semua, meskipun sebagian pihak teman-teman Gen Z memiliki pengetahuan keagamaan yang dalam bisa jadi komunitas pesantren, komunikas keagamaan yang khusus mengkaji bidang keilmuan tertentu, mereka memiliki bidang keilmuan yang lebih dalam dan mungkin kita bisa memandingkan bagaimana pandangan mereka," kata dia.
"Karena memang fakta mereka, sebagai digital native yang begitu lahir dia tahu bagaimana keragaman itu diketahui dan akhirnya embentuk sikap dan pola perilaku keagamaan," sambungnya.
3. Bagaimana hasil penelitiannya?

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama (Kemenag), Thobib Al Asyhar (IDN Times/Ilman Nafi'an) Penelitian Alvara ini dilakukan pada 2025.
Peneliti Alvara Strategic Research, Lilik Purwandi, menilai Generasi Z (Gen Z) memiliki posisi penting sebagai penggerak dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Hasil survei yang dilakukan menunjukkan sejumlah capaian positif, terutama dalam aspek literasi Al-Qur’an dan sikap toleransi beragama di kalangan generasi muda.
Salah satu temuan yang menonjol ialah kemampuan membaca Al-Qur’an di kalangan Gen Z. Indeks kemampuan membaca Al-Qur’an dengan tartil pada generasi ini mencapai 56,29, menjadi yang tertinggi dibandingkan kelompok generasi lainnya. Angka tersebut melampaui indeks Milenial sebesar 54,06, Generasi X sebesar 53,97, dan Baby Boomers sebesar 50,95.
Selain literasi Al-Qur’an, Gen Z juga menunjukkan capaian positif dalam indikator toleransi beragama. Pada aspek sikap menolak pembubaran kegiatan keagamaan yang diselenggarakan aliran atau organisasi keagamaan lain, Gen Z mencatat indeks 80,03. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan Milenial yang mencapai 78,77, Generasi X sebesar 78,97, dan Baby Boomers sebesar 78,81.
Secara umum, indeks pengamalan toleransi di kalangan Gen Z mencapai 79,65. Capaian ini hanya berselisih tipis dari Generasi X yang memperoleh indeks 79,67. Sementara itu, indeks Milenial tercatat sebesar 79,07 dan Baby Boomers sebesar 78,63.
Penilaian toleransi tersebut mencakup sejumlah indikator, antara lain penerimaan terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, sikap tidak mencela keyakinan berbeda, penolakan terhadap tindakan persekusi, serta upaya mencegah penyebaran ujaran kebencian.
“Data ini menunjukkan Gen Z memiliki kedewasaan sikap yang luar biasa dalam menghargai perbedaan. Mereka adalah generasi yang paling menolak praktik persekusi atau pembubaran kegiatan keagamaan pihak lain,” ujar Lilik.
Temuan lainnya memperlihatkan potensi positif kehidupan beragama di kawasan perkotaan yang banyak dihuni generasi muda. Meski indeks dimensi ibadah masyarakat perkotaan berada pada angka 78,38, lebih rendah dibandingkan masyarakat perdesaan yang mencapai 79,37, pemahaman keagamaan yang kuat tetap menjadi modal penting untuk membangun kehidupan spiritual pada masa mendatang.
Lilik menilai Gen Z dan Milenial mempunyai peran besar dalam menentukan arah kehidupan sosial dan keagamaan Indonesia. Pemahaman terhadap Al-Qur’an serta sikap terbuka dalam menyikapi perbedaan menjadi modal penting untuk memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat yang beragam.
“Gen Z dan Milenial adalah pilar masa depan. Walaupun terdapat tantangan dalam pengamalan ibadah harian, modal intelektual melalui pemahaman Al-Qur’an dan sikap toleransi yang matang merupakan aset besar bagi kohesi sosial,” kata Lilik.
Survei tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jangkauan nasional. Penelitian ini melibatkan 1.208 responden Muslim yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan metode multistage random sampling. Survei tersebut memiliki margin of error sebesar 2,89 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Secara nasional, Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 mencapai 78,80 dan masuk dalam kategori tinggi. Dari sejumlah dimensi yang diukur, aspek akhlak memperoleh skor tertinggi, yakni 81,88.
























