5 Fakta Tentang Uji Coba Rudal China yang Picu Kekhawatiran AS dan Sekutu

- China sukses uji coba rudal balistik antarbenua dari kapal selam nuklir ke Samudra Pasifik, memicu kekhawatiran AS dan sekutunya atas potensi destabilisasi kawasan Asia-Pasifik.
- Negara-negara seperti Jepang, Australia, Selandia Baru, Taiwan, dan Kepulauan Solomon mengecam keras peluncuran tersebut karena dianggap provokatif serta melanggar semangat zona bebas nuklir Pasifik Selatan.
- Pemerintah China membela diri dengan menyebut uji coba itu sebagai latihan rutin, sementara para pakar menilai langkah ini menunjukkan ketertutupan militer dan sinyal geopolitik terhadap aliansi Barat.
Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) dan sejumlah kekuatan regional menyatakan keprihatinan mendalam, setelah China sukses melakukan uji tembak rudal balistik antarbenua (ICBM) tanpa hulu ledak dari kapal selam bertenaga nuklir ke Samudra Pasifik pada 6 Juli 2026. Langkah Beijing ini dinilai memicu destabilisasi dan memperburuk ketegangan di kawasan Asia-Pasifik.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Thomas Pigott, menegaskan bahwa Washington memantau ketat peluncuran tersebut. Di saat AS berupaya keras mencegah proliferasi nuklir, tindakan Beijing justru menunjukkan hal sebaliknya. AS mendesak China untuk lebih transparan dan terlibat dalam diskusi pengendalian senjata yang mendalam, dilansir NHK News pada Selasa (7/7/2026).
Uji coba ini memicu protes keras dari Jepang, Australia, Selandia Baru, Taiwan, hingga Kepulauan Solomon. Sementara itu, media pemerintah China, Global Times, mengeklaim peluncuran tersebut secara signifikan meningkatkan daya pencegahan 'triad nuklir' Beijing untuk menangkal tekanan militer maksimum dari kekuatan eksternal.
1. Spesifikasi rudal dan unjuk kekuatan triad nuklir China

Berdasarkan laporan media pemerintah China, Xinhua dan Global Times, uji coba yang berlangsung pada Senin (6/7/2026) pukul 12:01 waktu sempat itu menggunakan rudal strategis dengan hulu ledak tiruan yang diluncurkan dari kapal selam bertenaga nuklir. Rudal tersebut jatuh di perairan internasional di Pasifik sesuai rencana.
Para pakar militer menduga kuat rudal yang digunakan adalah Julang-3 (JL-3), rudal kapal selam tercanggih China yang memiliki jangkauan melebihi 10 ribu kilometer, yang berarti dapat mencakup Pasifik Selatan dan Pasifik timur.
Peluncuran ini dipublikasikan secara masif di halaman depan media lokal sebagai pembuktian bahwa kemampuan triad nuklir China telah meningkat signifikan. Triad nuklir merujuk pada sistem pengiriman senjata nuklir yang berbasis di darat, laut, dan udara. Langkah pamer kekuatan ini juga dilakukan menjelang peringatan ke-99 berdirinya Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) pada 1 Agustus mendatang.
2. Respons dan penentangan keras negara-negara tetangga

Aksi Beijing tersebut langsung memicu kecaman dari berbagai negara di kawasan. Perdana Menteri (PM) Australia, Anthony Albanese, menyebut uji coba berkemampuan nuklir dengan pemberitahuan yang sangat singkat ini sebagai tindakan provokatif yang merusak kestabilan kawasan. Kritik senada disampaikan PM Kepulauan Solomon, Matthew Wale, yang menegaskan bahwa wilayah Pasifik tidak boleh dijadikan arena uji coba ICBM oleh kekuatan manapun.
Sementara itu, Kantor Kepresidenan Taiwan mengutuk keras peluncuran tersebut sebagai bentuk intimidasi terhadap komunitas internasional. Jepang juga langsung menyampaikan keprihatinan mendalam kepada China, mendesak Beijing untuk tidak meluncurkan rudal di atas wilayah mereka. Meski begitu, pihak Jepang melaporkan tidak ada kerusakan pada pesawat atau kapalnya. Tokyo juga meminta peninjauan kembali atas peningkatan aktivitas militer yang dinilai mengancam keamanan Jepang.
"China terus meningkatkan pengeluaran pertahanannya sangat pesat tanpa transparansi yang memadai dan memperluas kemampuan rudal nuklirnya, termasuk ICBM, dengan cepat dan luas," kata juru bicara pemerintah Jepang, Minoru Kihara, dikutip dari Kyodo News.
3. Tuduhan pelanggaran hukum internasional dan zona bebas nuklir
Pemerintah Selandia Baru menyoroti bahwa rudal tersebut diluncurkan ke perairan yang masuk dalam cakupan Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan. Wilayah tersebut dilindungi oleh Perjanjian Rarotonga tahun 1986 yang melarang keberadaan dan uji coba senjata nuklir. Tindakan China dinilai melanggar tujuan kesepakatan tersebut.
"Uji coba tersebut merupakan perkembangan yang tidak diinginkan dan mengkhawatirkan. Kami, seperti negara-negara tetangga kami di Pasifik lainnya, tidak tertarik jika China menggunakan Pasifik Selatan sebagai lokasi uji coba kemampuan rudal," ujar Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters.
Meskipun China telah meratifikasi protokol Perjanjian Rarotonga pada 1987 dan berjanji tidak menguji senjata nuklir di zona tersebut, tetapi peluncuran rudal strategis ini dinilai sebagai pola berulang yang mengkhawatirkan sejak uji coba ICBM berbasis darat mereka pada 2024. Tindakan Beijing ini dinilai merusak komitmen non-proliferasi global, Asahi Shimbun melaporkan.
4. Pembelaan pemerintah China dan sentimen anti-Barat
Merespons kritik global, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa peluncuran tersebut adalah bagian dari pelatihan militer tahunan yang rutin, aman, dan profesional. Beijing mengeklaim tindakan tersebut sesuai dengan hukum, serta praktik internasional dan tidak ditujukan ke negara manapun.
"Kami berharap negara-negara terkait tidak akan menafsirkan masalah ini secara berlebihan," kata Mao dalam sebuah pengarahan di Beijing, dikutip dari The Straits Times.
Di sisi lain, media pemerintah China secara terbuka mengaitkannya dengan situasi di Selat Taiwan dan Laut China Selatan. Mereka menyatakan bahwa penguatan kekuatan pencegahan strategis ini diperlukan, guna memaksa kekuatan eksternal (AS dan sekutunya) untuk meninggalkan upaya yang bertujuan memaksa konsesi China melalui tekanan militer maksimum atau serangan pendahuluan.
5. Analisis Pakar: Ketertutupan militer dan sinyal geopolitik

Para peneliti internasional, termasuk Drew Thompson dari S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura, menilai kekhawatiran dunia sangat mendasar. Sebab, modernisasi militer China berjalan tanpa transparansi. Ketertutupan ini menimbulkan ketidakpastian tinggi mengenai niat asli Beijing terkait ekspansi persenjataan nuklirnya.
Pakar dari International Institute for Strategic Studies (IISS), Meia Nouwens, mengatakan bahwa waktu peluncuran bertepatan dengan penandatanganan pakta pertahanan bersama antara Australia dan Fiji. Uji coba rudal ini diduga kuat menjadi sinyal ketidakpuasan geopolitik Beijing terhadap aliansi Barat di Pasifik Selatan, meskipun langkah agresif ini berisiko menjadi kontraproduktif bagi citra diplomasi China sendiri.

















