Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gedung Runtuh di Gaza Tewaskan 14 Warga, 100 Orang Masih Terjebak

3 min read
Gedung Runtuh di Gaza Tewaskan 14 Warga, 100 Orang Masih Terjebak
bendera Palestina (pexels.com/Alfo Medeiros)
  • Gedung Al-Saada yang sebelumnya dibom runtuh di barat Kota Gaza, menewaskan sedikitnya 14 warga Palestina, termasuk lima anak, serta menjebak sekitar 100 orang.
  • Sedikitnya sepuluh keluarga pengungsi tinggal di gedung rusak itu karena pilihan perlindungan terbatas, sementara sekitar 2.000 bangunan berisiko runtuh masih dihuni di Gaza.
  • Tim penyelamat mencari korban secara manual akibat minim alat berat; PBB dan pejabat Palestina menyoroti kebutuhan hunian portabel menjelang musim dingin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sedikitnya 14 warga Palestina, termasuk lima anak, dilaporkan tewas setelah sebuah gedung tempat tinggal yang rusak akibat serangan militer Israel roboh di bagian barat Kota Gaza, Rabu (16/9/2026) dini hari waktu setempat. Bangunan bernama Al-Saada yang terletak di kawasan Al-Sinaa tersebut sebelumnya sempat menjadi sasaran pengeboman sebelum akhirnya runtuh total.

Peristiwa nahas itu menimpa sedikitnya sepuluh keluarga pengungsi yang terpaksa mencari tempat berteduh di dalam bangunan tersebut saat mereka sedang tertidur lelap. Hingga kini, sekitar 100 orang diperkirakan masih terjebak di bawah puing-puing, sementara puluhan korban luka telah dievakuasi ke rumah sakit di Kota Gaza.

  1. 1. Evakuasi korban dan minimnya peralatan berat

    ilustrasi excavator
    ilustrasi excavator (pexels.com/Efe Burak Baydar)

    Tim pertahanan sipil terus berkejaran dengan waktu untuk mencari korban di bawah timbunan beton. Sebuah sumber medis kepada Anadolu menyebutkan bahwa 14 jenazah dan 25 korban luka telah dibawa ke beberapa rumah sakit di Kota Gaza. Sementara itu, data pertahanan sipil yang dikutip Al-Monitor mencatat sedikitnya 12 korban tewas dan 14 orang luka-luka akibat runtuhnya gedung tujuh lantai tersebut. Anadolu menyebut bangunan itu enam lantai.

    Direktur Layanan Pertahanan Sipil Kota Gaza, Raed Al-Dahshan, mengatakan petugas masih mendengar tanda-tanda kehidupan dari balik reruntuhan. "Kami masih mendengar suara-suara dari bawah reruntuhan, jadi masih ada harapan untuk menemukan orang-orang," kata Dahshan. Petugas bersama lembaga bantuan dari Mesir serta badan PBB terus berupaya mencari korban selamat yang masih tertimbun.

  2. 2. Alasan pengungsi menempati bangunan rusak

    ilustrasi kamp pengungsi
    ilustrasi kamp pengungsi (pexels.com/Ahmed akacha)

    Juru bicara Pemerintah Kota Gaza, Hosni Muhanna, menerangkan bahwa keluarga-keluarga pengungsi menempati gedung yang retak karena menghindari kondisi berat di tenda-tenda pengungsian. Terbatasnya pilihan tempat penampungan membuat warga terpaksa memilih tinggal di dalam struktur beton yang rapuh. Dalam beberapa bulan terakhir, banyak keluarga di Gaza mengungkapkan kepada Reuters bahwa mereka terpaksa menempati bangunan-bangunan yang rusak demi berlindung dari angin kencang dan badai hujan, serta akibat ketiadaan tenda baru bagi para tunawisma.

    Dahshan menjelaskan bangunan itu runtuh total saat para penghuninya sedang tidur. "Terbatasnya pilihan tempat penampungan memaksa warga pindah ke gedung ini, dengan keyakinan bahwa tempat ini aman. Namun, pada satu titik gedung ini runtuh total, menimpa orang-orang secara tragis saat mereka sedang tidur," ujar Dahshan. Juru bicara Pertahanan Sipil Palestina, Mahmoud Bassal, memperingatkan sekitar 2.000 bangunan rusak yang berisiko runtuh saat ini masih dihuni oleh warga dan pengungsi di seluruh Jalur Gaza.

  3. 3. Kendala evakuasi dan peringatan datangnya musim dingin

    anak-anak Gaza di tengah reruntuhan bangunan hancur
    anak-anak Gaza di tengah reruntuhan bangunan hancur (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

    Operasi penyelamatan mengalami kendala besar akibat minimnya alat berat dan mesin khusus di wilayah Jalur Gaza. Kepala Kantor Program Pembangunan PBB (UNDP) di Gaza, Alessandro Mrakic, mengungkapkan proses pencarian terpaksa dilakukan secara manual dengan tangan kosong. "Situasinya, seperti yang Anda lihat, tragis karena kami tidak memiliki peralatan dan mesin yang dibutuhkan. Jadi ada orang-orang yang menggali dengan tangan kosong. Kita perlu bersiap (untuk lebih banyak kematian)," tutur Mrakic.

    Wali Kota Gaza Yahya al-Sarraj menekankan perlunya mengizinkan hunian portabel masuk sebelum musim dingin tiba guna menyediakan alternatif bagi warga dan pengungsi. Pejabat Palestina dan PBB menuduh pembatasan yang diterapkan Israel menjadi penyebab ketiadaan alat berat, sementara Israel menyatakan pembatasan itu bertujuan mencegah peralatan jatuh ke tangan kelompok militan. Berdasarkan catatan PBB, agresi militer di Gaza telah menghasilkan sekitar 61 juta ton puing reruntuhan yang diperkirakan membutuhkan waktu tujuh tahun untuk dibersihkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More