Gelombang Panas Picu Kebakaran Hutan Besar, Eropa Masuk Status Siaga

- Gelombang panas ekstrem memicu kebakaran besar di Portugal, Spanyol, Prancis, dan Yunani, dengan total lahan terbakar hampir 20 ribu hektare serta ribuan warga dievakuasi.
- Pemerintah Prancis memperkuat penanganan dengan bantuan pesawat pembom air dari Uni Eropa, sementara kebakaran berdampak pada pelaksanaan Tour de France dan memaksa pembatasan akses publik.
- Para ilmuwan menegaskan perubahan iklim mempercepat datangnya musim kebakaran di Eropa, dengan suhu mencapai 40 derajat Celsius dan benua ini memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global.
Jakarta, IDN Times – Gelombang panas awal musim panas yang mencetak rekor membuat kawasan selatan Eropa berubah menjadi wilayah yang sangat kering. Otoritas setempat menggambarkan kondisinya seperti powder keg (tong mesiu) yang siap meledak. Ratusan petugas pemadam kebakaran kini berupaya mengendalikan kobaran api yang telah melalap hampir 20 ribu hektare lahan di Portugal, Spanyol, Prancis, dan Yunani, sementara angin kencang serta kenaikan suhu diperkirakan memperparah kebakaran.
Dampak terberat terjadi di kaki Pegunungan Pyrenees, Prancis, yang berbatasan dengan Spanyol. Luas kebakaran di kawasan itu hampir meningkat tiga kali lipat sejak Minggu (5/7/2026) hingga mencapai sekitar 5 ribu hektare dan sempat mendekati permukiman dalam jarak 300 meter. Seorang warga Desa Trévillach yang mengungsi menggambarkan cepatnya penyebaran api.
“Api itu datang dalam jarak 300 meter dari rumah-rumah. Kami terkejut betapa cepatnya api menyebar, itu mengejutkan – hampir menimbulkan kepanikan,” katanya kepada AFP, dikutip The Guardian.
1. Prancis memperkuat penanganan kebakaran

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyampaikan kondisi kebakaran kembali memburuk karena api telah meluas ke lima departemen. Luas area yang terbakar di Prancis juga tercatat meningkat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Untuk mendukung operasi di sekitar Perpignan, Uni Eropa (UE) mengirimkan empat pesawat pembom air dari Siprus dan Swedia, sementara Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa Eropa memberikan dukungan penuh kepada Prancis.
Media BBC melaporkan lebih dari 10 ribu warga di sekitar Trévillach diperintahkan meninggalkan tempat tinggal mereka. Kebakaran tersebut juga memengaruhi pelaksanaan balap sepeda Tour de France. Demi menjaga akses kendaraan darurat, Prefek Pyrénées-Orientales Pierre Regnault de la Mothe melarang penonton mendekati bagian akhir etape ketiga sepanjang 195,9 kilometer dari Granollers, Spanyol, menuju Les Angles, Prancis. Jalur itu kini hanya dibuka bagi para pembalap dan kendaraan logistik penting.
2. Kebakaran meluas ke sejumlah negara, Yunani dikepung asap beracun

Di Spanyol, kebakaran menghanguskan 2.200 hektare lahan yang sebagian besar berada di kawasan alam lindung Les Gavarres. Otoritas Catalan menyatakan pergerakan api telah stabil dan menargetkan kebakaran padam sepenuhnya dalam pekan ini. Di sisi lain, kondisi di Provinsi Castellón masih dipantau setelah lebih dari 500 orang dievakuasi akibat api yang memasuki kawasan Taman Nasional Sierra de Espadán.
Portugal juga menghadapi kebakaran besar di Vouzela yang telah membakar 13 ribu hektare lahan. Menteri Dalam Negeri Portugal Luís Neves menggambarkan situasi ekstrem tersebut sebagai tong mesiu. Lebih dari 1.200 personel pemadam kebakaran bersama ratusan kendaraan dan pesawat dikerahkan ke lokasi.
Kebakaran besar juga dilaporkan terjadi di Pulau Hvar, Kroasia, serta Tale, Albania. Sementara di Yunani, kobaran api melalap dua pabrik di kota Thessaloniki. Otoritas Yunani bahkan mengeluarkan peringatan evakuasi untuk tiga pinggiran kota dan mendesak warga tinggal di dalam rumah serta menutup rapat pintu dan jendela akibat ancaman asap beracun dari pabrik daur ulang yang terbakar. Kebakaran besar lain juga melanda kawasan hutan pinus di Mandra, barat Athena.
3. Perubahan iklim meningkatkan risiko kebakaran jangka panjang

Gelombang panas ekstrem sepanjang Mei dan Juni sebelumnya telah memicu ribuan kematian berlebih di Eropa barat, termasuk 2.025 kematian di Prancis, 1.222 di Belgia, dan sekitar 480 di Belanda. Kelompok ilmuwan World Weather Attribution menyatakan suhu ekstrem pada Juni praktis mustahil terjadi tanpa krisis iklim. Kepala Pemadam Kebakaran Pyrénées-Orientales Eric Belgioino menegaskan dampak perubahan iklim kini sudah menjadi kenyataan di awal Juli.
Prefek Departemen Hérault Chantal Mauchet menyebut musim kebakaran tahun ini datang tiga minggu lebih awal dibandingkan biasanya. Prakiraan cuaca menunjukkan suhu di sejumlah wilayah dapat kembali mencapai 40 derajat Celsius. Lead Forecaster BBC Weather Matt Taylor memperingatkan bahwa meski gelombang panas kali ini kemungkinan tidak memecahkan rekor bulan lalu, kondisinya tetap akan ekstrem karena minimnya curah hujan, sehingga risiko kebakaran akan terus tinggi hingga pekan depan.
Data pemantauan iklim dari Copernicus juga menunjukkan Benua Eropa memanas dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global, menjadi faktor utama yang terus memperburuk gelombang panas dan kebakaran hutan di sana.





















