Turki Larang Kapal Pesiar LGBTQ+ Masuk, Pelayaran Langsung Dialihkan

- Pemerintah Turki melarang kapal pesiar Scarlet Lady yang membawa ribuan penumpang LGBTQ+ bersandar di pelabuhan Kuşadası dan Istanbul karena alasan moral serta nilai sosial masyarakat setempat.
- Pihak Atlantis Events menyatakan terkejut atas keputusan tersebut, menegaskan pelayaran bersifat wisata biasa, dan mengaku gagal membatalkan larangan meski telah menghubungi Kedutaan Besar AS di Turki.
- Larangan ini mencerminkan meningkatnya pembatasan terhadap aktivitas LGBTQ+ di Turki di bawah pemerintahan Erdoğan, termasuk pelarangan Parade Pride dan razia terhadap tempat hiburan terkait komunitas tersebut.
Jakarta, IDN Times – Otoritas Turki resmi melarang kapal pesiar Scarlet Lady bersandar di wilayahnya karena alasan nilai moral dan struktur masyarakat. Kapal yang dioperasikan oleh Atlantis Events, perusahaan asal Amerika Serikat (AS), tersebut mengangkut sekitar 2 ribu penumpang dari komunitas LGBTQ+ dalam pelayaran 10 hari yang berangkat dari Athena, Yunani, sejak 5 Juli 2026.
Berdasarkan laporan resmi Pemerintah Provinsi Aydin, pembatalan izin sandar dilakukan karena rombongan penumpang dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai lokal. Sesuai rencana, kapal dijadwalkan singgah di Pelabuhan Kuşadası pada Selasa (7/7/2026) sebelum melanjutkan pelayaran ke Istanbul. Namun, karena kedua pemberhentian tersebut dibatalkan, rute kapal langsung dialihkan menuju Kairo di Mesir dan Pulau Kreta di Yunani.
1. Penyelenggara sampaikan keberatan atas kebijakan

Menurut data manifes, sekitar 1.100 dari total 1.900 penumpang kapal tersebut berasal dari AS, sementara sisanya merupakan warga negara Inggris, Kanada, Australia, dan beberapa negara lain.
Dilansir CNN, Presiden sekaligus Direktur Utama Atlantis Events, Rich Campbell, menyampaikan bahwa perusahaan sangat terkejut atas keputusan tersebut. Ia mengatakan larangan bersandar secara aktif karena identitas kelompok baru pertama kali dialami Atlantis Events selama 36 tahun sejarah beroperasinya perusahaan.
Campbell juga menjelaskan bahwa Scarlet Lady tampak seperti kapal pesiar pada umumnya saat memasuki perairan dan bukan merupakan sebuah aksi demonstrasi atau organisasi politik. Pelayaran ini murni bertujuan untuk wisata dan belanja, di mana para penumpang tetap berkomitmen menghormati budaya di setiap negara tujuan. Pihak perusahaan pun sempat menghubungi Kedutaan Besar AS di Turki, namun tidak berhasil mengubah keputusan otoritas setempat.
2. Penumpang dan selebritas ungkap kekecewaan

Keputusan tersebut memicu reaksi dari para penumpang di dalam kapal, termasuk bintang panggung Broadway sekaligus pemenang Penghargaan Tony, Patti LuPone. Melalui akun Instagram pribadinya, artis berusia 77 tahun tersebut mengungkapkan rasa terkejut dan kecewanya karena ditolak masuk ke Turki hanya karena latar belakang orang-orang yang ada di dalam kapal. Meski begitu, ia memastikan tetap melanjutkan pelayaran menuju pelabuhan pengganti.
“Saya siap tampil untuk semua pria luar biasa di pelayaran Atlantis ini, yang pantas mendapatkan yang jauh lebih baik daripada ini,” tulis LuPone dalam unggahannya, dikutip The Guardian.
Selain LuPone, seorang jurnalis yang menjadi penumpang kapal, Randy Slovacek, turut membagikan pengalamannya. Ia mengaku pernah mengunjungi Turki menggunakan pelayaran Atlantis sebelumnya tanpa mengalami kendala sama sekali. Slovacek menyayangkan pembatalan mendadak ini karena membuat para pedagang lokal di sekitar pelabuhan Turki kehilangan potensi pemasukan besar dari kedatangan ribuan wisatawan.
3. Kebijakan pengetatan aktivitas LGBTQ+ di Turki

Secara hukum, homoseksualitas memang tidak dikriminalisasi di Turki, tetapi penolakan sosial dan retorika keras dari pemerintah terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdoğan yang didukung Partai AK secara konsisten melarang penyelenggaraan Parade Pride Istanbul setiap tahun sejak 2015 dengan alasan keamanan publik.
Aksi pengetatan bahkan berdampak ke darat. Di Istanbul, pihak kepolisian sempat merazia sebuah bar lokal setelah beredarnya brosur pariwisata yang mencantumkan nama Atlantis, meskipun Campbell menegaskan brosur tersebut bukan milik perusahaannya.
Sikap keras Turki saat ini menunjukkan perubahan besar dibanding masa lalu. Pada tahun 2000, Menteri Pariwisata Turki saat itu, Erkan Mumcu, sempat menyampaikan permohonan maaf terbuka ketika polisi mencoba melarang 800 turis gay dari kapal pesiar untuk masuk ke Kuşadası. Kala itu, pemerintah Turki menegaskan bahwa negara tidak boleh mendiskriminasi wisatawan berdasarkan preferensi seksual mereka.




















