Remaja Jepang Ditangkap usai Retas Massal Akun Anime Pakai ChatGPT

- Polisi Tokyo menangkap remaja 15 tahun asal Saitama karena meretas platform Bandai Channel dan membatalkan lebih dari 46 ribu akun langganan secara ilegal pada November 2025.
- Tersangka menggunakan ChatGPT untuk menyusun kode peretas yang mengeksploitasi celah keamanan server, mengotomatiskan pembatalan akun, dan mengakui seluruh perbuatannya tanpa motif dendam pribadi.
- Serangan ini membuat layanan Bandai Namco Filmworks terhenti sebulan, memicu kekhawatiran kebocoran data jutaan pengguna, serta mendorong polisi Jepang memperingatkan pentingnya pengawasan aktivitas digital remaja.
Jakarta, IDN Times - Kepolisian Metropolitan Tokyo menangkap seorang pelajar SMA berusia 15 tahun asal Prefektur Saitama. Remaja tersebut diduga melakukan serangan siber terhadap platform penyiaran anime, Bandai Channel.
Penangkapan resmi dilakukan pada Sabtu (4/7/2026). Langkah hukum ini diambil setelah polisi menyelidiki kasus gangguan layanan digital yang terjadi pada akhir tahun 2025.
Kasus ini mencuri perhatian publik karena pelaku memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) ChatGPT untuk melancarkan aksinya. Ia diduga memanipulasi data sistem hingga membatalkan puluhan ribu akun langganan pengguna secara ilegal.
1. Kronologi pembatalan massal puluhan ribu akun langganan

Aksi peretasan terjadi pada 4 November 2025 antara pukul 17.00 hingga 20.45 waktu setempat. Pelaku mengirimkan data palsu ke server Bandai Namco Filmworks yang secara otomatis membatalkan 46.812 akun langganan.
Tersangka mengeksploitasi celah keamanan sistem melalui komputer pribadinya. Meski pengelola sempat memblokir akses tersebut, pelaku menyiasatinya dengan mengubah alamat IP sebanyak 30 kali.
Polisi berhasil melacak jejak digital pelaku melalui analisis mendalam terhadap catatan komunikasi server perusahaan. Sebelum kasus ini, remaja tersebut ternyata pernah ditangkap pada 13 Juni 2026 atas dugaan penggunaan identitas orang lain secara ilegal.
2. Cara pelaku memanfaatkan ChatGPT untuk membuat program peretas

Penyelidikan polisi mengungkap bahwa tersangka menggunakan ChatGPT untuk menyusun dan menyempurnakan kode program jahat. Teknologi AI ini membantunya mengotomatiskan proses pembatalan massal akun pengguna.
Meski masih di bawah umur, tersangka sudah menguasai ilmu pemrograman secara otodidak. Ia mendeteksi kelemahan server terlebih dahulu sebelum meminta ChatGPT melengkapi program untuk menyerang sistem.
Tersangka telah mengakui seluruh perbuatannya. Ia juga menyatakan tidak memiliki dendam pribadi terhadap pihak perusahaan.
"Saya belajar komputer secara otodidak sejak kelas 4 SD. Saya berkonsultasi dengan ChatGPT, lalu memintanya menyelesaikan pembuatan program peretas tersebut," ujar tersangka, dikutip dari Kyodo News.
3. Imbauan pengawasan aktivitas digital bagi remaja

Serangan siber ini memaksa Bandai Namco Filmworks menghentikan total layanan penyiaran video mereka selama lebih dari satu bulan. Perusahaan harus memperbaiki sistem dan mengembalikan dana konsumen sebelum akhirnya beroperasi normal kembali pada Desember 2025.
Insiden ini sempat memicu kekhawatiran karena data pribadi milik 1,36 juta pengguna berpotensi bocor. Data yang terancam meliputi alamat email dan nama panggilan pengguna. Namun, polisi memastikan pelaku telah menghapus data tersebut sebelum sempat disalahgunakan.
Merespons tren peningkatan kejahatan siber oleh remaja, Kepolisian Jepang mengimbau orang tua dan lembaga pendidikan untuk memperketat pengawasan aktivitas digital anak.
"Kami mengingatkan masyarakat bahwa tindakan yang dianggap sepele atau sekadar iseng bisa menimbulkan dampak kerusakan yang sangat besar bagi perusahaan," kata juru bicara Kepolisian Metropolitan Tokyo, dilansir The Japan Times.





















