Sumber tadi menjelaskan, ledakan terdengar di hingga ke Provinsi Basra, Irak. Sebab, provinsi tersebut berbatasan langsung dengan wilayah teritorial Iran dan Kuwait. Ledakan itu berasal dari drone yang berhasil mengenai target. Media Iran, Tasnim News Agency, menjelaskan, kebakaran hebat terjadi di markas militer AS di Kuwait usai serangan terjadi.
Iran Serang Lagi Pangkalan Militer Amerika Serikat di Kuwait

- IRGC dilaporkan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dengan tiga drone pada 4 Agustus 2026, memicu ledakan hingga Basra dan kebakaran hebat di markas tersebut.
- Sebuah kapal kargo di lepas pantai Oman dekat Selat Hormuz terkena proyektil, sementara asal serangan belum diketahui; UKMTO sebelumnya melaporkan dua insiden serupa.
- Trump mengklaim negosiasi AS-Iran berlanjut, tetapi Iran membantahnya dan fokus berunding dengan Oman soal Selat Hormuz; Trump kemudian mengancam serangan lebih besar.
Jakarta, IDN Times - Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dikabarkan kembali menyerang pangkalan militer Amerika Serikat (AS) yang ada di Kuwait pada Selasa (4/8/2026) pagi waktu setempat. Menurut sejumlah sumber anonim dari Timur Tengah, serangan itu dilakukan menggunakan tiga drone.
1. Kapal kargo terkena proyektil di pesisir pantai Oman

Pada saat yang sama, sebuah kapal kargo yang sedang berlayar di lepas pantai Oman, dekat Selat Hormuz, dilaporkan terkenang serangan proyektil. Kabar itu disampaikan oleh lembaga pemantau lalu lintas laut asal Inggris, United Kingdom Maritime and Trade Operations (UKMTO).
Dilansir Jerusalem Post, belum diketahui dari mana proyektil tersebut berasal. Namun, proyektil itu diduga berasal dari Iran. Peristiwa serupa juga sempat terjadi pada Sabtu (1/8/2026) pekan lalu. Ketika itu, UKMTO melaporkan ada dua kapal yang terkena serangan proyektil di lepas pantai Oman.
2. Donald Trump mengklaim negosiasi AS dan Iran berlanjut

Semua serangan Iran tadi berbanding terbalik dengan klaim Presiden AS, Donald Trump. Sebab, Trump sempat mengklaim bahwa negosiasi damai AS dan Iran akan berlanjut pada Senin (3/8/2026) sore waktu setempat. Trump mengatakan, Iran bersedia melanjutkan negosiasi dengan AS karena tidak ingin kembali diserang.
“Jelas, mereka (Iran) tidak ingin diserang. Mereka tahu skala serangan itu karena mereka melihat serangan itu mulai terbentuk. Sekarang yang kami lakukan adalah berbicara dengan mereka dalam bentuk negosiasi. Ini akan dimulai besok sore,” jelas Trump kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan AS, Air Force One, pada Minggu (2/8/2026) dilansir Al Jazeera.
3. Trump mengancam akan kembali menyerang Iran

Namun, klaim Trump tadi langsung dibantah oleh Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan negaranya tidak akan melakukan negosiasi apa pun dengan Negeri Paman Sam. Sebab, Iran saat ini sedang menggelar negosiasi dengan Oman soal kontrol di Selat Hormuz.
Tidak lama setelah itu, Trump langsung memberikan ancaman ke Iran. Dalam pernyataannya, Trump mendesak Iran untuk segera melanjutkan negosiasi dengan AS agar kesepakatan bisa diraih. Trump menegaskan ini merupakan kesempatan terakhir bagi Teheran. Jika tidak, Washington akan kembali meluncurkan serangan yang lebih besar daripada sebelumnya.
"Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk menandatangani dokumen yang baik. Saya ingin memberi mereka setiap kesempatan terakhir sebelum pemenggalan kepala," ungkap Trump dilansir France 24.





















