Intelijen AS: Iran Enggan Negosiasi Akhiri Perang

- Laporan intelijen AS menyebut Iran masih enggan bernegosiasi mengakhiri perang karena merasa memiliki kekuatan cukup untuk menghadapi AS dan sekutunya.
- Klaim Donald Trump bahwa Iran meminta gencatan senjata bertentangan dengan laporan intelijen, sementara ia menegaskan akan terus menekan Iran hingga tunduk.
- Menlu AS Marco Rubio menyatakan negosiasi dengan Iran sedang berlangsung dan berpotensi dilakukan secara langsung, sejalan dengan target Trump mengakhiri perang dalam dua hingga tiga pekan.
Jakarta, IDN Times - Sejumlah agen intelijen Amerika Serikat melaporkan hasil investigasi terkait progres negosiasi AS dan Iran untuk mengakhiri perang. Laporan tersebut termuat di dalam laporan New York Times pada Rabu (1/4/2026) yang dikutip oleh Jerusalem Post, Kamis (2/4/2026).
Dalam laporan tersebut, sejumlah agen intelijen AS menyebut Iran kini masih enggan bernegosiasi dengan AS untuk mengakhiri perang. Sebab, menurut mereka, kekuatan Iran kini masih sangat mumpuni untuk menyerang AS dan sekutunya, Israel. Dalam laporan tersebut, mereka juga mengatakan Iran masih ogah berdamai dengan AS.
1. Donald Trump menyebut Iran minta gencatan senjata

Laporan intelijen AS ini bertentangan dengan klaim Presiden Donald Trump pada Rabu. Kala itu, Trump mengklaim Iran sudah meminta gencatan senjata kepadanya. Jika merujuk pada klaim Trump, berarti, Iran saat ini sudah ingin berdamai dan mengakhiri perang dengan Negeri Paman Sam.
"Kami akan mempertimbangkannya ketika Selat Hormuz terbuka, bebas, dan tanpa hambatan. Sampai saat itu, kami akan menghancurkan Iran hingga musnah (dan) mengembalikannya ke Zaman Batu," ujar Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social merespons permintaan gencatan senjata dari Iran.
Dalam pernyataannya, Trump menjelaskan, permintaan tersebut datang dari seorang pemimpin Iran. Namun, ia tidak memberi tahu siapa pemimpin Iran yang memintanya untuk melakukan gencatan senjata. Apakah itu Presiden Iran, Masoud Pezeshkian atau Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
2. Menteri Luar Negeri AS menyebut negosiasi dengan Iran sedang berjalan

Laporan intelijen AS tadi juga bertentangan dengan pernyataan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Dalam pernyataannya, Rubio mengatakan, AS kini sedang melakukan negosiasi dengan Iran.
Bahkan, Rubio mengatakan AS dan Iran berpotensi untuk melakukan pertemuan langsung agar proses negosiasi bisa berjalan lebih intim. Jika Iran bersedia, kata dia, AS juga tidak akan sungkan membuka pintu bagi Iran.
“Pembicaraan sedang berlangsung. Ada potensi untuk pertemuan langsung di beberapa titik. Kami akan selalu terbuka untuk itu," ucap Rubio.
3. Trump yakin perang dengan Iran bisa berakhir dalam 2 atau 3 pekan

Menurut Rubio, negosiasi ini bertujuan agar perang antara AS dengan Iran berakhir tepat waktu berdasarkan target dari Trump. Sebab, Trump menargetkan perang antara AS dan Iran akan berakhir dalam 2 atau 3 pekan. Trump juga yakin dirinya bisa mencapai target tersebut.
"Kami sedang menyelesaikan pekerjaan ini (perang melawan Iran). Saya rasa, mungkin dalam waktu dua minggu. Namun, (mungkin bisa) beberapa hari lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut," ujar Trump kepada awak media di Gedung Putih, Washington DC, pada Selasa (31/3/2026), seperti dilansir BBC.



















