Selain meninggalkan korban tewas dan korban hilang, banjir di Nepal juga menyisakan kisah pilu dari para korban terdampak yang selamat dari bencana tersebut. Mereka mengaku banjir bandang yang terjadi pada 26 Agustus pekan lalu membuat mereka kehilangan harta benda dan keluarga tercinta. Hal ini lantas membuat mereka mengalami syok dan rasa sedih yang tidak terbendung.
Kisah Pilu Korban Banjir Nepal, Kehilangan Harta dan Keluarga Tercinta

- Banjir bandang di Nepal pada 26 Agustus menewaskan hampir 800 orang dan membuat lebih dari 3.000 lainnya hilang, menurut data AP News per 31 Agustus 2026.
- Penyintas kehilangan harta dan keluarga: Ganga Maya Tamang hanya memiliki pakaian yang dikenakan, sementara Kopila Tamang kehilangan rumah serta 17 anggota keluarganya.
- Pencarian dan evakuasi masih berlangsung di medan berat; Nepal meminta bantuan teknis asing setelah banyak korban diduga tertimbun lumpur dan reruntuhan.
Jakarta, IDN Times - Bencana banjir bandang di Nepal menjadi peristiwa yang begitu menakutkan. Sebab, bencana itu terjadi tiba-tiba hingga menewaskan ratusan orang.
Berdasarkan data terbaru dari AP News yang dirilis pada Senin (31/8/2026), korban tewas imbas bencana katastropik tersebut sudah tembus hampir 800 orang. Sementara itu, lebih dari 3.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
1. Seorang korban terdampak banjir mengaku hanya punya pakaian yang ia kenakan

Banjir dan longsor di Nepal, ratusan orang masih hilang. (AFP/Prakash Mathema) Ganga Maya Tamang, perempuan Nepal berusia 39 tahun yang menjadi salah satu korban banjir, mengaku dirinya kehilangan semua harta yang ia punya. Bahkan, setelah banjir terjadi, ia mengaku hanya punya pakaian yang ia kenakan. Sementara yang lainnya hanyut tersapu lumpur dan air ketika banjir bandang menyerang rumahnya yang terletak di perbatasan Nepal dan Tibet, China, pekan lalu.
Tamang mengaku banjir tersebut masih membuat dirinya syok. Sebab, menurutnya, bencana seperti itu belum pernah terjadi di area tempat tinggalnya.
“Saya kehilangan semua yang saya miliki. Saat ini, saya hanya punya pakaian yang saya kenakan,” cerita Tamang kepada CNN.
2. Korban lain ada yang kehilangan 17 anggota keluarganya

ilustrasi korban jiwa (pexels.com/Brett Sayles) Kisah pilu lain datang dari Kopila Tamang, salah satu warga Nepal yang juga selamat dari terjangan banjir. Perempuan yang kini berusia 20 tahun itu mengatakan, banjir yang menerjang tempat tinggalnya di Distrik Rasuwa telah menghancurkan rumahnya yang baru saja dibangun. Selain itu, 17 anggota keluarganya, termasuk ibu, nenek, dan sejumlah keponakannya, juga tewas.
“Saya merasa sangat kesepian. Saya juga merasa sangat kehilangan. Dia masih sangat kecil. Dia pikir dia akan kembali,” ujar Kopila saat menceritakan perasaan sang adik usai kehilangan sang ibu.
Kopila mengatakan, saat banjir dan longsor menerjang, ia sedang berada di Ibu Kota Nepal, Kathmandu. Oleh karena itu, Kopila berhasil selamat karena sedang tidak ada di lokasi bencana. Setelah mendengar kabar bencana menerjang wilayah tempat tinggalnya, Kopila mengaku langsung meninggalkan Kathmandu untuk melihat apa yang terjadi.
3. Proses pencarian dan evakuasi korban masih berlangsung

Personel Angkatan Darat Nepal membawa jenazah para korban tewas banjir bandang (Prabin Ranabhat / AFP Saat ini, proses pencarian dan evakuasi korban banjir di Nepal masih berlangsung. Sebab, masih banyak korban yang dinyatakan hilang. Mereka diduga tertimbun lumpur dan terjebak reruntuhan bangunan yang timbul pascabencana. Namun, evakuasi kini terhambat karena medan yang berat.
Oleh karena itu, Pemerintah Nepal kini mulai meminta bantuan teknis kepada pihak asing untuk membantu evakuasi para korban. Padahal, Nepal sebelumnya sempat menolak bantuan internasional karena mereka menilai bisa mencari dan mengevakuasi para korban sendirian.
Cerita sejumlah warga Nepal yang selamat dari banjir tadi menunjukkan betapa dahsyatnya bencana tersebut. Namun, apa boleh dikata. Nasi kini sudah menjadi bubur. Oleh karena itu, hal yang bisa dilakukan para korban saat ini hanyalah menerima apa yang sudah terjadi.
















