Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lirik Mineral Kritis, AS Ingin Perkuat Kerja Sama dengan Indonesia

Lirik Mineral Kritis, AS Ingin Perkuat Kerja Sama dengan Indonesia
Ilustrasi San fransisco Amerika Serikat (AS). (IDN/Fahrul Nurullah)
  • Amerika Serikat ingin memperkuat kerja sama mineral kritis dengan Indonesia, yang dinilai penting karena memiliki nikel dan tembaga.

  • Washington membangun rantai pasok mineral yang lebih terdiversifikasi dan tidak bergantung pada satu negara.

  • Kesepakatan perdagangan resiprokal Indonesia-AS turut memuat mineral kritis dan disebut berpotensi memperkuat kemitraan ekonomi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perlukah kerja sama mineral kritis RI-AS segera diformalkan?
Share Article

Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) ingin memperkuat kerja sama dengan Indonesia di bidang mineral kritis, seiring upaya Washington membangun rantai pasok mineral yang tidak bergantung pada satu negara. Indonesia dinilai memiliki posisi penting karena kekayaan sumber daya mineral, termasuk nikel dan tembaga.

Hal tersebut disampaikan Senior Official AS untuk Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), Casey Mace, dalam konferensi pers virtual terkait pertemuan APEC di Dalian, China, Selasa (1/9/2026). Ia menyebut Indonesia sebagai salah satu mitra ekonomi penting bagi Amerika Serikat.

Mace mengatakan, Washington tengah mencari cara untuk meningkatkan kerja sama mineral kritis dengan Indonesia. Menurutnya, sektor tersebut menjadi salah satu prioritas utama AS dalam membangun hubungan ekonomi dengan negara-negara mitranya.

“Indonesia adalah mitra ekonomi yang sangat penting bagi Amerika Serikat. Dalam hal mineral kritis, hal tersebut merupakan prioritas nyata bagi Amerika Serikat. Karena itu, kami telah mencari cara untuk memperkuat kerja sama di bidang mineral kritis dengan Indonesia,” kata Mace.

  1. 1. AS ingin Indonesia menjadi bagian rantai pasok mineral kritis mereka

    Ilustrasi San fransisco Amerika Serikat (AS).
    Ilustrasi San fransisco Amerika Serikat (AS). (IDN/Fahrul Nurullah)

    Mace mengatakan, Amerika Serikat berkepentingan membangun rantai pasok mineral kritis yang tidak bergantung pada satu negara. Menurut dia, kebutuhan tersebut juga menjadi perhatian sejumlah negara mitra AS.

    Ia mengatakan, Washington telah menandatangani sekitar 40 nota kesepahaman (MoU) dengan berbagai negara untuk memperkuat kemitraan mineral kritis dan membangun rantai pasok yang lebih terdiversifikasi.

    “Kami telah menandatangani sekitar 40 MoU dengan berbagai negara untuk memperkuat kemitraan mineral kritis dan mengembangkan rantai pasok mineral kritis,” ujar Mace.

    Menurut Mace, AS juga telah mengumumkan sejumlah investasi besar di sektor mineral kritis, termasuk dengan Australia dan Jepang. Washington juga telah membahas kerja sama mineral kritis bersama negara-negara anggota Quad, yakni Jepang, India, dan Australia.

    Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai dapat memainkan peran penting. Mace menyebut Washington ingin meningkatkan sekaligus memformalkan bentuk kerja sama dengan Indonesia di bidang tersebut.

    “Indonesia, kami percaya dapat menjadi mitra penting bagi kami dalam hal ini, dan kami ingin memformalkan sebagian dari kemitraan tersebut. Kami sedang mencari cara untuk melakukannya,” katanya.

  2. 2. Kesepakatan dagang RI-AS disebut buka peluang baru

    Donald Trump sedang berpidato.
    potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

    Selain mineral kritis, Mace menyinggung kesepakatan perdagangan yang baru dicapai antara Indonesia dan Amerika Serikat. Menurut dia, kesepakatan tersebut berpotensi membuka lebih banyak peluang bagi kedua negara sekaligus memperkuat hubungan ekonomi bilateral.

    Mace menyebut kesepakatan perdagangan resiprokal yang baru dicapai kedua negara sebagai perkembangan penting. Ia mengatakan, implementasi dan ratifikasi kesepakatan tersebut diharapkan dapat menciptakan lebih banyak peluang bagi perekonomian Indonesia dan AS.

    “Kami juga baru-baru ini mencapai kesepakatan mengenai perdagangan resiprokal, yang sangat penting, dan setelah diratifikasi saya kira akan menghasilkan lebih banyak peluang bagi kedua perekonomian kita serta memperkuat kemitraan ekonomi,” kata Mace.

    Ia menambahkan, mineral kritis menjadi salah satu elemen dalam kesepakatan tersebut. Namun, Washington masih ingin melakukan lebih banyak hal untuk memperkuat kerja sama mineral kritis dengan Jakarta.

    Kerja sama itu menjadi bagian dari agenda ekonomi pemerintahan Presiden Donald Trump yang menempatkan penguatan ekspor dan daya saing AS sebagai salah satu prioritas. Washington juga mendorong akses yang lebih luas bagi produk dan jasa Amerika di kawasan Asia Pasifik.

  3. 3. AS dorong agenda ekonomi America First di APEC

    Presiden China Xi Jinping (kanan) saat bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di sela-sela KTT APEC di Busan, Korsel, pada 30 Oktober 2025. (x.com/SpoxCHN_MaoNing)
    Presiden China Xi Jinping (kanan) saat bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di sela-sela KTT APEC di Busan, Korsel, pada 30 Oktober 2025. (x.com/SpoxCHN_MaoNing)

    Mace mengatakan, partisipasi AS dalam APEC merupakan bagian dari upaya Washington menjalankan kebijakan ekonomi dan perdagangan America First pemerintahan Trump. Menurutnya, APEC menjadi platform penting bagi AS untuk membentuk kebijakan ekonomi di kawasan sekaligus memperkuat daya saing Amerika.

    Dalam pertemuan APEC di Dalian selama dua pekan terakhir, AS mengirim lebih dari 100 peserta dan memimpin sejumlah lokakarya yang membahas berbagai isu ekonomi. Di antaranya teknologi kelautan, perdagangan jasa, ketahanan rantai pasok, serta ketenagakerjaan.

    Pada bidang teknologi kelautan, delegasi AS mendorong penggunaan teknologi Amerika untuk membantu negara-negara di kawasan menangani praktik penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (IUU fishing), serta persoalan sampah laut.

    AS juga memimpin pembahasan mengenai perdagangan jasa yang diarahkan untuk membantu pemerintah di kawasan mengurangi pembatasan perdagangan dan memperluas akses pasar bagi ekspor jasa digital Amerika.

    Sementara dalam isu ketahanan rantai pasok, Washington mendorong perdagangan yang lebih efisien melalui penggunaan dokumen perdagangan digital dan sistem perdagangan tanpa kertas.

    Selain itu, AS mengangkat isu ketenagakerjaan dengan mendorong pendekatan yang lebih harmonis terhadap praktik ketenagakerjaan di kawasan. Mace mengatakan sejumlah praktik ketenagakerjaan di kawasan belum memenuhi standar AS sehingga dinilai dapat memengaruhi daya saing pekerja Amerika.

    “Kami terus merasa APEC melayani kebijakan luar negeri dan perdagangan America First milik Amerika Serikat dan Presiden dengan baik, memungkinkan kami membantu membentuk lingkungan bisnis dan regulasi di kawasan,” kata Mace.

    Menurut Mace, hal tersebut pada akhirnya diarahkan untuk membuka pasar bagi produk ekspor AS sekaligus mendukung sektor swasta Amerika yang berkembang di kawasan Asia Pasifik.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More