Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pelapor PBB Akui Dampak Luar Biasa Jika WNI Kompak Boikot Produk Pro Israel

4 min read
Pelapor PBB Akui Dampak Luar Biasa Jika WNI Kompak Boikot Produk Pro Israel
Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese saat jumpa pers di Jakarta (21/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Francesca Albanese menilai kekuatan konsumen Indonesia dapat memberi tekanan finansial kepada perusahaan global yang dinilai diuntungkan dari pendudukan Israel.

  • Menurut Albanese, tindakan ekonomi perlu dilakukan secara luas dan bersama, termasuk terhadap sektor militer, energi, serta pariwisata.

  • Indonesia dinilai memiliki komunitas aktif dan kepedulian terhadap Palestina yang dapat mendukung kampanye tersebut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese, menilai masyarakat Indonesia memiliki kekuatan besar untuk memberikan tekanan finansial terhadap perusahaan global yang dinilai mendapatkan keuntungan dari pendudukan Israel di Palestina.

Albanese bahkan mencontohkan kekuatan konsumen di Pulau Jawa yang memiliki populasi lebih dari 200 juta jiwa. Menurutnya, jika sebagian masyarakat secara kompak tidak membeli produk atau menggunakan layanan perusahaan tertentu, dampaknya akan sangat besar.

"Di Pulau Jawa lebih dari 200 juta jiwa. Jika sepersepuluh dari populasi di Jawa tidak menggunakan Airbnb, atau tidak minum Coca-Cola, atau tidak membeli makanan di fast food McDonald's, dampaknya pasti akan luar biasa! Atau membeli baju di toko Zara, pasti akan memberikan dampak yang signifikan," kata dia dalam acara diskusi publik yang digelar di Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026) malam. .

  1. 1. Boikot dinilai bisa beri tekanan finansial

    IMG_20261021_210617.jpg
    Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese saat jumpa pers di Jakarta (21/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Albanese mengatakan tekanan terhadap Israel tidak hanya dapat dilakukan melalui jalur politik. Menurutnya, masyarakat juga dapat menggunakan kekuatan ekonomi untuk mengubah sistem yang selama ini berjalan.

    Ia menyebut sejumlah negara telah melakukan boikot dan memberikan sanksi terhadap Israel. Namun, menurutnya, perubahan sistem membutuhkan tindakan bersama yang dilakukan secara luas.

    "Dan kalau kita ingin mencari solusi, karena di sini kita lihat banyak negara melakukan boikot, memberikan sanksi kepada Israel, tapi sebenarnya kita juga bisa mengubah sistem yang berlaku saat ini," ujarnya.

    Albanese menilai masyarakat harus bekerja sama dan mengambil tindakan secara kolektif agar tekanan yang diberikan memiliki dampak lebih besar.

    "Kami yakin ini adalah masalah yang kita hadapi. Kalau kita bekerja sama, bersatu padu, kita bisa membuat perubahan. Kami yakin sekali," katanya.

    Ia kemudian menekankan bahwa kerja sama tersebut tidak cukup jika dilakukan secara terpisah-pisah.

    "Tetapi bukan hanya bekerja sama, kita harus berpikir bersama-sama, mengambil tindakan bersama-sama. Jangan sebagian-sebagian saja," tutur Albanese.

  2. 2. Soroti industri militer hingga pariwisata

    Bendera Israel (pexels.com/cottonbro studio)
    Bendera Israel (pexels.com/cottonbro studio)

    Albanese mengatakan, terdapat berbagai bentuk kerja sama ekonomi dan politik yang dinilai memberikan keuntungan dari pendudukan Israel di Gaza. Ia menyebut industri militer, energi, hingga pariwisata.

    "Lalu juga ada persekutuan atau kerja sama ekonomi, politik untuk hal-hal tertentu, seperti contohnya ini terjadi di industri militer, di energi, dan juga pariwisata. Bahkan sektor pariwisata bisa juga menerapkan model seperti ini," kata dia.

    Menurut Albanese, berbagai sektor tersebut dapat memperoleh keuntungan dari kondisi yang terjadi di Palestina.

    "Dan semua hal tersebut bisa mendapatkan keuntungan akibat pendudukan Israel di Gaza. Jadi Israel benar-benar menggunakan semua sumber daya yang dimilikinya untuk memberikan keuntungan bagi mereka," ujarnya.

    Karena itu, ia menilai tekanan dari masyarakat melalui keputusan konsumsi dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong perubahan.

  3. 3. Indonesia bisa pimpin kampanye

    Produk pro Israel (X.com/imyours_all)
    Produk pro Israel (X.com/imyours_all)

    Albanese menilai Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk menggalang gerakan tersebut. Ia menyebut masyarakat Indonesia selama ini memiliki kepedulian terhadap isu Palestina.

    "Nah, jika kita melakukan ini, ini luar biasa. Kita bisa memimpin kampanye ini. Karena di sini komunitasnya sangat aktif dan Indonesia merupakan negara yang kuat," kata Albanese.

    Ia kemudian mengingat pengalamannya saat berkunjung ke Indonesia pada 2015 atau 2016. Saat itu, ia melihat banyak bendera Palestina dikibarkan di sejumlah wilayah Indonesia.

    "Dan saya ingat mungkin ketika itu tahun 2015, 2016 ke Indonesia, saya lihat banyak bendera Palestina dikibarkan di Aceh, di Lombok, di mana-mana, ketika itu tahun 2015, 2016," ujarnya.

    Menurut Albanese, dukungan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia terhadap penderitaan rakyat Palestina telah muncul sejak lama.

    "Dan pastinya tahun itu juga, periode itu, Palestina sudah mengalami penderitaan dari Israel, tetapi kesadaran itu sudah muncul di Indonesia," katanya.

    Karena itu, Albanese kembali menekankan pentingnya kekuatan ekonomi masyarakat. Ia meminta masyarakat dan otoritas di berbagai tingkatan ikut mendorong perubahan.

    "Dan di sini kita harus sadar bahwa kita bisa melakukan tekanan finansial. Dan jumlah Anda itu besar sekali! Kita bisa memberikan tekanan tersebut," ujar Albanese.

    Ia juga mendorong masyarakat mengingatkan pihak berwenang agar mengambil tindakan di tingkat nasional maupun daerah untuk mendukung upaya tersebut.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More