Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sepekan Lebih Unjuk Rasa di Albania, Mahasiswa Tuntut PM Mundur

3 min read
Sepekan Lebih Unjuk Rasa di Albania, Mahasiswa Tuntut PM Mundur
Bendera Albania (pixabay.com/jorono)
  • Protes mahasiswa di Albania memasuki hari ketujuh, bermula dari biaya kuliah mahal lalu meluas menjadi kemarahan publik atas korupsi dan tingginya biaya hidup.
  • Di Tirana, aksi ricuh melibatkan lemparan batu, petasan, dan bom molotov; polisi menggunakan water cannon serta gas air mata, menahan lima orang dan mencari 15 lainnya.
  • Aksi mogok kuliah meluas ke empat kota, sementara PM Edi Rama menawarkan dialog tanpa syarat tetapi menolak mundur dan berunding dengan pelaku perusakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Aksi unjuk rasa menentang pemerintah di Albania terus berlanjut hingga memasuki hari ketujuh pada Senin (19/10/2026). Protes yang berawal dari keluhan mahasiswa terkait mahalnya biaya kuliah ini meluas menjadi kemarahan masyarakat terhadap masalah korupsi dan tingginya biaya hidup.

Kekecewaan warga yang kian memuncak tersebut bahkan berujung pada desakan agar para menteri di kabinet segera mengundurkan diri. Menyikapi situasi yang makin memanas, Perdana Menteri Albania, Edi Rama, kembali menawarkan ruang dialog terbuka tanpa syarat kepada para demonstran.

  1. 1. Kericuhan unjuk rasa yang pecah di ibu kota Tirana

    Massa di ibu kota Tirana berkumpul di depan kantor Kementerian Pendidikan untuk menuntut para menteri melepaskan jabatannya, sehingga aparat memperketat pengamanan di sekitar lokasi. Namun, kericuhan mulai pecah di dekat gedung Mahkamah Banding ketika pengunjuk rasa melempar batu dan petasan hingga memecahkan kaca jendela gedung tersebut.

    Situasi makin tegang di dekat kantor Kementerian Dalam Negeri saat massa melempari barisan polisi dengan batu, kembang api, dan bom molotov. Untuk meredakan keadaan, polisi antihuru-hara menyemprotkan air dan gas air mata guna membubarkan kerumunan di Taman Rinia. Pihak kepolisian menyatakan telah menahan lima pengunjuk rasa dan masih mencari 15 orang lainnya yang diduga terlibat aksi anarkistis.

  2. 2. Aksi mogok kuliah yang meluas ke berbagai daerah

    Tekanan terhadap pemerintah tidak hanya berlangsung di ibu kota, melainkan meluas ke sejumlah daerah lain di Albania. Gelombang aksi dukungan mahasiswa berlangsung di empat kota besar, yaitu Lezhe, Vlore, Elbasan, dan Shkoder. Di kota-kota tersebut, para mahasiswa menggelar aksi mogok kuliah bersama dan melakukan pawai melintasi jalan-jalan utama.

    Meluasnya unjuk rasa ini menunjukkan bahwa keresahan yang sama juga dialami oleh warga di luar pusat pemerintahan. Melalui aksi mogok belajar ini, mahasiswa ingin mengingatkan pemerintah bahwa krisis ekonomi dan masalah pengelolaan pendidikan telah menyulitkan kehidupan generasi muda di berbagai penjuru negeri.

  3. 3. Sikap pemerintah dalam menanggapi tuntutan demonstran

    Menanggapi unjuk rasa yang belum mereda, Perdana Menteri Edi Rama menegaskan kesiapan pemerintah untuk berdialog langsung kapan saja, di mana saja, dan tanpa syarat apa pun. Meski demikian, ia secara tegas menolak desakan untuk mundur dari jabatannya dan menolak berunding dengan pihak-pihak yang merusak fasilitas umum. Pemerintah pun meminta para koordinator aksi untuk mencegah tindakan anarkistis serta melarang keterlibatan anak di bawah umur.

    Rama mengingatkan bahwa unjuk rasa secara damai merupakan hak setiap warga negara, tetapi aksi kekerasan tetap melanggar hukum. Bersamaan dengan itu, kelompok masyarakat sipil dan kalangan media di Albania mengimbau semua pihak untuk menghentikan kekerasan. Mereka meminta para elite politik dapat menahan diri, sekaligus mendesak aparat kepolisian agar bertindak secara tepat dan tidak berlebihan saat menghadapi massa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More