AS Gelontorkan Rp4 Miliar untuk Jaga Bangkai USS Houston di Indonesia

AS mengalokasikan lebih dari Rp4 miliar untuk melindungi bangkai USS Houston di Selat Sunda sebagai situs bersejarah Perang Dunia II.
Kerja sama dengan KKP dan Organization of Sustainable Exotica Village mencakup pembentukan serta pelatihan tiga kelompok pengawasan berbasis masyarakat.
Pengawasan ditujukan untuk mencegah penangkapan ikan ilegal dan pengambilan benda dari situs, sekaligus menjaga warisan sejarah bersama Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengalokasikan lebih dari Rp4 miliar untuk membantu melindungi bangkai kapal perang USS Houston yang berada di Selat Sunda, Indonesia. Bantuan tersebut disiapkan untuk mendukung upaya pelestarian situs bersejarah yang berkaitan dengan Perang Dunia II.
Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar AS di Jakarta, Joy Sakurai, mengatakan, kondisi situs bangkai kapal tersebut menjadi perhatian pemerintah AS. Dia menyoroti adanya kerusakan di kawasan sekitar USS Houston serta aktivitas penangkapan ikan ilegal.
Untuk mengatasi persoalan itu, AS akan bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Organization of Sustainable Exotica Village. Kerja sama ini mencakup pembentukan dan pelatihan tiga kelompok pengawasan berbasis masyarakat.
“Selama dua tahun ke depan, Amerika Serikat akan menginvestasikan lebih dari Rp4 miliar melalui program Ambassador’s Fund for Cultural Preservation,” kata Sakurai di @america, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
1. Bangkai USS Houston menghadapi ancaman kerusakan
Sakurai menyoroti kerusakan yang terjadi di sekitar situs USS Houston. Selain itu, penangkapan ikan ilegal juga menjadi perhatian dalam upaya menjaga kawasan tersebut.
Bangkai kapal USS Houston bukan sekadar peninggalan sejarah militer. Bagi AS, situs itu juga merupakan makam perang yang memiliki arti penting bagi Angkatan Laut AS dan keluarga para pelaut yang gugur.
“USS Houston merupakan makam perang bagi Angkatan Laut Amerika Serikat dan keluarga-keluarga Amerika. Situs ini mengingatkan kita pada harga yang harus dibayar untuk kebebasan,” ujar Sakurai.
Karena itu, perlindungan situs tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga warisan sejarah sekaligus menghormati para awak kapal yang kehilangan nyawa dalam pertempuran.
2. AS gandeng KKP bentuk tiga kelompok pengawasan
Sebagai bagian dari program perlindungan, AS akan bekerja sama dengan KKP dan Organization of Sustainable Exotica Village untuk membentuk serta melatih tiga kelompok pengawasan berbasis masyarakat.
Kelompok-kelompok tersebut akan memantau kawasan bangkai kapal dan membantu mencegah penangkapan ikan ilegal serta pengambilan benda dari situs tanpa izin.
“Kelompok-kelompok ini akan memantau situs bangkai kapal, membantu mencegah penangkapan ikan ilegal, serta mencegah pengambilan benda dari situs tanpa izin,” kata Sakurai.
Pendekatan berbasis masyarakat tersebut diharapkan dapat memperkuat pengawasan terhadap situs bersejarah di perairan Indonesia. Namun, Sakurai tidak merinci dalam pernyataannya mengenai pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan yang ditemukan di sekitar bangkai kapal.
3. AS ingin jaga warisan sejarah bersama Indonesia
Program ini dijalankan melalui Ambassador’s Fund for Cultural Preservation, program pemerintah AS yang telah berjalan sekitar 25 tahun untuk mendukung pelindungan warisan budaya di berbagai negara.
Sakurai mengatakan, kerja sama AS dengan Indonesia dalam pelestarian warisan budaya sebelumnya juga mencakup perlindungan manuskrip, pemugaran kuil, serta pemeliharaan situs bersejarah lainnya.
“Kami akan melakukan berbagai kampanye agar USS Houston tetap menjadi simbol sejarah bersama, keamanan maritim, serta hubungan antarmasyarakat,” ujar dia.
Dia juga mengapresiasi Indonesia yang dinilai memahami pentingnya situs tersebut dan terus berupaya menjaganya. Pada 2026, Indonesia dan AS memperingati 77 tahun hubungan diplomatik kedua negara serta tujuh tahun kemitraan strategis komprehensif.
Sakurai berharap upaya pelindungan USS Houston dapat menjadi contoh kerja sama kedua negara dalam menjaga warisan sejarah sekaligus memperkuat hubungan bilateral.





















