Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pipa Minyak Utama Arab Saudi Dihantam Drone dari Irak

Pipa Minyak Utama Arab Saudi Dihantam Drone dari Irak
ilustrasi pipa minyak (pexels.com/Wolfgang Weiser)
  • Pipa minyak utama Arab Saudi sepanjang 1.200 kilometer diserang drone pada 10 September 2026, menyebabkan kerusakan parah, sejumlah korban luka, dan penghentian produksi minyak sementara.
  • Riyadh menyatakan drone ditembakkan dari wilayah Irak, sementara pelaku belum diketahui; Arab Saudi menegaskan akan mengambil langkah untuk melindungi keamanan, fasilitas, dan penduduknya.
  • Pemerintah Irak mengecam serangan itu, memecat seorang komandan militer, menutup perbatasan dengan Arab Saudi, serta berjanji mengungkap dalang di balik serangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pipa minyak utama milik Arab Saudi dikabarkan terkena serangan drone. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (10/9/2026). Riyadh dalam keterangannya pada Jumat (11/9/2026) menjelaskan, peristiwa ini membuat mereka terpaksa menghentikan produksi minyaknya sampai pipa tersebut berhasil diperbaiki. 

Arab Saudi menjelaskan, pipa minyak yang terkena serangan tadi berfungsi mengalirkan pasokan minyak dari wilayah mereka di timur hingga ke barat. Pipa itu memiliki panjang 1.200 kilometer. Riyadh menambahkan, serangan itu menyebabkan kerusakan yang cukup parah pada pipa dan melukai sejumlah orang. Namun, mereka tidak merinci berapa jumlah pasti korban luka tersebut.   

  1. 1. Serangan drone berasal dari arah Irak

    Wilayah Iran, Irak, dan Lebanon di Timur Tengah.
    potret wilayah Irak (pexels.com/Lara Jameson)

    Hingga saat ini, belum diketahui siapa yang bertanggung jawab atas serangan drone yang menyasar pipa minyak Arab Saudi tadi. Namun, Riyadh menjelaskan bahwa drone tersebut ditembakkan dari wilayah Irak. Riyadh mengatakan akan melakukan langkah pencegahan agar serangan serupa tidak terjadi lagi pada kemudian hari. 

    “Kerajaan Arab Saudi menegaskan bahwa pihaknya berhak untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi kedaulatannya, keamanannya, fasilitasnya, dan penduduknya,” demikian bunyi pernyataan resmi Pemerintah Arab Saudi, seperti dikutip Times of Israel.

  2. 2. Irak mengecam serangan drone ke pipa minyak Arab Saudi

    Ali Al-Zaidi sedang berada di kantornya.
    potret Perdana Menteri Irak, Ali Al-Zaidi (commons.wikimedia.org/المكتب الإعلامي لرئيس الوزراء)

    Serangan terhadap pipa minyak Arab Saudi ini langsung direspons oleh Pemerintah Irak. Dalam pernyataannya, Perdana Menteri Irak, Ali Al-Zaidi, mengecam serangan tersebut. Tidak lama setelah itu, Al-Zaidi langsung memecat seorang komandan militer Irak karena mendengar serangan tersebut berasal dari wilayah negaranya. 

    Lebih lanjut, Al-Zaidi juga memerintahkan penutupan wilayah perbatasan Arab Saudi dan Irak untuk tindakan pencegahan. Al-Zaidi mengatakan, akan segera mengungkap siapa dalang di balik serangan terhadap pipa minyak Arab Saudi tersebut. Sebab, ia menyebut serangan itu benar-benar tidak bisa diterima.

  3. 3. Pipa minyak Arab Saudi yang terkena serangan dibangun pada 1980-an

    Ilustrasi pipa minyak dan gas.
    ilustrasi pipa minyak dan gas (pexels.com/Wolfgang Weiser)

    Sebagai informasi, pipa minyak Arab Saudi yang terkena serangan tadi dibangun pada 1980-an. Pipa tersebut punya peran yang sangat krusial bagi Riyadh untuk melakukan ekspor dan impor produk minyak. Apalagi, sejak Selat Hormuz ditutup oleh Iran.

    Meski belum diketahui, serangan tersebut diduga dilakukan oleh sejumlah milisi pro-Iran yang ada di Irak. Sebab, beberapa bulan yang lalu, Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) sempat terlibat aksi saling serang dengan milisi pro-Iran yang ada di Irak. Oleh karena itu, serangan ini diduga merupakan balasan dari mereka terhadap Riyadh.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More