Prabowo Prediksi Perang di Ukrania Lebih Lama dari Perang Dunia I-II

- Presiden Prabowo memprediksi perang Rusia-Ukraina, yang dimulai pada 2022 dan masih berlangsung hingga 2026, dapat melampaui durasi Perang Dunia I maupun Perang Dunia II.
- Prabowo menyebut konflik Ukraina telah menimbulkan jutaan korban serta berdampak luas terhadap harga pangan dan BBM, menunjukkan perang regional bisa memengaruhi banyak negara.
- Selain Ukraina, Prabowo menyoroti konflik di Gaza, Iran-Selat Hormuz, Myanmar, serta ketegangan Thailand-Kamboja; Indonesia terus mendukung upaya perdamaian.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto memprediksi perang Ukraina dengan Rusia akan lebih lama dari Perang Dunia I dan II. Hal itu disampaikan Prabowo saat bertemu dengan Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pusat dan Daerah di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
"Kita masih menghadapi yang saya waktu pertemuan-pertemuan pertama kita di awal pemerintahan saya, saudara datang ke saya, pun saya sudah di mana-mana saya sudah warning, bahkan sebelumnya pun saya sudah warning, hati-hati situasi dunia, situasi geopolitik sudah sangat-sangat rawan, sangat-sangat rawan. Di mana-mana terjadi perang dahsyat. Di, di kontinen di benua Eropa perang besar. Perang besar ini di Ukraina ini sudah lebih lama dari Perang Dunia Pertama," ujar Prabowo.
"Ah ini mungkin akan lebih lama dari Perang Dunia II. Perang Dunia II mulai September 1939 habis itu '40, '41, '42, '43 habis itu pertengahan Mei '45, jadi lima tahun atau empat, empat tahun setengah," sambungnya.
Prabowo mengatakan, perang Ukraina dengan Rusia mulai 2022. Namun, hingga kini perang tersebut masih berlangsung.
"Perang Ukraina mulai tahun '22 ya, '22, '23, '24, '25 sudah masuk '26. Mungkin Perang Ukraina lebih lama dari Perang Dunia Kedua juga. Jutaan sudah korban, dan kita baru mengerti bahwa perang di satu bagian dari bumi kita punya pengaruh ke mana-mana, kepada harga pangan, harga BBM dan sebagainya," kata dia.
Selain itu, Presiden Prabowo juga menyinggung perang di Gaza, Palestina dengan Israel juga masih belum damai. Kini, perang juga terjadi antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran yang merembet ke Selat Hormuz.
"Di kita pun yang kita tidak duga-duga, yang kita anggap ASEAN adalah zona perdamaian, terjadi perang di Myanmar, berkecamuk perang saudara dengan belasan atau puluhan milisi-milisi bersenjata didukung oleh negara-negara lain. Sahabat-sahabat kita Thailand dan Kamboja juga pertempuran yang juga masih penuh dengan ketegangan, kita terus berusaha untuk mendukung upaya-upaya perdamaian," ucap Prabowo.

















