“Perjanjian ini harus dihormati oleh semua negara. Sebagai Presiden Republik Kolombia, pada bulan ini di mana negara tersebut memegang jabatan presiden Dewan Keamanan PBB, saya mendukung dan menghormati kesepakatan itu karena itu berarti lebih banyak kehidupan bagi dunia,” tulis Petro di media sosial X, Sabtu (20/6/2026), seperti dikutip Anadolu Agency.
Presiden Kolombia Desak Israel Setop Serang Lebanon

- Presiden Kolombia Gustavo Petro mendesak Israel menghentikan serangan ke Lebanon karena dinilai mengancam kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
- Petro berharap Presiden AS Donald Trump menggunakan pengaruhnya untuk membujuk Israel menghentikan agresi, mengingat kedekatannya dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
- Meski ada gencatan senjata, Israel kembali menyerang Lebanon hingga menewaskan 20 orang, sementara Iran menutup Selat Hormuz sebagai bentuk balasan atas serangan tersebut.
Jakarta, IDN Times - Presiden Kolombia, Gustavo Petro, mendesak Israel untuk berhenti menyerang Lebanon. Sebab, Petro menilai aksi tersebut bisa merusak kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Petro juga meminta seluruh warga Israel untuk mendesak negaranya agar berhenti menyerang Lebanon.
1. Petro berharap Donald Trump bisa membujuk Israel berhenti serang Lebanon

Dalam pernyataannya, Petro juga berharap Presiden AS, Donald Trump bisa membujuk Israel untuk menghentikan serangan ke Lebanon. Sebab, menurutnya, Trump punya kapabilitas yang besar untuk meminta Israel menghentikan agresi. Terlebih, Trump juga punya kedekatan dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, karena keduanya sudah menjadi sekutu sejak lama.
“Saya percaya sudah saatnya Presiden Donald Trump didukung sepenuhnya oleh umat manusia untuk mengakhiri konflik mengerikan ini dan bagi rakyat Israel untuk membantu kami memastikan bahwa pemerintah mereka berhenti menyerang tetangga mereka, yang bisa menjadi saudara dan saudari mereka, bukan musuh mereka. Kami berdiri bersama kehidupan dan perdamaian persaudaraan umat manusia,” lanjut Petro di X.
2. Israel kembali menyerang Lebanon meski sudah ada gencatan senjata

Sebetulnya, Israel dan Hizbullah sudah menyepakati gencatan senjata pada Jumat (19/6/2026) pukul 16.00 sore waktu setempat. Namun, tidak lama setelah itu, pasukan pertahanan Israel (IDF) justru kembali melakukan serangan ke Lebanon. Serangan itu dilakukan ke Kota Jezzine, Tyre, dan Nabatieh di Lebanon selatan pada Jumat malam. IDF berdalih serangan itu dilakukan untuk membalas Hizbullah yang lebih dulu menyerang mereka.
Alih-alih berhenti menyerang, IDF justru kembali melanjutkan agresi militernya ke Lebanon pada Sabtu (20/6/2026) pagi waktu setempat. Kala itu, serangan ditujukan ke Kota Arabsalim di Lebanon selatan. Dilansir Reuters, serangan itu kini sudah menewaskan total 20 orang.
3. Iran tutup lagi Selat Hormuz untuk balas serangan Israel ke Lebanon

Serangan yang dilakukan Israel ke Lebanon pada Jumat dan Sabtu kemarin membuat Iran marah. Sebagai balasan, negara Islam Syiah itu lantas memutuskan kembali menutup Selat Hormuz secara penuh. Padahal, Iran sebelumnya sudah membuka selat itu usai menyepakati perdamaian dengan AS.
Iran sendiri sebetulnya sudah berulang kali meminta Israel berhenti menyerang Lebanon. Bahkan, mereka juga memasukkan Israel dan Lebanon ke dalam perjanjian damai dengan AS agar perang kedua negara bisa berakhir. Sayangnya, Israel tetap melanjutkan agresinya karena ingin membasmi seluruh anggota Hizbullah di Lebanon.


















