Ekonomi Tertekan, Iran Naikkan Harga BBM Bagi Pemakai di Atas Kuota

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bagi konsumen dengan tingkat pemakaian tertinggi mulai Selasa (8/9/2026). Kebijakan ini diambil oleh otoritas setempat di tengah tekanan ekonomi yang melanda negeri tersebut akibat situasi perang dan sanksi ekonomi Amerika Serikat.
Penyesuaian tarif ini diterapkan bagi para pengendara yang kendaraannya mengonsumsi bensin melebihi batas kuota 110 liter per bulan di seluruh wilayah Iran. Kenaikan harga BBM ini menjadi langkah kedua yang diberlakukan pemerintah sejak Desember demi menekan krisis energi domestik.
1. Aturan kuota baru dan lonjakan tarif bensin

ilustrasi stasiun pengisian bahan bakar (pexels.com/Derwin Edwards) Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, pada Minggu (6/9/2026) menyampaikan bahwa penyesuaian tarif bensin dilakukan berdasarkan "kondisi saat ini" yang tengah dihadapi negara. Melalui aturan baru tersebut, masyarakat yang membeli bensin melebihi jatah kuota 110 liter per bulan wajib membayar 100 ribu rial per liter. Nilai tersebut setara dengan 4 sen dolar AS atau setara Rp704 berdasarkan nilai tukar pasar bebas, hingga 7 sen dolar AS atau setara Rp1.232 per liter.
Dilansir The Jerusalem Post, kuota pertama dan kedua yang mencakup hingga 110 liter per bulan tidak mengalami perubahan tarif. Pengendara tetap dapat membeli 60 liter pertama seharga 15 ribu rial per liter serta tambahan 50 liter berikutnya dengan harga 30 ribu rial per liter. Pemerintah juga menyatakan bahwa dana tambahan dari kenaikan tarif ini akan dialokasikan langsung kepada rumah tangga.
Pihak berwenang menyatakan penyesuaian harga pada kuota ketiga tersebut tidak berdampak pada mayoritas masyarakat. Direktur Utama perusahaan distribusi minyak negara, Keramat Veis Karami, pada Senin (7/9/2026) menyebutkan tarif baru ini hanya memengaruhi 15 persen dari total konsumen. Kebijakan harga bensin tetap diawasi secara ketat karena demonstrasi besar pernah terjadi pada 2019 akibat persoalan yang sama.
2. Tingginya defisit konsumsi dan lonjakan inflasi

potret antrean pengisian bensin di Teheran (Fars Media Corporation, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Lonjakan konsumsi bahan bakar di Iran sempat menyentuh rekor tertinggi sebesar 145 juta liter per hari pada Agustus. Angka penggunaan harian tersebut melampaui kapasitas produksi domestik yang hanya mencapai 122 juta liter per hari, sehingga sisanya harus ditutupi melalui impor. Kalangan ahli menilai tingginya konsumsi bensin dipicu oleh keberadaan kendaraan serta suku cadang yang sudah aus, serta fasilitas transportasi umum yang belum memadai.
Dilansir Arab News, kenaikan harga BBM dikhawatirkan dapat memicu lonjakan inflasi tahunan Iran yang sudah berada di kisaran 67 persen menurut data pusat statistik pemerintah. Tekanan ekonomi kian membebani penduduk seiring melemahnya daya beli dan depresiasi mata uang ke rekor terendah. Pada Senin (7/9/2026), mata uang dolar AS tercatat diperdagangkan hingga menyentuh level 2,22 juta rial.
3. Penjagaan ketat SPBU dan keluhan masyarakat

ilustrasi aparat keamanan (pexels.com/Kindel Media) Aparat keamanan berseragam dinas maupun berpakaian preman bersiaga di sekitar stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Satu jam usai kebijakan berlaku, dua dari delapan SPBU yang dipantau oleh Associated Press sempat ditutup sementara untuk mengatur ulang tarif mesin pompa bahan bakar. Sementara itu, enam stasiun lainnya tetap beroperasi dan dipadati antrean kendaraan warga yang ingin mengisi bensin.
Seorang warga Teheran berusia 34 tahun, Asghar Rahimi, menilai langkah kenaikan tarif ini tidak akan berhenti begitu saja. "Jumlah yang kecil ini tidak dapat membantu pemerintah mengelola masalah seperti kemiskinan dan pengangguran," kata Rahimi. Dia menduga otoritas Iran akan kembali menaikkan harga bensin dalam beberapa bulan mendatang.
Kekhawatiran serupa diungkapkan oleh warga lain bernama Ali Salari (55) yang cemas lonjakan harga bensin akan menyeret naiknya harga pangan pokok seperti roti dan daging. Sementara itu, Hamid Mirzei (43) menyebut belanja kebutuhan pangan dasar kini bisa menembus 100 juta rial atau sekitar 73 dolar AS atau setara Rp1,28 juta. "Hidup menjadi sulit bagi kita semua. Bahkan kebutuhan pokok sekalipun menjadi tidak terjangkau. Jika harga bensin ikut naik, situasi hanya akan menjadi jauh lebih buruk," tutur Mirzei.






















