PM Albania Edi Rama Tolak Mundur Meski Demo Rusuh Meluas

- PM Albania Edi Rama menolak mundur di tengah demonstrasi hari keenam di Tirana, yang menuntut perbaikan universitas, biaya kuliah lebih rendah, lapangan kerja, dan pemberantasan korupsi.
- Bentrokan demonstran dan aparat meluas di pusat Tirana; polisi memakai peluru karet, gas air mata, serta meriam air. Sejak Selasa, 272 orang terluka, termasuk 169 personel kepolisian.
- Protes merupakan puncak ketidakpuasan berbulan-bulan sejak aksi menolak proyek resor mewah pada Mei. Kedutaan AS dan Komisi Eropa menyerukan penahanan diri serta respons aparat yang proporsional.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Albania, Edi Rama, menolak tuntutan mengundurkan diri saat unjuk rasa antipemerintah yang diwarnai kekerasan di Tirana yang sudah memasuki hari keenam pada Minggu (18/10/2026). Lewat siaran video berdurasi lebih dari satu jam di media sosial, pemimpin pemerintahan Partai Sosialis sejak 2013 itu menegaskan tidak akan meletakkan jabatannya.
Sejak Selasa (13/10/2026), ratusan demonstran berunjuk rasa di ibu kota untuk menuntut perbaikan kondisi universitas, penurunan biaya kuliah, penciptaan lapangan kerja, dan pemberantasan korupsi. Massa kembali berkumpul di depan gedung Kementerian Pendidikan pada Minggu siang sambil meneriakkan tuntutan agar Rama mundur. Akibat situasi dalam negeri yang memanas, pihak Albania membatalkan jadwal kunjungan resmi Rama untuk menemui Kanselir Austria, Christian Stocker, pada Senin (19/10/2026).
1. Rama tuding intervensi pihak asing dan ingatkan posisi Albania di UE

aksi protes di Kota Tirana, Albania pada Juni 2026 (Albinfo, CC BY 4.0 , via Wikimedia Commons) Dalam pidatonya, Rama menuding intervensi pihak asing berada di balik gelombang unjuk rasa tersebut. PM yang sedang menjalani masa jabatan keempat ini mengklaim pemerintahannya tidak tergoyahkan dan telah berupaya maksimal memberantas korupsi. Ia juga menyatakan kesiapannya mendengarkan tuntutan mahasiswa terkait biaya pendidikan, tetapi menegaskan pelaku perusakan fasilitas umum harus dimintai pertanggungjawaban.
Rama turut memperingatkan bahwa kerusuhan yang terus berlangsung dapat menghambat langkah Albania untuk bergabung dengan Uni Eropa (UE). Negara tersebut telah berstatus kandidat anggota UE sejak 2014 dan menargetkan perolehan keanggotaan penuh pada 2030.
"Warga Albania harus berpikir jernih. Apakah mereka menginginkan kondisi ini, atau ingin bergabung dengan Uni Eropa?" ujar Rama, dilansir Al Jazeera.
Sementara itu, analis politik asal Tirana, Mentor Nazarko, menilai Rama gagal memahami akar permasalahan di negaranya dan belum menemukan solusi yang tepat. Nazarko menyebut legitimasi Rama telah memudar di mata warga setelah membuang banyak waktu tanpa menyelesaikan krisis yang ada.
2. Bentrokan meluas di pusat Kota Tirana dan melukai ratusan orang

ilustrasi unjuk rasa (unsplash.com/Vlad Tchompalov) Upaya aparat membubarkan massa di depan gedung Kementerian Pendidikan pada Minggu memicu bentrokan sengit yang meluas ke pusat Kota Tirana. Demonstran melemparkan batu, bom molotov, serta petasan ke arah petugas di jalan utama dan alun-alun kota. Massa juga membakar tempat sampah, kantor polisi, pintu masuk gedung Kementerian Dalam Negeri, serta memecahkan kaca kantor pusat Partai Sosialis.
Kepolisian membalas serangan tersebut dengan menembakkan peluru karet, gas air mata, dan meriam air untuk memukul mundur kerumunan. Sebelum aksi dimulai, pemilik toko dan kantor di pusat kota telah menutup pintu serta jendela dengan pelat besi, sedangkan petugas kota mencabut batu jalanan agar tidak dilempar demonstran. Puncak kekerasan terparah terjadi pada Sabtu ketika massa membakar mobil untuk dijadikan barikade serta merusak gedung pengadilan, bank, dan kantor pos.
Pejabat Departemen Keamanan Publik Kepolisian Albania, Albert Nushi, mengatakan aparat menangkap 54 orang di Tirana pada Sabtu dan 27 di antaranya menghadapi proses hukum pidana. Kepolisian pertama kali menggunakan peluru karet pada hari itu untuk merespons skala serangan terhadap petugas dan mengimbau massa menjauhi perusuh bertopeng.
Laporan Kementerian Kesehatan Albania mencatat total 272 orang terluka sejak bentrokan pecah pada Selasa, termasuk 169 personel kepolisian. Pada bentrokan Sabtu, sebanyak 65 orang terluka dengan 37 di antaranya polisi dan 12 korban harus menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara pada Minggu, 16 polisi kembali terluka dan 14 di antaranya terjadi saat massa menyerang kantor polisi.
3. Puncak ketidakpuasan publik selama berbulan-bulan
Gelombang unjuk rasa saat ini merupakan puncak ketidakpuasan publik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di negara Balkan tersebut. Aksi protes pertama tahun ini, yang dijuluki Revolusi Flamingo, bermula pada Mei 2026. Saat itu, warga menentang proyek pembangunan resor wisata mewah di Albania selatan yang terafiliasi dengan Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
"Saya berunjuk rasa demi kehidupan yang lebih baik, penegakan hukum, serta melawan kejahatan dan korupsi. Pemerintah tidak menghormati dan justru menentang kami," kata Lura Elezi, seorang penulis dan aktivis berusia 38 tahun, dilansir Türkiye Today.
Jurnalis stasiun televisi lokal TV Klan, Lindita Karadaku, menilai baik Rama maupun kalangan pemuda yang berunjuk rasa sama-sama bersikeras pada pendirian mereka sehingga akhir krisis ini sulit diprediksi. Merespons situasi tersebut, Kedutaan Besar AS di Tirana pada Sabtu malam menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan menjaga ketenangan.
Komisi Eropa melalui pernyataan tertulis turut mengecam penggunaan kekerasan yang terjadi di Tirana dan sejumlah kota lainnya. Lembaga itu menegaskan respons aparat harus tetap proporsional dalam menangani aksi massa.




















