Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Serangan Bersenjata di Nigeria Tengah Tewaskan Sedikitnya 25 Orang

Serangan Bersenjata di Nigeria Tengah Tewaskan Sedikitnya 25 Orang
ilustrasi insiden penembakan (unsplash.com/Max Kleinen)

  • Kelompok bersenjata menyerang Desa Bin-Per di Mangu, Plateau, pada 17 Agustus 2026, menewaskan sedikitnya 25 warga, termasuk perempuan dan anak-anak, dengan tembakan serta parang.

  • Penyerang menyisir rumah warga pada malam hari; polisi telah mengerahkan personel, sementara jumlah korban meningkat setelah warga yang terluka parah meninggal.

  • Kekerasan terjadi di tengah konflik peternak Fulani dan petani lokal terkait lahan, air, serta sumber daya; kelompok pemuda mendesak pemerintah memperkuat perlindungan dan keadilan bagi warga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Gelombang kekerasan melanda kawasan tengah Nigeria setelah kelompok bersenjata menyerang Desa Bin-Per di wilayah Mangu, Negara Bagian Plateau, pada Senin malam (17/8/2026). Insiden tragis tersebut mengakibatkan sedikitnya 25 warga lokal tewas akibat sabetan senjata tajam dan tembakan.

Para pelaku dilaporkan mendatangi rumah-rumah warga secara mendadak saat para penduduk sedang tertidur lelap. Peristiwa mematikan ini memicu kekhawatiran meluas terkait aksi balasan di tengah konflik agraria dan etnis yang terus berulang di wilayah tersebut.

  1. 1. Kronologi penyerangan dan kesaksian penyintas lokal

    ilustrasi senjata api
    ilustrasi senjata api (pixabay.com/Piotr Zakrzewski)

    Aksi pembantaian tersebut terjadi secara tiba-tiba ketika sebagian besar penduduk desa sedang beristirahat. Kelompok penyerang bergerak menyisir kawasan pemukiman warga dari rumah ke rumah sambil membawa senjata api dan parang. Sebagian besar korban tewas dilaporkan terdiri dari kelompok rentan, yaitu kelompok perempuan serta anak-anak.

    Kepada AFP, seorang penyintas bernama Mathew Joseph membagikan kesaksian mencekam saat dirinya terbangun akibat kegaduhan di luar rumah. "Kami sedang tidur, kami mendengar suara-suara, beberapa orang di lingkungan kami berteriak," ujar Joseph. Ia menambahkan, "Aku melihat melalui jendela dan melihat beberapa pria bersenjata mendekati rumah kami. Sebelum mereka tiba, kami berhasil melarikan diri."

    Jumlah korban jiwa dipastikan meningkat setelah beberapa warga yang mengalami luka berat mengembuskan napas terakhir. Pejabat dewan lokal Lemun Le'an Iliya mengonfirmasi 24 korban tewas, termasuk satu warga yang meninggal di rumah sakit.

    Seorang warga setempat, Amos John, menyebutkan total korban meninggal dunia telah mencapai sedikitnya 25 orang. Sementara itu, pihak kepolisian setempat menginformasikan bahwa personel keamanan telah dikerahkan ke lokasi kejadian untuk melakukan penilaian situasi.

  2. 2. Eskalasi perselisihan sumber daya dan iklim di Plateau

    ilustrasi tambang
    ilustrasi tambang (pexels.com/I Love Pixel)

    Negara Bagian Plateau di wilayah Middle Belt Nigeria telah lama menjadi titik panas perselisihan komunal yang berkepanjangan. Konflik ini umumnya melibatkan kelompok peternak nomaden etnis Fulani dan komunitas petani lokal yang menetap. Tekanan perubahan iklim serta ekspansi pemukiman membuat ketersediaan lahan subur dan jalur pasokan air semakin terbatas.

    Aksi kekerasan di Desa Bin-Per diduga kuat berkaitan erat dengan tindakan balasan dari perselisihan yang terjadi sebelumnya. Pada minggu sebelumnya, dua orang peternak dilaporkan tewas di kawasan tersebut. Kejadian itu kemudian disusul oleh dugaan aksi balasan ke desa tetangga, Maitimbe, yang menyebabkan puluhan rumah warga hangus terbakar.

    Persaingan memperebutkan wilayah tambang mineral turut memperkeruh suasana geopolitik di tingkat lokal. Selain faktor ekonomi dan perebutan ruang hidup, perbedaan etnis serta keyakinan juga kerap dimanfaatkan untuk memicu kerusuhan. Kelemahan sistem penegakan hukum di wilayah pedalaman sering kali membiarkan lingkaran dendam ini berputar tanpa henti.

  3. 3. Tuntutan jaminan keamanan bagi masyarakat terancam

    ilustrasi polisi
    ilustrasi polisi (pexels.com/Kindel Media)

    Gelombang aksi kekerasan berulang ini memicu gelombang protes keras dari kelompok pemuda dan aktivis kemasyarakatan lokal. Kelompok Mwaghavul Youth Movement mendesak pemerintah federal Nigeria untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi keamanan di wilayah tersebut. Mereka menilai penanganan aparat selama ini belum mampu memberikan perlindungan nyata bagi warga desa yang terancam.

    Juru bicara Mwaghavul Youth Movement, Tubwot Joël Sunday, menegaskan bahwa jatuhnya korban jiwa tidak boleh dianggap sebagai hal lumrah. "Penghancuran komunitas secara berulang, pembunuhan warga sipil tidak berdosa, pembakaran rumah, dan pengrusakan lahan pertanian tidak boleh terus diperlakukan sebagai insiden biasa," ungkap Sunday. Ia meminta pemerintah bertindak tegas untuk menghentikan aksi kejahatan dan memberikan keadilan bagi para korban.

    Seperti dilansir Arab News, Palang Merah setempat membenarkan adanya insiden penyerangan maut tersebut di lapangan. Kendati demikian, penanganan konflik di kawasan ini memerlukan solusi jangka panjang yang mendasar. Pemerintah Nigeria diharapkan dapat menyelesaikan perdebatan hak atas tanah agar keharmonisan antarkomunitas dapat kembali terwujud.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More