Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Stok Rudal AS Menipis Drastis akibat Perang dengan Iran

Stok Rudal AS Menipis Drastis akibat Perang dengan Iran
peluncuran rudal dari USS Fitzgerald (DoD photo by U.S. Navy, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Laporan internal Pentagon menyebut perang lima bulan dengan Iran menguras stok rudal AS, termasuk sekitar 80 persen pencegat THAAD, separuh Patriot, serta hampir seluruh ATACMS dan PrSM.
  • Penipisan amunisi membatasi opsi serangan AS dan memicu kekhawatiran negara Teluk atas pertahanan udara; pejabat militer disebut memperingatkan risiko eskalasi kepada Presiden Trump.
  • Pemerintahan Trump membantah krisis amunisi, tetapi produksi bulanan terbatas; CSIS memperkirakan pemulihan stok THAAD membutuhkan setidaknya tiga tahun, sementara AS mendorong drone murah dan peningkatan produksi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Stok rudal jelajah dan sistem pertahanan udara militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan menipis drastis setelah lima bulan terlibat perang dengan Iran. Laporan internal Pentagon mengungkapkan bahwa militer AS telah menghabiskan sebagian besar pasokan rudal presisi paling canggih milik mereka.

Penurunan persediaan amunisi ini mulai memicu kekhawatiran di kalangan komandan militer dan sekutu AS di kawasan Teluk. Situasi tersebut tidak hanya membatasi opsi serangan ke Iran, tetapi juga mengancam kapasitas pertahanan para sekutu.

1. Stok rudal serang dan pertahanan AS terkuras

rudal Tomahawk
rudal Tomahawk (U.S. Navyderivative work: The High Fin Sperm Whale, Public domain, via Wikimedia Commons)

Militer AS telah menguras hampir 80 persen stok rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara THAAD sejak perang Iran dimulai. Selain THAAD, persediaan rudal pencegat Patriot juga telah menyusut sekitar separuh dari total stok sebelum konflik meluas.

Berdasarkan estimasi Center for Strategic and International Studies (CSIS), persediaan awal rudal Patriot AS yang berjumlah sekitar 2.200 unit kini menyusut hingga tersisa sekitar 800 unit. Sementara itu, rudal pencegat THAAD yang sebelumnya berjumlah 452 unit kini hanya tersisa kurang dari separuhnya.

Tidak hanya senjata pertahanan, rudal serang AS juga berada dalam kondisi kritis. Angkatan Darat AS dilaporkan telah menggunakan hampir seluruh persediaan rudal jarak jauh canggih jenis ATACMS dan Precision Strike Missiles (PrSM). Selain itu, persediaan rudal jelajah Tomahawk milik Angkatan Laut AS juga telah berkurang hampir 50 persen.

2. Penipisan stok amunisi batasi opsi militer AS

kapal USS Gerald Ford milik AS
kapal USS Gerald Ford milik AS (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist 2nd Class Jackson Adkins, Public domain, via Wikimedia Commons)

Menipisnya pasokan persenjataan tersebut membawa dampak strategis terhadap dinamika konflik di Timur Tengah. Negara-negara Teluk yang bergantung pada sistem pertahanan udara AS dilaporkan mulai khawatir tidak mampu menghalau potensi serangan balasan Iran.

Kekhawatiran dari para sekutu tersebut menjadi salah satu alasan Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan balasan ke Iran pada akhir pekan lalu. Para pejabat militer AS telah mengingatkan Trump mengenai bahaya kehabisan amunisi jika eskalasi terus ditingkatkan.

"Kurangnya rudal pencegat berarti serangan konvensional dapat berbalik merugikan jika drone bunuh diri musuh berhasil menembus pertahanan dalam jumlah besar," ujar seorang sumber dari internal militer AS, dilansir CNN pada Selasa (4/8/2026).

Selain itu, para analis pertahanan memperingatkan bahwa krisis ini dapat mengikis kemampuan militer AS di kawasan lain. AS dikhawatirkan akan kesulitan merespons krisis mendadak yang melibatkan musuh lain seperti China atau Rusia.

3. Pemerintahan Trump bantah adanya krisis amunisi

Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pemerintah AS membantah kabar yang menyebut militer mereka mengalami kekurangan amunisi. Gedung Putih menegaskan bahwa persediaan senjata AS masih sangat mencukupi untuk menjalankan seluruh target strategis Presiden Trump.

"Militer Amerika adalah yang terkuat di dunia dan memiliki semua yang dibutuhkan untuk bertindak pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden," ujar juru bicara utama Pentagon Sean Parnell, dilansir Fox News.

Meski ada bantahan, usaha pemulihan stok amunisi diperkirakan memakan waktu yang cukup lama. Saat ini, militer AS hanya menerima sekitar 15 rudal Tomahawk dan 20 rudal Patriot baru setiap bulannya.

CSIS memperkirakan butuh waktu setidaknya tiga tahun untuk mengembalikan persediaan rudal THAAD ke level sebelum perang. Untuk mengatasi keterlambatan ini, pemerintah AS mulai mendorong penggunaan drone berbiaya rendah dan mendesak kontraktor pertahanan untuk meningkatkan kapasitas produksi senjata mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More