Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Zelenskyy Desak Barat Tanggapi Pengiriman Pasukan Korut ke Rusia

Presiden AS Joe Biden dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy berjalan di samping katedral Saint Michael, di tengah serangan Rusia terhadap Ukraina, di Kyiv, Ukraina (20/2/2023). ANTARA FOTO/REUTERS/Gleb Garanich/aww.
Presiden AS Joe Biden dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy berjalan di samping katedral Saint Michael, di tengah serangan Rusia terhadap Ukraina, di Kyiv, Ukraina (20/2/2023). ANTARA FOTO/REUTERS/Gleb Garanich/aww.
Intinya sih...
  • Presiden Ukraina, Zelenskyy, mendesak Barat untuk menghentikan pengiriman pasukan Korut ke Rusia.
  • Zelenskyy mengklaim pihaknya belum menerima suplai senjata dari sekutu Barat untuk melawan Korut.
  • Pasukan AS dan Korsel memperingatkan Korut untuk menarik pasukannya dari Rusia atau akan dihadapi dengan tindakan keras.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mendesak Barat untuk menanggapi pengiriman pasukan Korea Utara (Korut) ke Rusia. Ia menyebut, Barat harus berhenti mengamati dan mulai mengambil tindakan nyata sebelum kedua pihak berkonfrontasi dalam peperangan.

”Ribuan pasukan dari Korut berada dekat di perbatasan Ukraina. Kami akan secara terpaksa untuk mempertahankan diri melawan mereka,” ungkap Zelenskyy, dalam videonya di Telegram, Jumat (1/11/2024), dilansir Reuters.

Zelenskyy mengklaim, pihaknya telah mengetahui secara pasti letak-letak pasukan Korut bakal ditempatkan oleh Rusia. Namun sejauh ini, tambahnya, sekutu Barat mereka sama sekali belum menyuplai mereka dengan senjata akurat seperti rudal jarak jauh untuk menghancurkan musuhnya.

”Alih-alih memberikan senjata jarak jauh, Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Jerman hanya mengamati,” lanjutnya.

1. Tindakan harus benar-benar segera diambil

Pasukan Ukraina. (Twitter.com/Defence of Ukraine)
Pasukan Ukraina. (Twitter.com/Defence of Ukraine)

Video berdurasi tiga menit itu diunggah dengan diselingi foto-foto tentara Korut, peluncuran rudal, gambar perang, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Zelenskyy berkali-kali mengulang agar Barat segera mengambil tindakan.

"Semua orang di dunia yang benar-benar ingin perang Rusia melawan Ukraina tidak meluas tidak boleh hanya menonton. Mereka harus bertindak. Kata-kata tentang tidak dapat diterimanya eskalasi dan perluasan perang harus disertai dengan tindakan," katanya.

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, Antony Blinken, mengatakan pada Kamis bahw sudah ada 10 ribu tentara Korut di Rusia. Sebanyak 8 ribu di antaranya ditempatkan di wilayah Kursk selatan, tempat pasukan Ukraina melancarkan serangan pada Agustus.

2. Tak akan ada yang pulang dengan kondisi hidup

Rapat DK PBB pada Jumat 8 Desember 2023 (twitter.com/@antonioguterres)
Rapat DK PBB pada Jumat 8 Desember 2023 (twitter.com/@antonioguterres)

AS dan Korsel telah memperingatkan Korut untuk menarik pasukannya dari Rusia. Berbicara di hadapan Dewan Keamanan PBB, utusan AS untuk PBB, Robert Wood, secara gamblang mengancam bahwa pasukan Korut tak akan pulang dengan kondisi hidup jika nekat untuk melanjutkan operasi di Ukraina.

“Saya akan menyarankan Ketua Kim Jong-un untuk berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan yang gegabah dan berbahaya seperti itu,” imbuh Wood dilansir The Guardian.

Meski begitu, Menteri Pertahanan (Menhan) AS, Lloyd Austin yakin, pasukan Korut bakal tetap melanjutkan operasinya di Rusia. Serupa dengan itu, Menhan Korsel, Kim Yong-hyun, menyebut bahwa pengiriman pasukan Korut ke Rusia akan membuat skala konflik meluas dan menimbulkan ancaman di semenanjung Korea.

”Itu karena ada kemungkinan besar bahwa Pyongyang akan meminta transfer teknologi dari Rusia untuk membantu program persenjataannya, termasuk senjata nuklir taktis, rudal balistik antarbenua, dan satelit pengintaian, sebagai imbalan atas pengerahan pasukannya,” katanya.

3. Rusia tak konfirmasi ada pengerahan pasukan Korut

Presiden Rusia, Vladimir Putin (twitter.com/President of Russia)
Presiden Rusia, Vladimir Putin (twitter.com/President of Russia)

Rusia sejauh ini belum mengonfirmasi terkait pengerahan pasukan Korut ke wilayahnya. Presiden Rusia, Vladimir Putin, juga tidak membantah pengerahan pasukan Korut ke negaranya tetapi juga menolak untuk mengonfirmasinya.

Sementara itu, utusan Moskow untuk PBB, Vassily Nebenzia, mengatakan pada Rabu bahwa pasukan Pyongyang tidak akan hadir di garis depan perang. Ia menganggap setiap pernyataan yang beredar merupakan kebohongan terang-terangan dan menuduh Washington beserta London melakukan penyebaran disinformasi.

Asisten sekretaris jenderal PBB untuk Eropa, Miroslav Jenca, sementara itu mengatakan bahwa PBB telah mengikuti laporan tentang pengerahan pasukan Korut ke Rusia. Ia menyebut langkah itu menimbulkan kekhawatiran serius, namun belum mengonfirmasinya secara resmi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us