Zelenskyy Tuduh Trump Desak Ukraina Menyerah kepada Rusia

- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuduh Donald Trump mendorong Ukraina menyerah melalui penundaan Patriot dan gangguan Starlink, yang dinilai melemahkan pertahanan terhadap serangan Rusia.
- Zelenskyy menolak Ukraina dikorbankan demi mengakhiri perang dan sebelumnya memperingatkan kekalahan dapat memicu perpindahan hingga 20 juta warga Ukraina ke negara-negara Eropa.
- Di tengah tekanan AS, kepercayaan publik kepada Zelenskyy naik menjadi 57 persen menurut KIIS; Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membantah Washington sengaja menahan bantuan senjata.
Jakarta, IDN Times - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy pada Minggu (18/10/2026), menuduh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mendesak Ukraina untuk menyerah kepada Rusia. Ia memperingatkan, tindakan Washington dapat melemahkan pertahanan Ukraina.
Sebelumnya, Zelenskyy sudah memperingatkan bahwa kekalahan Ukraina akan mendorong gelombang migrasi yang jauh lebih besar. Ia mengklaim sebanyak 20 juta warga Ukraina akan pergi ke negara-negara Eropa jika kalah perang karena diusir oleh Rusia.
1. Zelenskyy tolak Ukraina dikorbankan untuk akhiri perang
.jpg)
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. (President Of Ukraine from Україна, CC0, via Wikimedia Commons) Zelenskyy mengatakan bahwa tekanan yang dialami Ukraina terkait penundaan pengiriman sistem pertahanan udara Patriot dan gangguan Starlink dorong negaranya menyerah. Sebab, alat tersebut penting bagi Ukraina dalam mengadang serangan Rusia.
“Saya percaya langkah-langkah dari AS semakin meyakinkan Ukraina ke arah penyerahan diri. Namun, saya tidak mau berpikir bahwa Amerika percaya perang dapat diakhiri dalam waktu dekat dengan mengorbankan Ukraina, tapi ini yang terlihat,” ungkapnya.
Pernyataan ini disampaikan menyusul perselisihan antara Trump dan Zelenskyy belakangan ini. Tuduhan ini didorong oleh perjanjian antara Washington dan Moskow untuk membuka blokade penjualan solar dari Rusia.
2. Kepercayaan publik ke Zelenskyy naik di tengah tekanan dari AS

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. (President.gov.ua, CC BY 4.0 , via Wikimedia Commons) Tekanan dari AS justru membuat kepercayaan publik Ukraina terhadap Zelenskyy melonjak. Berdasarkan survei terbaru dari Kyiv International Institute of Sociology (KIIS) yang dipublikasikan pada Selasa (20/10/2026), kepercayaan publik kepada Zelenskyy naik menjadi 57 persen.
Dilansir TVP World, KIIS mengatakan, perubahan pandangan AS dan tekanan dari luar kepada Ukraina justru mendorong warga memilih pemimpinnya saat ini. Namun, masih awal untuk menentukan apakah kenaikan ini berlangsung dalam jangka panjang.
3. Rubio bantah AS berusaha menghancurkan Ukraina

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio. (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons) Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan bahwa negaranya tidak mengubah pandangannya sejak dimulainya invasi skala besar Rusia ke Ukraina. Ia memastikan bahwa AS tidak dengan sengaja menahan sistem pertahanan udara.
“Tidak ada yang pengiriman senjata yang sengaja dihentikan ke Ukraina. Semua yang sudah dilakukan untuk membantu Ukraina tetap sama. Tidak ada yang berubah sama sekali,” katanya, dikutip dari Politico.
Rubio mengakui bahwa permintaan senjata pertahanan udara dari Ukraina harus diseimbangkan dengan kebutuhan AS dan sekutu lainnya. Menurutnya, AS juga sudah meningkatkan stok senjata tersebut berkat perang Iran dan kebutuhan sekutu AS lainnya.
























