Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Brasil Setop Ekspor Unggas ke China, Kenapa?

3 min read
Brasil Setop Ekspor Unggas ke China, Kenapa?
Bendera Brazil (unsplash.com/Matheus Câmara da Silva)
  • Brasil menghentikan sementara ekspor unggas ke China setelah virus Newcastle terdeteksi di peternakan kalkun Nova Itaberaba, Santa Catarina, sesuai kesepakatan standar kesehatan hewan kedua negara.
  • China membatasi unggas dari Santa Catarina, sementara Brasil menutup peternakan, memusnahkan 6.000 kalkun, menetapkan darurat 60 hari, dan mengawasi 133 peternakan di sekitar lokasi.
  • Kementerian Pertanian Brasil menyatakan pasokan dan mutu daging unggas tetap terjaga karena kalkun terpapar telah diisolasi dan tidak masuk rumah potong maupun pasar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Brasil menghentikan sementara pengiriman produk unggas ke pembeli terbesarnya, China, setelah menemukan kasus penyakit Newcastle di sebuah peternakan di Negara Bagian Santa Catarina. Langkah penangguhan ini diambil guna mematuhi kesepakatan bersama terkait standar kesehatan hewan antarkedua negara.

Kementerian Pertanian dan Peternakan Brasil mengonfirmasi bahwa virus menular tersebut terdeteksi pada peternakan kalkun di wilayah Nova Itaberaba. Untuk mencegah penularan meluas, pihak berwenang langsung menutup lokasi peternakan, membatasi pergerakan unggas, dan menetapkan status darurat kesehatan hewan di kawasan tersebut.

  1. 1. Penghentian sementara ekspor unggas Brasil ke China

    Penghentian kiriman unggas ini merupakan langkah pencegahan wajib sesuai perjanjian dagang kedua negara. Berdasarkan aturan tersebut, negara pengekspor harus menghentikan pengiriman secara sukarela begitu penyakit ditemukan sebelum adanya larangan resmi dari negara tujuan.

    Ketua Asosiasi Protein Hewan Brasil, Ricardo Santin, menjelaskan bahwa langkah mandiri ini penting demi menjaga kepercayaan pasar dan memberi waktu bagi pemerintah untuk menyiapkan data teknis. Hasil perundingan Brasil pun berhasil membuat bea cukai China hanya membatasi unggas asal Santa Catarina, bukan melarang produk dari seluruh wilayah Brasil.

    Di sisi lain, beberapa negara rekanan menerapkan kebijakan yang berbeda. Meksiko menolak seluruh pasokan unggas dan produk olahannya dari seluruh wilayah Brasil, sedangkan Cile hanya membatasi produk unggas asal Santa Catarina.

  2. 2. Penutupan peternakan kalkun dan penetapan status darurat

    Penyakit ini pertama kali terdeteksi pada peternakan yang memelihara sekitar 6.000 ekor kalkun pedaging saat pemeriksaan rutin karantina pada akhir September hingga pertengahan Oktober. Pemeriksaan laboratorium rujukan kesehatan hewan di São Paulo mengonfirmasi keberadaan virus penyebab penyakit Newcastle pada unggas tersebut.

    Meskipun hasil uji dinyatakan positif, kawanan kalkun di peternakan itu tidak menunjukkan gejala sakit ataupun kematian mendadak.

    "Virus ini tidak menimbulkan tanda-tanda sakit pada kalkun, tetapi keberadaannya memang terbukti ada dalam sampel yang diperiksa," ujar Kepala Badan Karantina Hewan Santa Catarina, Celles Regina de Matos, dilansir The Rio Times.

    Sesuai dengan pedoman internasional, petugas langsung memusnahkan 6.000 kalkun dan membersihkan area kandang secara menyeluruh. Pemerintah pusat kemudian menetapkan masa darurat selama 60 hari di Nova Itaberaba dan beberapa wilayah sekitarnya, sembari mengawasi ketat 133 peternakan yang berada di dekat lokasi temuan.

  3. 3. Jaminan keamanan daging unggas bagi masyarakat

    Kementerian Pertanian memastikan bahwa temuan kasus pada peternakan kalkun ini tidak mengganggu pasokan maupun mutu daging unggas di pasaran. Seluruh kalkun yang terpapar virus telah diisolasi sejak awal dan dipastikan tidak pernah masuk ke rumah potong hewan ataupun dijual kepada warga.

    Menteri Pertanian dan Peternakan André de Paula juga meminta masyarakat untuk tetap tenang terkait konsumsi produk unggas olahan resmi.

    "Daging unggas yang sudah lolos pemeriksaan resmi dipastikan aman dan tidak membahayakan kesehatan masyarakat," tutur André de Paula.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More