BMKG: Cuaca Ekstrem Masih Berpotensi Terjadi hingga 26 Januari 2026

- Memasuki 22 Januari, hujan lebat masih berpotensi terjadi di Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Kondisi ini kemudian berlanjut pada 23 Januari di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, serta NTT.
- BMKG mencatat potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah Indonesia, dengan intensitas tertinggi di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 24 Januari.
- Selanjutnya, wilayah Bali, NTB, dan NTT diperkirakan mengalami peningkatan curah hujan pada 25 hingga 26 Januari 2026.
Jakarta, IDN Times – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat, kilat, dan angin kencang diperkirakan berlangsung bertahap hingga 26 Januari 2026 di sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer, BMKG memetakan sebaran cuaca ekstrem secara bergantian di wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Masyarakat diminta mewaspadai potensi banjir, tanah longsor, dan gangguan transportasi selama periode tersebut.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan, peningkatan curah hujan dipicu oleh gangguan atmosfer yang mendorong pertumbuhan awan konvektif secara signifikan, khususnya di wilayah selatan Indonesia.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun tetap meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang akhir Januari ini. Dinamika atmosfer saat ini memang menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan Indonesia, namun dengan kesiapsiagaan yang baik dan terus memantau informasi resmi dari BMKG, kita dapat meminimalisir risiko bencana,” kata Faisal di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
1. Pemetaan potensi yang terjadi hingga 26 Januari 2026

BMKG mencatat, pada 21 Januari 2026, potensi cuaca ekstrem diperkirakan terjadi di Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).
Memasuki 22 Januari, hujan lebat masih berpotensi terjadi di Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Kondisi ini kemudian berlanjut pada 23 Januari di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, serta NTT.
BMKG memperkirakan intensitas cuaca ekstrem akan lebih terfokus di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 24 Januari 2026. Selanjutnya, wilayah Bali, NTB, dan NTT diperkirakan mengalami peningkatan curah hujan pada 25 hingga 26 Januari 2026.
2. Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer, salah satunya Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia dengan kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot atau 28 kilometer per jam dan tekanan udara 1001 hektopascal.
“Pergerakan sistem 97S ke arah barat dapat memicu penguatan pertemuan serta belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara, yang dapat memicu peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan,” ujar Andri.
3. Penguatan Monsun Asia hingga 23 Januari yang disertai seruakan dingin (cold surge)

Selain itu, penguatan Monsun Asia hingga 23 Januari yang disertai seruakan dingin (cold surge), serta aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby, dan Kelvin yang didukung nilai OLR negatif, turut memperkuat pembentukan awan hujan di wilayah terdampak.
BMKG menegaskan kondisi cuaca bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer terkini.
















