Kala Menghirup Aroma Medan Tempur, Degup Jantung dan Peluru Bersautan
- Workshop dua hari TNI AU dan Korpasgat melatih jurnalis menghadapi situasi konflik, menekankan pentingnya keselamatan dengan pesan utama: tak ada berita seharga nyawa.
- Peserta merasakan simulasi perang kota melalui latihan Close Quarter Battle, mengenakan perlengkapan tempur dan menghadapi dentuman peluru hampa yang menggambarkan ketegangan nyata di medan pertempuran.
- Dalam patroli hutan, jurnalis belajar bertahan di kondisi ekstrem sambil memahami risiko lapangan yang dihadapi prajurit, menumbuhkan rasa hormat terhadap tugas berat penjaga kedaulatan negara.
Jakarta, IDN Times – Tak ada yang benar-benar bisa mempersiapkan diri untuk mendengar suara tembakan dari jarak dekat. Bahkan, ketika tahu peluru yang digunakan hanya peluru latihan, dentumannya tetap mampu membuat dada bergetar dan jantung berdetak cepat.
Selama dua hari mengikuti workshop Liputan di Daerah Konflik bagi Jurnalis Media Massa, sejumlah jurnalis diajak keluar dari zona nyaman. Bukan lagi sekadar mencatat peristiwa atau mengambil gambar dari kejauhan, mereka merasakan langsung bagaimana kerasnya situasi yang kerap dihadapi prajurit saat bertugas di wilayah konflik.
Acara yang digelar TNI AU melalui Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispenau) dan Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) itu dimulai sejak Kamis, 11 Juni 2026 pagi hingga hari ini, Sabtu (13/6/2026).
Di Brigade Parako 1 Pasgat, Jakarta Timur, pengalaman itu datang dalam bentuk simulasi perang kota dan patroli hutan. Sebuah kesempatan langka yang membuat para jurnalis memahami satu hal penting: di balik setiap berita dari daerah konflik, ada risiko besar yang sering kali tak terlihat oleh pembaca.
1. Belajar bahwa tidak ada berita seharga nyawa
Hari pertama dimulai bukan dengan suara tembakan, melainkan pelajaran tentang ketahanan mental. Para peserta mendapatkan pembekalan psikologi lapangan dari Dinas Psikologi Angkatan Udara.
Di ruang kelas hingga lapangan, para jurnalis diajak memahami pentingnya kerja sama tim, disiplin, hingga menjaga kepercayaan terhadap rekan satu regu. Sebab di medan konflik, kesalahan kecil bisa berujung fatal.
Materi berikutnya disampaikan prajurit Korpasgat yang berpengalaman bertugas di berbagai situasi berisiko tinggi. Dari mereka, para peserta belajar mengenai prosedur peliputan di daerah konflik, mulai dari posisi aman saat meliput hingga cara membaca situasi di lapangan.
Ada satu kalimat yang terus diulang sepanjang pelatihan dan terasa membekas di kepala para peserta. "Tak ada berita seharga nyawa".
Kalimat sederhana itu terdengar seperti pengingat sekaligus batas. Sebab, seberapa pun pentingnya sebuah informasi, keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama.
Demi menjaga nyawa jurnalis sebagai masyarakat sipil, TNI pun memastikan tak menutup opsi misi yang awalnya direncanakan patroli, terkadang bisa berubah menjadi penyelamatan. Tujuannya untuk memastikan jurnalis tetap aman.
2. Ketika perang kota terasa begitu dekat

Keesokan harinya, teori berganti praktik. Helm tempur dan rompi taktis mulai dikenakan. Sekilas terlihat sederhana, tetapi bobotnya langsung terasa ketika menempel di badan.
Rompi antipeluru berbobot sekitar 3,5 kilogram, sedangkan helm tempur sekitar satu kilogram. Dalam hitungan menit saja, banyak peserta mulai merasakan pundak pegal dan napas lebih berat.
Namun, tantangan sebenarnya baru dimulai ketika memasuki arena Close Quarter Battle (CQB), simulasi pertempuran jarak dekat yang lazim terjadi dalam perang kota.
Bangunan berbahan besi dan baja yang dipenuhi tumpukan ban berisi pasir menjadi latarnya. Bersama sembilan prajurit Korpasgat, lima jurnalis dalam satu kelompok bergerak menyusuri lorong demi lorong yang sempit.
Pintu didobrak. Tiga prajurit terdepan masuk lebih dulu mengamankan ruangan. Yang lain mengikuti dari belakang sambil menjaga posisi awak media di tengah formasi.
"Merunduk, awas tetap di dinding," terdengar instruksi komandan regu.
Langkah demi langkah berlangsung dalam keheningan yang tegang. Para prajurit berkomunikasi lewat bisikan pendek yang nyaris tak terdengar. Lalu tiba-tiba, dentuman senjata memecah suasana.
Suara peluru hampa kaliber 5,56 mm NATO yang ditembakkan terdengar keras menggema di dalam bangunan. Meski hanya simulasi, sensasinya membuat tangan yang memegang kamera terasa sedikit gemetar.
Di tengah ketegangan itu, para jurnalis tetap dituntut menjalankan tugasnya: mengamati, mendokumentasikan, dan mencatat setiap peristiwa.
Saat seorang musuh simulasi berhasil dilumpuhkan dan seorang prajurit berbisik, "Clear." Kami pun menghela napas panjang. Namun rasa lega itu hanya berlangsung sesaat, sebelum rombongan kembali bergerak menuju titik berikutnya.
Kurang lebih 10 menit simulasi berlangsung. Waktu yang singkat, tetapi cukup untuk memberikan gambaran betapa rumit dan begitu menegangkan meliput perang dari jarak dekat.
3. Dari ilalang tinggi hingga berlindung di balik tanah
Jika perang kota menghadirkan ancaman dari balik tembok dan sudut ruangan, patroli hutan menawarkan tantangan berbeda. Siang itu, sekitar 30 jurnalis bersama prajurit Korpasgat menyusuri area kebun yang dipenuhi ilalang tinggi dan pepohonan rindang. Dua regu bergerak beriringan, sementara prajurit di bagian depan bertugas memastikan jalur aman dari ancaman musuh.
Tidak ada percakapan santai. Setiap peserta diminta tetap siaga dan menjaga suara serendah mungkin. Beberapa kali langkah harus terhenti, karena instruksi dari komandan regu. Saat suara tembakan terdengar, seluruh peserta diminta segera mencari perlindungan.
Tubuh menempel ke tanah, bersembunyi di balik gundukan tanah dan rerumputan. Dalam posisi seperti itu, tantangan ternyata bukan hanya ancaman musuh.
Serangga-serangga kecil mulai muncul dari sela rerumputan.
"Ada laba-laba di belakang rompi," ujar seorang jurnalis kepada rekannya.
Di sudut lain, terdengar bisikan lain yang tak kalah jujur. "Gatel-gatel banget siku tangan, dan leher."
Namun, ketika suara rentetan tembakan kembali terdengar dari kejauhan, rasa gatal itu tak ada apa-apanya.
Kami bersembunyi di sebuah cekungan tanah. Di sekeliling, para prajurit TNI berjaga sambil membalas tembakan simulasi. Suara ledakan dan rentetan senjata terdengar bertubi-tubi.
Pada momen itu, keinginan untuk mengambil gambar nyaris hilang sepenuhnya. Pikiran hanya tertuju pada satu hal: bagaimana tetap aman.
Setelah situasi dinyatakan kondusif, seluruh peserta kembali berkumpul. Saatnya Evaluasi.
Salah satu catatan dari instruktur Korpasgat adalah para jurnalis masih keliru dan lambat saat merespons suara tembakan. Seharusnya, begitu mendengar tembakan, langkah pertama adalah langsung tiarap, bukan berlari mencari perlindungan.
Pelatihan akhirnya berakhir sore itu. Namun, yang tersisa bukan hanya catatan dan dokumentasi, melainkan juga pemahaman baru tentang beratnya tugas para prajurit yang menjaga kedaulatan negara.
Sebab, setelah dua hari mengenakan helm dan rompi tempur, berjalan di bawah terik matahari, merunduk, berlari, hingga tiarap di tanah, rasa pegal di pundak dan pinggang saja sudah cukup menguras tenaga.
Sulit membayangkan bagaimana para prajurit TNI harus menjalani semua itu dalam operasi yang sesungguhnya, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, dengan risiko yang jauh lebih nyata daripada sekadar simulasi. Di sanalah rasa hormat itu tumbuh, bukan dari cerita, melainkan dari pengalaman yang dirasakan sendiri.
Respect buat prajurit TNI, terima kasih TNI AU atas kesempatannya mencoba pengalaman baru ini!


















