Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Karhutla dalam Dimensi Ekoteologi, Masyarakat Juga Harus Berperan

3 min read
Karhutla dalam Dimensi Ekoteologi, Masyarakat Juga Harus Berperan
Manggala Agni melakukan pemadaman Karhutla di Kalimantan (dok. Kemenhut)
  • Asap karhutla dari Kalimantan dan Sumatra mengganggu masyarakat lokal, Malaysia, serta Singapura.

  • Kesadaran, moral, dan nilai agama disebut penting dalam menjaga serta mengelola hutan.

  • Relawan membantu pemadaman di Palangka Raya dengan pengalaman dan peralatan untuk menangani lahan gambut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bencana kebakaran lahan dan hutan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan dan Sumatra tak cuma menjadi perhatian di skala nasional. Lebih jauh, karhutla sudah menjadi sorotan negeri jiran karena asapnya sudah mencapai Malaysia dan Singapura.

Masyarakat di Malaysia dan Singapura sudah cukup terganggu dengan asap karhutla yang muncul dari wilayah Kalimantan dan Sumatra. Kehidupan masyarakat lokal pun terganggu karena asap terlalu pekat hingga menimbulkan gangguan pernapasan dan lainnya.

  1. 1. Tugas manusia memang memelihara alam

    IMG_9275.jpeg
    Relawan bantu padamkan api karhutla di Kalteng. (IDN Times/istimewa).

    Guru Besar UIN Palangka Raya, Normuslim, menyatakan bahwa karhutla sebenarnya bisa dihindari lewat kesadaran. Dia menyatakan jika seluruh elemen memahami hubungannya dengan alam dari konteks keagamaan, maka masalah tersebut bisa dihindari.

    "Sebagai manusia, kita diciptakan oleh Allah, dengan dua tujuan. Pertama, Allah menciptakan kita sebagai pengabdi, yakni untuk Allah. Kemudian yang kedua, kita selaku manusia bertujuan sebagai khalifah di muka bumi. Apa artinya? Yakni pemimpin, pemelihara, pengelola bumi ini, mengelola alam ini dengan baik," ujar Normuslim, dalam keterangannya.

  2. 2. Moral jadi landasan dasar

    IMG_9274.jpeg
    Relawan bantu padamkan api karhutla di Kalteng. (IDN Times/istimewa).

    Moral, menurut Nurul Fajar Desira, Dewan Pakar Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, merupakan kunci utama dalam pengelolaan hutan. Dijelaskan Nurul, nilai agama memberikan landasan etik agar manusia bisa bersikap lebih bijak dalam berinteraksi dengan alam. Jika itu dilakukan, maka hutan bisa memberikan manfaat.

    "Keberlanjutan membutuhkan empat hal yang berjalan bersama, yaitu alam yang dijaga, nilai hidup di masyarakat, keterlibatan, dan manfaat ekonomi. Ketika keempatnya berjalan bersama, konservasi alam menjadi bagian dari kehidupan sekaligus sumber kesejahteraan," kata Nurul.

  3. 3. Tindakan relawan jadi bentuk nyata penerapan ekoteologi

    IMG_9273.jpeg
    Asrul, Relawan asal Kalbar bantu padamkan karhutla di Kalteng. (IDN Times/istimewa).

    Peran masyarakat sebenarnya sudah tercermin dari aksi sejumlah relawan yang turun langsung ke wilayah terdampak karhutla. Salah satunya adalah Asrul Putra Nanda, yang rela bergerak dari Pontianak bersama lima relawan lainnya dari Rumah Zakat Kalimantan Barat untuk membantu pemadaman karhutla di Palangka Raya.

    Berbekal pengalaman menangani karhutla di Kalbar, Asrul dan tim datang untuk membantu upaya pemadaman sekaligus berbagi pengetahuan dengan tim gabungan di lapangan. Mereka juga membawa nozzle tanam, peralatan untuk menjangkau bara api di bawah permukaan tanah, terutama pada lahan gambut.

    Mereka menyatakan, tindakannya didasari atas alasan kemanusiaan dan merasa perlu hadir untuk membantu sesama agar mendapatkan kehidupan yang layak dengan memadamkan api di hutan sekitar.

    Anggota riset dari Graduate School of Sustainable Development Universitas Indonesia, Jelang Ramadhan, menyatakan tindakan Asrul dan kawan-kawan mencerminkan penerapan ekoteologi dalam mengatasi karhutla di Palangka Raya.

    "Kebakaran hutan dan lahan sebagian besar disebabkan oleh tangan manusia. Jangan lagi ada kebakaran hutan yang disengaja demi kepentingan korporasi yang sangat merugikan masyarakat Kalimantan dan ASEAN. Jika tidak ada tindakan kuat dari pemerintah, sudah seharusnya masyarakat yang bergerak," ujar Ramadhan.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More