Korban Keracunan MBG di Duren Sawit Terus Bertambah, Kini Ada 104 Orang

- Total korban keracunan Program Makan Bergizi Gratis di Duren Sawit mencapai 104 orang, dengan 37 pasien masih dirawat di berbagai rumah sakit Jakarta Timur.
- Dinas Kesehatan DKI menjelaskan lama perawatan berbeda karena respons tubuh tiap individu dipengaruhi usia, daya tahan tubuh, dan jumlah makanan yang dikonsumsi.
- Dugaan awal penyebab keracunan berasal dari jeda waktu panjang antara proses memasak dan distribusi makanan, meski hasil laboratorium resmi belum diumumkan.
Jakarta, IDN Times - Korban Keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2, Duren Sawit, Jakarta Timur terus bertambah.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengatakan, sampai saat ini lebih dari 100 orang yang mengakses fasilitas kesehatan pascainsiden keracunan pada Kamis (2/4/2026) sore.
"Korbannya ada 100-an. Hari ini yang dirawat tinggal 37 orang, dari sebelumnya semuanya ada 104 yang akses rumah sakit ya. Dari 104 itu kan gak semuanya rawat inap, ada yang datang terus boleh pulang gitu. Beberapa dirawat," ujar Ani di Balai Kota, Rabu (8/5/2026).
1. Sebanyak 37 korban masih dirawat

Ani merinci, jumlah pasien yang masih dirawat terus menurun dibandingkan hari sebelumnya yang masih berada di kisaran 60 orang. Per Rabu pagi pukul 08.00 WIB, tersisa 37 pasien yang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.
Sebanyak 7 pasien dirawat di Duren Sawit, 6 orang di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, dan 19 orang di RS Harum. Sementara itu, masing-masing satu pasien dirawat di RS UIN Syarif Hidayatullah, RS Polri, RS Budhi Asih, RS Hermina Jatinegara, dan RSUD Tarakan.
“Pada prinsipnya semuanya tinggal pemulihan saja,” kata dia.
2. Respons tubuh tiap orang berbeda

Ani mengatakan, perbedaan lama perawatan dipengaruhi respons tubuh masing-masing individu. Faktor usia, daya tahan tubuh, hingga jumlah makanan yang dikonsumsi menjadi penentu tingkat keparahan gejala.
“Respons setiap orang beda-beda. Kita tunggu sampai benar-benar stabil, sudah tidak panas, tidak muntah, tidak diare, semua keluhannya hilang, baru boleh pulang,” kata dia.
3. Dugaan awal jeda waktu pemberian makanan

Terkait evaluasi, Ani mengatakan, program MBG merupakan program pemerintah pusat, sementara Dinas Kesehatan berperan dalam pembinaan dan pengawasan.
Dia memastikan, sebelumnya seluruh penjamah makanan di SPPG telah mendapatkan pelatihan serta mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Namun, pengawasan tetap harus dilakukan secara konsisten setiap hari.
“Harus dipastikan kepatuhan terhadap bahan yang tidak terkontaminasi, proses pengolahan yang benar, dan distribusinya,” ujar dia.
Meski hasil laboratorium masih belum keluar, Dinkes memiliki dugaan awal terkait penyebab insiden tersebut, yakni jeda waktu yang terlalu lama antara makanan selesai dimasak hingga didistribusikan.
“Dari analisis sementara, kemungkinan ada jarak waktu yang cukup lama antara makanan matang sampai didistribusikan. Karena sebagian besar korban adalah yang makan siang,” ucap Ani.



















