Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

LPEM UI: Perjalanan Prabowo ke Luar Negeri Hasilkan Emisi 10.002 Ton

LPEM UI: Perjalanan Prabowo ke Luar Negeri Hasilkan Emisi 10.002 Ton
Pesawat Kepresidenan Prabowo Subianto dikawal pesawat tempur TNI AU (dok. TNI AU)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • LPEM FEB UI mencatat perjalanan luar negeri Presiden Prabowo sejak Oktober 2024 menghasilkan sekitar 10.002 ton CO2, setara lebih dari 3.500 kali emisi tahunan rata-rata warga Indonesia.
  • Selama periode tersebut, Prabowo melakukan 54 kunjungan ke 29 negara dengan total 83 leg penerbangan menggunakan tiga jenis pesawat berbeda, menghasilkan emisi tertinggi pada September 2025.
  • LPEM memperkirakan butuh lebih dari 400 ribu pohon untuk menyerap emisi itu dan menilai solusi dekarbonisasi penerbangan masih terbatas karena teknologi SAF dan baterai belum siap diterapkan luas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan, total emisi karbon dari perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto sejak Oktober 2024 mencapai 10.002,72 ton karbon dioksida (CO2).

Angka tersebut dipublikasikan dalam Greenflag Series LPEM FEB UI yang menyoroti dampak emisi dari aktivitas penerbangan. Berdasarkan perhitungan lembaga itu, total emisi dari perjalanan luar negeri Prabowo setara sekitar 3.500 kali emisi tahunan rata-rata seorang warga Indonesia.

Table of Content

1. Penerbangan dinilai menjadi sektor yang sulit ditekan emisinya

1. Penerbangan dinilai menjadi sektor yang sulit ditekan emisinya

ilustrasi pesawat terbang (unsplash.com/Hanson Lu)
ilustrasi pesawat terbang (unsplash.com/Hanson Lu)

LPEM FEB UI menjelaskan, sektor penerbangan menjadi salah satu penyumbang emisi global yang signifikan. Sebelum pandemi COVID-19, industri penerbangan menyumbang sekitar 2,5 persen emisi CO2 dunia.

Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 3,5 hingga 4 persen jika memperhitungkan dampak non-CO2, seperti contrail atau jejak kondensasi pesawat serta emisi nitrogen oksida (NOx) di atmosfer bagian atas.

Menurut LPEM, upaya dekarbonisasi sektor penerbangan menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya karena avtur memiliki kemampuan menyimpan energi sekitar 40 kali lebih besar dibandingkan baterai paling canggih yang tersedia saat ini, sehingga teknologi baterai dinilai belum mampu menjadi solusi untuk penerbangan jarak jauh.

Selain itu, peningkatan efisiensi pesawat yang berkisar 1-2 persen per tahun dinilai belum mampu mengimbangi pertumbuhan jumlah penumpang global yang mencapai sekitar 4-5 persen per tahun. Dampak emisi di lapisan atmosfer atas juga disebut menambah efek pemanasan yang kerap tidak tercermin dalam perhitungan emisi karbon konvensional.

LPEM mencontohkan kasus penyanyi pop dunia Taylor Swift yang sempat menjadi sorotan karena jet pribadinya menghasilkan sekitar 8.300 ton CO2 sepanjang 2022. Pendekatan serupa kemudian digunakan untuk menghitung emisi dari perjalanan dinas Prabowo.

2. Prabowo tercatat melakukan 54 kunjungan ke 29 negara

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto disambut dengan upacara jajar kehormatan setibanya di Bandar Udara Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) Subang, Minggu malam (25/5). (dok. Tim Komunikasi Prabowo)
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto disambut dengan upacara jajar kehormatan setibanya di Bandar Udara Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) Subang, Minggu malam (25/5). (dok. Tim Komunikasi Prabowo)

LPEM FEB UI mencatat, Prabowo telah melakukan 54 kunjungan luar negeri sejak kunjungan kenegaraan pertamanya pada Oktober 2024. Dari kunjungan tersebut, Presiden mengunjungi 29 negara melalui total 83 leg penerbangan.

Malaysia menjadi negara yang paling sering dikunjungi dengan lima kali kunjungan. Selanjutnya Prancis dan Inggris masing-masing empat kali, sementara Rusia dan Brasil masing-masing tiga kali kunjungan.

Dalam perjalanannya, Presiden menggunakan tiga jenis pesawat, yakni Boeing 737-700 BBJ untuk 41 leg penerbangan, Boeing 777-300ER untuk 38 leg, dan Airbus A330-200 sewaan Comlux untuk empat leg penerbangan.

LPEM mengadopsi metode yang digunakan Bansal (2021) untuk menghitung emisi. Perhitungan dilakukan dengan menentukan jarak antarbandara menggunakan metode great-circle distance atau Haversine, kemudian menambahkan 10 persen untuk memperhitungkan kebutuhan rute penerbangan dan faktor operasional lainnya.

Jarak tersebut digunakan untuk menghitung waktu tempuh berdasarkan kecepatan jelajah masing-masing pesawat. Selanjutnya, konsumsi bahan bakar dihitung dari waktu terbang dan rata-rata penggunaan bahan bakar per jam. Hasilnya kemudian dikalikan dengan faktor emisi ICAO sebesar 3,16 kilogram CO2 per kilogram bahan bakar.

Dari hasil perhitungan tersebut, LPEM memperkirakan total emisi perjalanan luar negeri Presiden Prabowo mencapai 10.002,72 ton CO2.

Emisi bulanan tertinggi tercatat pada September 2025 ketika Prabowo melakukan 10 leg penerbangan ke tujuh negara, mulai dari Doha hingga Amerika Serikat. Aktivitas perjalanan pada bulan itu diperkirakan menghasilkan 1.609 ton CO2.

LPEM menyebut, jumlah emisi tersebut setara lebih dari 3.500 kali rata-rata emisi tahunan per kapita Indonesia yang sebesar 2,87 ton CO2. Angka itu juga lebih dari 2.400 kali rata-rata emisi tahunan per kapita global yang mencapai 4,7 ton CO2.

3. Butuh lebih dari 400 ribu pohon untuk menyerap emisi

Ilustrasi hutan dan pohon
Ilustrasi hutan dan pohon (IDN Times/Dhana Kencana)

LPEM FEB UI memperkirakan diperlukan lebih dari 400 ribu pohon untuk menyerap seluruh emisi karbon yang dihasilkan dari perjalanan luar negeri Presiden Prabowo dalam kurun satu tahun.

Kajian tersebut juga menghitung nilai ekonomi emisi yang dihasilkan. Dengan menggunakan harga izin karbon Uni Eropa per 29 Mei 2026 sebesar 80,63 euro per ton dan kurs Rp20.500 per euro, total emisi 10.002,72 ton CO2 itu setara dengan sekitar Rp16,53 miliar.

LPEM menilai, temuan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan perjalanan Presiden, tetapi juga menunjukkan adanya biaya lingkungan yang muncul dari aktivitas penerbangan dan sering kali tidak terlihat secara langsung.

Berbagai upaya untuk menekan emisi penerbangan sebenarnya telah dilakukan, mulai dari pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) hingga peningkatan efisiensi teknologi pesawat. Namun, sebagian besar solusi tersebut dinilai masih membutuhkan waktu sebelum dapat diterapkan secara luas.

Dalam kajiannya, LPEM mencatat produksi SAF global saat ini masih terbatas dan relatif mahal. Produksinya baru mencapai sekitar 1,9 juta liter atau memenuhi sekitar 0,6 persen dari kebutuhan industri penerbangan dunia.

Selain itu, penggunaan baterai listrik pada pesawat jarak jauh masih menghadapi kendala teknologi. Baterai dinilai belum mampu menggantikan avtur karena kebutuhan ukuran dan bobot yang terlalu besar untuk mendukung penerbangan jarak jauh.

Karena itu, LPEM menyebut pilihan transportasi dengan emisi lebih rendah serta pengurangan perjalanan yang tidak diperlukan masih menjadi langkah yang paling memungkinkan untuk dilakukan dalam jangka pendek guna menekan emisi dari sektor transportasi udara.

Share Article
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
Eddy Rusmanto
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah

Related Articles

See More