Menko Luhut Minta Warga Tak Curi Alat Pendeteksi Tsunami

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator bidang kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan mewanti-wanti publik agar tidak mencuri buoy (pelampung) yang digunakan sebagai alat pendeteksi dini bencana tsunami. Alat deteksi tsunami berteknologi tinggi seharusnya dipasang di sepanjang kawasan pesisir Indonesia yang rawan bencana.
Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan absennya alat-alat itu membuat upaya pencegahan jatuhnya korban jiwa yang dilakukan oleh pemerintah menjadi lemah. Hal ini, juga berlaku untuk kejadian tsunami yang menerjang Palu pada Jumat (28/9).
"Buoy tsunami tidak ada lagi di Indonesia. Padahal, itu diperlukan untuk memastikan tsunami sebagai sistem peringatan dini," ujar Sutopo ketika memberikan keterangan pers pada Minggu (30/9) di kantor BNPB.
Lalu, apa kata Luhut?
"Kita juga harus mengingatkan masyarakat agar jangan buoy-buoy (pelampung) sebagai early warning system itu dicuri seperti yang terjadi di Aceh dan wilayah lain, karena akan menimbulkan jatuhnya korban jiwa," ujar Luhut di area Lubang Buaya, Jakarta Timur pada Senin (1/10).
Apakah peristiwa gempa dan tsunami di Palu membuat acara pertemuan Bank Dunia di Bali batal?
1. Pertemuan IMF dan Bank Dunia tetap digelar di Bali

Menurut Luhut, tidak ada perubahan dalam penyelenggaraan pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia yang digelar di Bali pada 10 Oktober 2018. Purnawirawan Jenderal TNI itu memastikan respons IMF-WB selaku penyelenggara sangat baik.
"Mereka masih sangat mempercayakan kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah," ujar Luhut pada pagi tadi.
Ia mengaku kerap berkomunikasi dengan penyelenggara di Washington. Mereka menanyakan kesiapan Indonesia pasca terjadi bencana hebat di Lombok dan Palu.
"Kita bilang bahwa Indonesia selalu siap. Kita tunjukkan bahwa Indonesia siap dan mampu menangani keadaan sulit sekalipun. Jadi, kita tunjukkan bahwa kita (sanggup) menangani (bencana gempa) Lombok, Palu kita dapat tangani dan IMF-WB juga mampu kita manage dengan baik," kata dia.
2. Menko Luhut mengajak publik agar jangan larut dalam kesedihan pasca gempa di Palu

Ia juga mengajak publik agar jangan larut dalam kesedihan. Namun, ia mengingatkan agar publik terus bergerak untuk memulihkan dan membangun infrastruktur di Palu.
Ia pun menegaskan peristiwa yang terjadi di Palu, belum membutuhkan status bencana nasional.
"Saya turut berduka cita untuk masyarakat yang tertimpa bencana. Tetapi, saya kira tidak perlu (penetapan bencana nasional), karena penanganan yang dilakukan sekarang, sudah lebih dari penetapan bencana nasional," kata pria yang sempat menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan.
Luhut pun memuji kesigapan Presiden Jokowi dalam menangani bencana gempa dan tsunami di Palu. Secara keseluruhan, ia menilai penanganan bencana dilakukan secara cepat dan terpadu.
"Langkah Presiden untuk melihat langsung sangat bagus sekali. Basarnas dan satgas BNPB sudah bagus sinerginya. Alat berat sudah datang, listrik dan air bersih sudah ada," kata Luhut.
Listrik dan air bersih, memang sudah ada, tetapi frekuensi berfungsinya masih sebentar. Sebagian besar dari warga menghabiskan malam dengan gelap gulita tanpa cahaya lampu.
3. Sebanyak 21 buoy hibah dari negara asing tidak berfungsi

Data dari BNPB, menyebut Indonesia semula memilki 21 buoy. Sebanyak 10 buah di antaranya diberikan oleh Pemerintah Jerman yang sepakat dengan German Indonesia Tsunami Early Warning System. Saat itu, Dubes Jerman untuk Indonesia, Georg Witschel menyebut total hibah itu mencapai Rp 610 miliar.
Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho pun mengakui semua bouy itu sudah tidak berfungsi sejak tahun 2012 lalu. Salah satu penyebab buoy tidak lagi berfungsi karena anggaran untuk BNPB terus menurun.
"Dulu anggaran hampir mendekati Rp 2 triliun. Sedangkan, sekarang anggaran hanya Rp 700 miliar," kata Sutopo.


















