Pengamat Pendidikan: Keracunan MBG akibat Dana Dikorupsi, Tidak Berkah!

- Pengamat pendidikan Darmaningtyas menilai kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis dipicu penyimpangan anggaran yang menurunkan kualitas makanan dan mencerminkan lemahnya integritas tata kelola.
- Ia mengusulkan kantin sekolah menjadi pelaksana utama MBG karena sudah melayani siswa, dapat menyesuaikan menu berdasarkan permintaan murid, serta mengikuti jam istirahat tanpa mengganggu pembelajaran.
- Jika tenaga kurang, sekolah dinilai dapat melibatkan Dasa Wisma setempat. Darmaningtyas juga menyoroti MBG yang disebut berdampak pada usaha kantin dan UMKM makanan sekitar sekolah.
Jakarta, IDN Times - Pengamat Pendidikan, Darmaningtyas menilai maraknya kasus keracunan yang terjadi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebabkan oleh adanya penyimpangan anggaran.
Menurutnya, pemotongan dana program berdampak langsung pada kualitas makanan yang disajikan kepada para siswa.
Darmaningtyas menegaskan bahwa kegagalan menjaga keamanan pangan dalam program ini berakar dari masalah integritas tata kelola anggaran.
"Keracunan itu akibat dananya dikorupsi sehingga tidak berkah, tidak membawa berkah, tapi membawa bencana" tegas Darmaningtyas saat dihubungi IDN Times, Rabu (16/9/2026).
1. MBG dilaksanakan oleh kantin

Menu MBG kebab ayam yang dikonsumsi para siswa. (IDN Times/Muhammad Nasir) Menurutnya, salah satu langkah konkret untuk mencegah keracunan sekaligus menghidupkan perekonomian di sekolah adalah dengan mengikutsertakan kantin sekolah sebagai pengelola utama.
"Pelaksanaannya itu, sejak awal saya mengusulkan libatkan kantin sekolah. Kenapa? Anak-anak itu kan makannya di sekolah. Sebelum ada MBG, anak-anak itu makan di kantin sekolah.Selama ini kantin sekolah tidak pernah menyebabkan keracunan," katanya.
2. Siswa bisa request makanan

Sejumlah siswi SMP IT Al Fateeh Tahfidz dan Entrepreneur, Pedurungan Semarang mengonsumsi masakan MBG. (IDN Times/bt) Lebih lanjut, Darmaningtyas menilai siswa juga bisa request menu ke kantin sehingga MBG tidak ada yang terbuang serta lebih hemat waktu dan tidak mengganggu pembelajaran.
"Menunya bisa dibicarakan dengan murid-murid.Besok mau menu apa?Jadi pasti kemakan. Pelaksanaannya disesuaikan dengan jam istirahat. Sekarang ini kan pelaksanaannya menyita waktu pembelajaran," katanya.
3. MBG bunuh UMKM dan kantin

Petugas SPPG Semarang Timur memakai masker saat memperlihatkan masakan ayam goreng dan sayur-mayur. (IDN Times/Fariz Fardianto) Darmaningtyas mengatakan pihak sekolah juga bisa melibatkan komunitas warga setempat, semisal Dasa Wisma apabila membutuhkan tenaga kerja.
"Kalau kurang cukup melibatkan kantin sekolah, libatkan Dasa Wisma setempat," ujar dia.
Darmaningtyas juga menyoroti dampak program MBG di sekolah yang tidak hanya pada usaha kantin, tapi juga Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di sekitar sekolah.
"Sekarang ini MBG itu membunuh usaha-usaha kantin maupun makanan di sekitar sekolah. Klaim bahwa MBG menciptakan sekian lapangan kerja, tapi di sisi lain MBG juga mematikan usaha jutaan kantin," ucapnya.





















