Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

China Tetapkan Zona Larangan Terbang di Beijing, Kenapa?

3 min read
China Tetapkan Zona Larangan Terbang di Beijing, Kenapa?
potret Kota Beijing, China (pexels.com/Kaca Pic)
  • Pemerintah China menetapkan zona larangan terbang dan melarang drone di sekitar Beijing demi memperkuat keamanan udara, menjaga ketertiban operasi penerbangan, serta melindungi target penting dan masyarakat.
  • Kebijakan mulai berlaku 20 September 2026, tetapi dikecualikan untuk penerbangan komersial dan darurat. Pemerintah meminta masyarakat memantau pengumuman untuk menghindari pelanggaran.
  • Langkah ini menyusul kecelakaan Juni ketika pesawat kecil menabrak CITIC Tower, merusak dua panel kaca. Investigasi mengungkap pilot berusia 66 tahun memiliki gangguan kecemasan dan insomnia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah China memutuskan untuk menetapkan zona larangan terbang di Ibu Kota Beijing. Selain itu, Negeri Tirai Bambu juga melarang penggunaan drone di seluruh wilayah udara yang ada di sekitar kota tersebut. Dalam pernyataannya, China mengatakan bahwa kebijakan ini diterapkan guna menjaga keamanan wilayah udara Beijing. 

"Untuk memperkuat manajemen keamanan wilayah udara di kawasan Ibu Kota (Beijing), menjaga ketertiban dalam operasi udara, dan melindungi target penting di darat serta nyawa dan harta benda masyarakat, China akan menetapkan zona larangan terbang di dalam dan sekitar ibu kota," demikian bunyi pernyataan Pemerintah China, seperti dikutip Jerusalem Post pada Senin (14/9/2026). 

  1. 1. Kebijakan tidak berlaku untuk penerbangan komersial dan penerbangan darurat

    Suasana di sebuah bandara.
    ilustrasi penerbangan komersial (pexels.com/Brett Sayles)

    Kendati demikian, China mengatakan bahwa kebijakan zona larangan terbang di wilayah udara Beijing tidak akan berlaku bagi penerbangan komersial dan penerbangan darurat. Namun, China tidak menjelaskan secara rinci jenis penerbangan seperti apa yang akan terdampak kebijakan tersebut. 

    China menambahkan, kebijakan ini akan berlaku efektif pada Minggu (20/9/2026) mendatang. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk mencermati pengumuman pemerintah terkait kebijakan ini. Hal ini diperlukan guna menghindari tindakan pelanggaran terhadap kebijakan yang telah berlaku di Beijing. 

  2. 2. Sebuah pesawat pernah menabrak gedung tertinggi di Beijing

    Gedung tertinggi di Kota Beijing, China, CITIC Tower.
    potret gedung tertinggi di Kota Beijing, China, CITIC Tower (pexels.com/sanynjez gao)

    Kebijakan zona larangan terbang ini dibuat China usai insiden kecelakaan pesawat yang terjadi pada Juni lalu. Ketika itu, pesawat kecil seukuran mobil menabrak gedung pencakar langit tertinggi di pusat bisnis dan keuangan Beijing. Insiden itu terjadi pada 26 Juni pukul 18.00 sore waktu setempat. Pesawat itu dikabarkan menghantam gedung 109 lantai milik perusahaan nasional China yang bergerak di bidang investasi dan keuangan, CITIC Group. 

    Usai insiden ini, sejumlah karyawan yang bekerja di CITIC Tower langsung dievakuasi ke luar. Polisi dan petugas penyelamat pun langsung sigap datang ke lokasi kejadian. Untuk alasan keamanan, kepolisian Beijing kala itu juga melarang para saksi untuk mengambil foto dan video yang terkait insiden tersebut.

  3. 3. Pesawat hancur berkeping-keping usai menghantam gedung CITIC Tower

    Pesawat kecil.
    potret pesawat kecil (pexels.com/Thomas Brown)

    Menurut jurnalis CNN yang saat itu meliput di lokasi kejadian, pesawat tersebut melenceng dari jalur penerbangan yang seharusnya. Kemudian, pesawat itu menghantam gedung CITIC Tower hingga merusak dua panel kaca yang ada di sana. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial X, pesawat itu langsung hancur berkeping-keping usai menabrak gedung CITIC Tower. 

    Usai dilakukan investigasi mendalam, polisi China menemukan bahwa pilot yang mengendarai pesawat tersebut merupakan pria tua berusia 66 tahun. Pria tersebut ternyata sudah lama punya penyakit mental berupa gangguan kecemasan. Lewat tulisan di buku hariannya, ia bahkan bercerita pernah beberapa kali berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Selain itu, sang pilot dikabarkan juga punya riwayat penyakit insomnia atau gangguan tidur. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More