Ratusan Karyawan Club De Arjuna Geruduk Balai Kota, Kami Butuh Makan!

Ratusan karyawan Club de Arjuna berunjuk rasa di Balai Kota Jakarta, mendesak Gubernur Pramono Anung membuka akses usaha yang tertutup tembok.
Sekitar 200 pekerja mengaku tak bisa bekerja selama empat bulan akibat akses tertutup, sehingga kehilangan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Koordinator aksi meminta Satpol PP membongkar tembok tanpa izin, sementara kepolisian sebelumnya telah mengosongkan lokasi dari ormas namun akses belum terbuka.
Jakarta, IDN Times – “Pak, mereka butuh makan! Mereka butuh kerja!” Teriakan itu menggema di depan pagar pintu keluar Pendopo Balai Kota Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Ratusan karyawan Club de Arjuna di kawasan Puri, Jakarta Barat, berunjuk rasa, mendesak Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung turun tangan membuka akses menuju tempat usaha mereka yang masih tertutup tembok.
Di balik aksi tersebut, ada sekitar 200 karyawan yang mengaku sudah empat bulan tidak bisa bekerja. Tembok yang menutup akses menuju tempat usaha itu membuat mereka kehilangan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Tempat kerja kami ditembok sama ormas, tapi Satpol PP sampai hari ini enggak berani rubuhin tembok itu,” ujar Koordinator Aksi, Venny Tresia.
1. Satpol PP diminta bongkar tembok tutup akses

Ratusan karyawan Club de Arjuna unjuk rasa di Balai Kota, Jumat (9/10/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Venny mengatakan penutupan akses tersebut membuta 200 karyawan tidak bisa bekerja selama empat bulan, otomatis kehilangan penghasilan.
"Kamu meminta Satpol PP DKI Jakarta membongkar tembok yang menghalangi akses agar kegiatan usaha dapat kembali berjalan," ucapnya.
2. Kantor sempat diduduki ormas

Ratusan karyawan Club de Arjuna unjuk rasa di Balai Kota, Jumat (9/10/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Venny mengapresiasi langkah kepolisian yang mengosongkan lokasi, setelah karyawan menggelar demonstrasi serupa pada Senin, 21 September 2026. Namun, pengosongan tersebut belum membuat para pekerja bisa kembali beraktivitas.
“Kami sangat berterima kasih kepada kepolisian yang telah mengusir keluar ormas dari tempat kerja kami. Tadinya tempat kerja kami diduduki oleh ormas, tapi sudah berhasil dikeluarkan oleh pihak kepolisian,” katanya.
3. Ratusan orang akan terdampak

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi DKI Jakarta, Satriadi Gunawan. (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Venny menegaskan, tuntutan utama demonstran saat ini adalah pembukaan akses menuju tempat usaha. Mereka tidak ingin mengambil tindakan sendiri dengan membongkar tembok karena khawatir justru menimbulkan persoalan hukum.
“Tidak mungkin kami bongkar sendiri, nanti kami yang kena masalah juga. Tolong Satpol PP yang berwenang, yang tugas mereka membongkar tembok tanpa izin loh,” katanya.
Menurut Venny, pemerintah daerah perlu segera mengambil tindakan karena proses penyelesaian sengketa lahan melalui jalur hukum dapat berlangsung lama. Sementara, para karyawan harus tetap memenuhi kebutuhan hidup dan keluarga mereka.
Venny memperkirakan dampak persoalan tersebut tidak hanya dirasakan oleh para pekerja, tetapi juga keluarga mereka.
“Ratusan orang, dengan istri dan anak itu bisa hampir 500, Pak! Tolong dengarkan, mereka butuh makan, mereka butuh kerja! Siapa yang memikirkan nasib mereka?” ucapnya.























