UNHCR Soroti 12 Ribu Pengungsi di Indonesia yang Hidup Tak Pasti

- UNHCR menyoroti 12 ribu pengungsi di Indonesia yang hidup dalam ketidakpastian panjang, sebagian menunggu lebih dari satu dekade tanpa kepastian penempatan atau kepulangan.
- Para pengungsi dari lebih 50 negara berupaya bertahan dengan membangun komunitas dan kegiatan sosial, menunjukkan kontribusi positif saat diberi ruang untuk berkembang.
- UNHCR mendorong peningkatan akses pendidikan dan pelatihan keterampilan agar pengungsi dapat membangun masa depan lebih mandiri sambil menunggu solusi jangka panjang.
Jakarta, IDN Times - Sebanyak 12 ribu pengungsi dan pencari suaka yang berada di Indonesia masih menghadapi ketidakpastian berkepanjangan. Sebagian dari mereka bahkan telah menunggu lebih dari satu dekade tanpa kepastian mengenai masa depan, mulai dari penempatan ke negara ketiga hingga kemungkinan kembali ke negara asal.
Kondisi tersebut mendapat sorotan UNHCR atau Badan Pengungsi PBB dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia 2026. UNHCR mengingatkan masa tunggu yang terlalu lama membuat banyak pengungsi kehilangan kesempatan untuk bekerja, belajar, dan membangun kehidupan yang lebih mandiri.
"Bagi para pengungsi, menunggu selama bertahun-tahun berarti terus kehilangan kesempatan. Hal itu membuat mereka putus asa dan kecewa. Namun, ketika diberikan kesempatan untuk memanfaatkan keterampilan, melanjutkan pendidikan, menjadi sukarelawan, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat, semua pihak akan diuntungkan," kata Senior Protection Officer UNHCR Indonesia, Emily Bojovic, dikutip Senin (22/6/2026).
1. Pengungsi di Indonesia berasal dari 50 negara

Saat ini, para pengungsi di Indonesia berasal dari lebih dari 50 negara, termasuk Afghanistan, Myanmar, Somalia, Sudan, Yaman, Irak, Sri Lanka, dan Palestina. Mereka datang untuk mencari perlindungan dari konflik, perang, maupun penganiayaan di negara asal.
UNHCR menyebut persoalan pengungsian berkepanjangan tidak hanya terjadi di Indonesia. Berdasarkan Laporan Global Trends, tujuh dari sepuluh pengungsi di dunia hidup dalam situasi pengungsian jangka panjang dan menghabiskan bertahun-tahun jauh dari rumah sambil menunggu solusi permanen.
2. Bertahan dengan membangun komunitas dan kegiatan sosial

Di Indonesia, sejumlah pengungsi mencoba bertahan dengan membangun komunitas dan kegiatan sosial. Salah satunya Amed, pengungsi asal Somalia yang mendirikan organisasi komunitas untuk membantu pengungsi lain beradaptasi dengan kehidupan di Indonesia, dan menyediakan pendidikan informal bagi anak-anak pengungsi.
Ada pula Amina, pengungsi asal Afghanistan yang aktif melatih karate bagi anggota komunitasnya. Menurut UNHCR, kisah seperti mereka menunjukkan para pengungsi tetap dapat berkontribusi ketika diberi ruang untuk mengembangkan kemampuan dan terlibat dalam kehidupan sosial.
"Di UNHCR, kami melihat betapa besar dampaknya ketika para pengungsi punya kesempatan mewujudkan potensi dan berkontribusi bagi komunitas di sekitar mereka," ujar Emily.
3. UNHCR dorong akses pendidikan dan keterampilan bagi pengungsi

UNHCR menilai bantuan kemanusiaan memang penting untuk menyelamatkan nyawa, tetapi tidak cukup untuk membantu para pengungsi membangun kembali masa depan mereka.
Karena itu, organisasi tersebut mendorong berbagai pihak membuka lebih banyak akses pendidikan, pelatihan keterampilan, dan aktivitas sosial bagi para pengungsi yang masih menunggu solusi jangka panjang.
Bagi hampir 42 juta pengungsi di seluruh dunia, meninggalkan rumah bukanlah pilihan, melainkan keterpaksaan akibat perang, konflik, dan penganiayaan.


















