Apa Tujuan Korea Utara Sering Uji Coba Rudal?

- Korea Utara memamerkan 50 peluncur roket kaliber 600 mm berkemampuan nuklir sebagai simbol kekuatan militer menjelang Kongres ke-9 Partai Buruh di bawah kepemimpinan Kim Jong Un.
- Uji coba rudal dilakukan untuk memperkuat daya tangkal nuklir, melatih kesiapan tempur, serta memastikan keberlangsungan rezim melalui peningkatan kemampuan teknis dan penurunan tingkat kegagalan peluncuran.
- Peluncuran sering diselaraskan dengan agenda politik dan latihan militer AS-Korsel, menjadi alat propaganda domestik sekaligus pesan tegas terhadap pihak eksternal tentang kemajuan teknologi pertahanan Korut.
Jakarta, IDN Times - Korea Utara (Korut) yang selanjutnya disebut Korut kembali memamerkan kekuatan militernya lewat peluncur roket terbaru. Pemimpin Korut Kim Jong Un pada Rabu (18/2/2026) menampilkan 50 unit peluncur roket kaliber 600 mm yang diklaim mampu membawa hulu ledak nuklir dalam agenda resmi menjelang Kongres ke-9 Partai Buruh.
Dalam pidatonya, ia menyebut sistem tersebut sebagai salah satu senjata paling efektif untuk melancarkan serangan terkonsentrasi berkekuatan tinggi.
“Ketika senjata ini digunakan, sebenarnya tidak ada kekuatan yang bisa mengharapkan perlindungan Tuhan,” katanya, dikutip dari Al Jazeera.
Sepanjang sejarahnya, Korut telah melakukan lebih dari 300 peluncuran rudal sejak 1984. Di bawah kepemimpinan Kim sejak 2011, jumlahnya melonjak dengan lebih dari 272 peluncuran tercatat pada periode 2012 sampai 2025. Lantas, apa saja tujuan utama di balik rangkaian uji coba tersebut?
1. Korut memperkuat daya tangkal nuklir menjaga rezim

Korut mengandalkan rudal jarak pendek dan menengah seperti Scud dan Nodong yang telah teruji untuk melatih personel misil sekaligus memperlihatkan kesiapan tempur. Peluncuran kerap dilakukan hampir bersamaan di sejumlah lokasi latihan militer guna mensimulasikan serangan ke pangkalan Amerika Serikat (AS) di Korea Selatan (Korsel) dan Jepang.
Sistem roket 600 mm generasi anyar memiliki jangkauan sekitar 400 kilometer sehingga dapat menjangkau seluruh wilayah Korsel. Analis Hong Min dari Korea Institute for National Unification menyebut bahwa dengan hulu ledak nuklir taktis, satu baterai yang menembakkan empat hingga lima roket sudah cukup untuk menghancurkan satu pangkalan udara. Sasaran utamanya diarahkan pada kemampuan udara gabungan Korsel dan AS.
Kehadiran Kim secara langsung dalam berbagai latihan menjadi penegasan bahwa pasukan nuklir berada dalam kesiapan penuh, baik untuk pencegahan maupun pembalasan. Program rudal ini diposisikan sebagai fondasi untuk menghalangi campur tangan militer asing serta memastikan keberlangsungan pemerintahan.
2. Korut menyempurnakan teknologi rudal operasional

Persentase kegagalan peluncuran terus menurun dari masa ke masa. Tingkatnya berada di kisaran 50 persen hingga 1994, turun menjadi 23 persen pada periode 1994–2011, dan menyusut lagi menjadi sekitar 15 persen sejak 2011-2023. Penurunan itu mencerminkan peningkatan kemampuan teknis.
Pada era Kim, Korut memperkenalkan sejumlah sistem baru, termasuk rudal balistik berbahan bakar padat Hwasong-17, Hwasong-18, dan Hwasong-19. Selain itu, dikembangkan pula berbagai varian rudal balistik kapal selam, rudal jelajah teater, kendaraan luncur hipersonik, serta peluncur roket 600 mm yang telah terintegrasi kecerdasan buatan (AI) dan panduan majemuk.
Dilansir dari The Nuclear Theart Missile, lokasi pengujian pun mengalami pergeseran. Fasilitas lama seperti Tonghae kini lebih difokuskan untuk peluncuran luar angkasa, sementara uji coba rudal banyak dilakukan di Wonsan atau Kittaeryong dan fasilitas khusus baru lainnya. Sejumlah tes bahkan digelar langsung di lapangan latihan unit militer sebagai bagian dari tahap penyempurnaan sistem operasional.
3. Korut memanfaatkan uji coba untuk agenda politik

Dilansir dari Arms Control Center, Peluncuran rudal sering dijadwalkan berbarengan dengan latihan militer gabungan AS-Korsel seperti Freedom Shield maupun momen diplomatik tertentu. Di dalam negeri, aktivitas tersebut juga kerap dikaitkan dengan agenda politik penting termasuk kongres partai. Sistem yang telah matang biasanya diuji di hadapan Kim dengan dokumentasi visual serta pernyataan resmi yang menampilkan simulasi target pangkalan AS.
Pengumuman mengenai 50 peluncur roket baru dilakukan menjelang kongres partai. Momentum itu dipakai untuk menampilkan perkembangan militer sekaligus menguatkan narasi kekuatan nasional. Agenda tersebut juga menjadi bagian dari persiapan kebijakan luar negeri, rencana pertahanan, dan ambisi nuklir untuk lima tahun mendatang.
Langkah ini turut mempertebal legitimasi pemerintah di dalam negeri lewat pameran kemajuan teknologi militer. Secara bersamaan, Korut mengirimkan pesan tegas kepada pihak eksternal. Uji coba yang dilakukan secara terbuka dan berulang menjadi sarana propaganda untuk menunjukkan pembaruan kemampuan militer di tengah tekanan luar.


















